Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        RI Pusing Cari Sulfur, Tambang di Sumut Ini Punya 400 Ribu Ton

        RI Pusing Cari Sulfur, Tambang di Sumut Ini Punya 400 Ribu Ton Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Sulfur kini menjadi salah satu komoditas yang banyak dicari industri di tanah air. Bahan baku utama pembuatan asam sulfat itu dibutuhkan untuk pengolahan nikel, produksi pupuk, serta sejumlah kegiatan industri lainnya. Di sisi lain, pemenuhan kebutuhan nasional masih bertumpu pada pasokan dari luar negeri.

        Di tengah tingginya ketergantungan impor, PT Dairi Prima Mineral (DPM) mengungkapkan peluang produksi sulfur dari proyek tambang seng dan timah hitam di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Kapasitas produksinya diperkirakan mencapai 400 ribu ton per tahun.

        Technical Manager PT Dairi Prima Mineral, Widianto, menjelaskan sulfur akan diperoleh sebagai hasil pemisahan mineral dalam proses pengolahan bijih seng dan timah hitam.

        “Jumlah sulfur yang akan kita peroleh itu adalah sekitar 400.000 ton per tahun,” ungkap Widianto dalam diskusi bertema tambang bawah tanah modern yang diselenggarakan E2S di Jakarta, Senin (27/7/2026).

        Peluang produksi domestik itu menjadi angin segar di tengah tingginya permintaan sulfur, terutama bagi industri pengolahan nikel berbasis high pressure acid leaching atau HPAL yang terus berkembang di Indonesia.

        Pada fasilitas HPAL, sulfur diolah menjadi asam sulfat yang digunakan dalam proses pelindian bijih nikel.

        Sepanjang 2025, Indonesia tercatat mengimpor sekitar 5,35 juta ton sulfur, melonjak 48% dibandingkan tahun sebelumnya. Sekitar 84% dari volume impor itu berasal dari Timur Tengah.

        Besarnya porsi pasokan dari kawasan yang sama membuat industri nasional cukup rentan terhadap perubahan jalur logistik global.

        Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz sejak awal 2026, misalnya, sempat menekan keberlangsungan industri.

        Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) melaporkan harga sulfur sempat melonjak hampir 400% dibandingkan level harga pada 2025.

        Kehadiran produksi dari Dairi nantinya berpotensi mengurangi tekanan tersebut. Widianto menyebut sulfur hasil pengolahan DPM dapat disalurkan kepada produsen sulfuric acid atau asam sulfat di dalam negeri.

        “Nah itu akan bisa men-support tadi Pak kelangkaan atau kekurangan kebutuhan sulfur yang ada di Indonesia sekarang ini,” jabarnya.

        Baru Masuk Pasar pada 2029

        Meski menawarkan potensi pasokan yang cukup besar, sulfur dari DPM belum akan tersedia dalam waktu dekat.

        Perseroan masih menyelesaikan sejumlah perizinan lanjutan sebelum pembangunan tambang dimulai.

        DPM sebelumnya telah memperoleh persetujuan revisi studi kelayakan dan adendum analisis mengenai dampak lingkungan atau AMDAL. Apabila seluruh tahapan berikutnya berjalan sesuai rencana, konstruksi ditargetkan dimulai pada kuartal I 2027.

        “Harapan kami insyaallah di kuartal pertama tahun depan (2027), Pak, kami sudah bisa mulai melakukan konstruksi,” ungkapnya.

        Pembangunan diperkirakan berlangsung sekitar dua tahun. Waktu itu dibutuhkan karena DPM akan menerapkan sistem penambangan bawah tanah dengan metode longhole stoping dan cut and fill.

        Rampungnya konstruksi akan menjadi pintu masuk menuju tahap produksi. Ekstraksi bijih pertama atau first ore dijadwalkan berlangsung pada kuartal IV 2028, sedangkan fasilitas pengolahan atau benefisiasi direncanakan mulai beroperasi pada kuartal I 2029.

        “Kemudian pascakonstruksi untuk ekstraksi ore pertama, kita bisa harapkan insyaallah di kuartal keempat di tahun 2028 dan kemudian untuk proses beneficiation-nya sendiri kita bisa akan mulai di kuartal pertama tahun 2029,” jabar dia.

        Jadwal tersebut menunjukkan bahwa produk sulfur DPM baru berpeluang memasuki pasar setelah kegiatan benefisiasi berjalan pada 2029. Artinya, kontribusi proyek ini terhadap kebutuhan nasional masih harus menunggu penyelesaian tahap perizinan, konstruksi, dan pengembangan tambang bawah tanah.

        Olah 1 Juta Ton Bijih

        Pengembangan awal akan difokuskan pada deposit Anjing Hitam. Dari wilayah itu, perusahaan merancang kapasitas pengolahan bijih sebesar 1 juta ton per tahun.

        “Rencana produksi khusus untuk deposit Anjing Hitam itu adalah kapasitasnya 1 juta ton per tahun ore, Pak. Kemudian kita akan melakukan operasi untuk Anjing Hitam selama 9 tahun, di mana 2 tahun pertama adalah khusus untuk konstruksi serta pengembangan tambang bawah tanah,” sambungnya.

        Periode operasi Anjing Hitam direncanakan berlangsung selama sembilan tahun. Dua tahun pertama digunakan untuk konstruksi dan pengembangan tambang, sedangkan kegiatan produksi akan dilakukan setelah infrastruktur bawah tanah serta fasilitas pendukung siap digunakan.

        Dalam rencana operasionalnya, DPM membidik tingkat ketersediaan pabrik pengolahan sebesar 90%. Tingkat pemulihan atau recovery pada proses benefisiasi seng dan timah hitam diperkirakan mencapai 85%, sementara pemisahan sulfur ditargetkan memiliki tingkat recovery sebesar 63%.

        Kombinasi kapasitas pengolahan dan tingkat pemulihan itu diproyeksikan menghasilkan sekitar 400 ribu ton sulfur per tahun. Selain sulfur, kegiatan pengolahan juga akan menghasilkan sekitar 200 ribu ton tailing.

        Material sisa tersebut direncanakan tidak ditempatkan sebagai limbah permukaan. DPM akan memanfaatkannya sebagai bahan backfill untuk mengisi kembali rongga bekas penambangan bawah tanah.

        Penggunaan tailing sebagai backfill merupakan bagian dari rancangan teknis tambang bawah tanah. Selain mengurangi volume material yang harus ditempatkan di permukaan, metode itu juga digunakan untuk membantu menjaga kestabilan ruang tambang setelah bijih dikeluarkan.

        Baca Juga: DPM Siap Tambang Anjing Hitam 2028, Simpan Cadangan Seng dan Timah 7,7 Juta Ton

        Baca Juga: 28 Tahun Menanti, Tambang Seng dan Timah Hitam di Sumut Segera Berproduksi

        Deposit Anjing Hitam sendiri dilaporkan memiliki cadangan sekitar 7,70 juta ton bijih. Kandungan mineralnya terdiri atas seng dengan kadar 12,5% dan timah hitam sebesar 7,3%.

        Anjing Hitam menjadi bagian dari keseluruhan sumber daya mineral proyek DPM yang mencapai 36,43 juta ton. Secara rata-rata, sumber daya itu memiliki kadar seng 13,8%, timah hitam 7,9%, serta perak 10,9 gram per ton.

        Sumber daya mineral perusahaan tersebar di dua wilayah prospek utama. Anjing Hitam menyimpan sekitar 8,53 juta ton, sedangkan Lae Jahe memiliki sumber daya mencapai 27,90 juta ton.

        Dari keseluruhan jumlah itu, DPM mencatat cadangan mineral sekitar 17,70 juta ton. Sebanyak 7,70 juta ton berada di Anjing Hitam, sementara 10 juta ton lainnya tersimpan di Lae Jahe.

        PT Dairi Prima Mineral merupakan perusahaan tambang seng dan timah hitam yang memegang status Kontrak Karya sejak 1998. Proyek pertambangannya berlokasi di kawasan Sopokomil, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: