- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
28 Tahun Menanti, Tambang Seng dan Timah Hitam di Sumut Segera Berproduksi
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Setelah menunggu selama 28 tahun, proyek tambang seng dan timah hitam milik PT Dairi Prima Mineral (DPM) di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, memasuki tahap persiapan menuju produksi. Perusahaan menargetkan konstruksi tambang bawah tanah dimulai pada kuartal pertama 2027, dengan produksi bijih (ore) perdana diproyeksikan berlangsung pada kuartal IV 2028.
Technical Manager PT DPM, Widianto, mengatakan perusahaan masih menyelesaikan sejumlah perizinan pendukung sebelum memasuki tahap konstruksi. Proyek tersebut akan dikembangkan menggunakan sistem tambang bawah tanah dengan metode longhole stoping dan cut and fill.
“Harapan kami insyaallah di kuartal pertama tahun depan (2027), Pak, kami sudah bisa mulai melakukan kontruksi,” ungkapnya dalam gelaran diskusi tambang bawah tanah modern di Jakarta, Senin (27/7/2026).
Widianto mengatakan, tahapan setelah konstruksi akan dilanjutkan dengan proses ekstraksi bijih (ore) dan pengolahan mineral (beneficiation).
“Kemudian (pascakonstruksi) untuk ekstraksi ore pertama, kita bisa harapkan insyaallah di kuartal keempat di tahun 2028 dan kemudian untuk proses beneficiation-nya sendiri kita bisa akan mulai di kuartal pertama tahun 2029,” jabarnya.
Proyek tambang tersebut memiliki sumber daya mineral sebesar 36,43 juta metrik ton dengan kandungan seng (Zn) sebesar 13,8%, timah hitam atau timbal (Pb) sebesar 7,9%, serta perak (Ag) sebesar 10,9 gram per ton.
Sumber daya tersebut tersebar pada dua wilayah prospek utama, yakni Anjing Hitam dan Lae Jehe. Deposit Anjing Hitam menjadi area pertama yang akan dikembangkan dengan sumber daya sebesar 8,53 juta metrik ton, sedangkan Lae Jehe memiliki sumber daya sebesar 27,90 juta metrik ton.
Dari total sumber daya tersebut, perusahaan mencatat cadangan mineral sebesar 17,70 juta metrik ton. Cadangan itu terdiri dari 7,70 juta metrik ton di Anjing Hitam dan 10 juta metrik ton di Lae Jehe.
Deposit Anjing Hitam memiliki cadangan sebesar 7,70 juta metrik ton dengan kadar seng sebesar 12,5% dan timah hitam sebesar 7,3%.
“Rencana produksi khusus untuk deposit Anjing Hitam itu adalah kapasitasnya 1 juta ton per tahun ore, Pak. Kemudian kita akan melakukan operasi untuk Anjing Hitam selama 9 tahun, di mana 2 tahun pertama adalah khusus untuk konstruksi serta pengembangan tambang bawah tanah,” sambungnya.
Dalam kegiatan penambangan, PT DPM menerapkan metode tambang bawah tanah karena karakteristik endapan mineral yang dimiliki. Metode tersebut membuat masa konstruksi membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan metode penambangan lainnya.
Widianto mengatakan, berdasarkan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) yang telah diperoleh, perusahaan mendapatkan konsesi lahan seluas 53,11 hektare hingga 2047.
Baca Juga: Bahlil Pastikan Koperasi Tetap Dapat Prioritas Kelola Tambang Usai Putusan MK
Baca Juga: Bahlil Respons Putusan MK soal Izin Tambang, Siapkan Aturan Baru untuk Ormas dan Kampus
Untuk mendukung kegiatan produksi, perusahaan merancang fasilitas pengolahan dengan kapasitas 1 juta ton bijih (ore) per tahun dan tingkat utilisasi pabrik sebesar 90%.
Tingkat recovery untuk proses benefisiasi timbal dan seng ditargetkan mencapai 85%, sedangkan recovery untuk pemisahan sulfur ditargetkan sebesar 63%.
Perusahaan juga memperkirakan menghasilkan sekitar 200.000 ton tailing. Material sisa pengolahan tersebut akan dimanfaatkan sebagai material backfill untuk mengisi kembali lubang bekas kegiatan tambang bawah tanah.
Sebagai informasi, PT Dairi Prima Mineral merupakan perusahaan patungan antara NFC (Hong Kong) Metals Resources Company Limited dengan kepemilikan 51% dan PT Bumi Resources Minerals Tbk sebesar 49%.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: