Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

DPM Siap Tambang Anjing Hitam 2028, Simpan Cadangan Seng dan Timah 7,7 Juta Ton

DPM Siap Tambang Anjing Hitam 2028, Simpan Cadangan Seng dan Timah 7,7 Juta Ton Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Dairi Prima Mineral (DPM) menargetkan Tambang Anjing Hitam di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, mulai menghasilkan bijih pada 2028. Tambang bawah tanah yang menjadi proyek perdana perseroan tersebut memiliki cadangan 7,7 juta ton bijih seng dan timah hitam.

Technical Manager DPM, Widianto, mengatakan perusahaan masih menyelesaikan sejumlah perizinan lanjutan pada 2026. Setelah tahapan tersebut rampung, pembangunan proyek ditargetkan dimulai pada kuartal I/2027.

"Kemudian untuk ekstraksi ore pertama, kita bisa harapkan insyaallah di kuartal keempat di tahun 2028 dan kemudian untuk proses beneficiation-nya sendiri kita bisa akan mulai di kuartal pertama tahun 2029," kata Widianto dalam diskusi bertajuk Tambang Bawah Tanah Modern yang digelar E2S, Senin (27/7/2026).

Rencana pengembangan tersebut didukung oleh persetujuan revisi studi kelayakan atau feasibility study dan adendum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang diperoleh pada 2026. Persetujuan itu menjadi dasar bagi perusahaan untuk melanjutkan pembangunan tambang bawah tanah di Kabupaten Dairi.

Berdasarkan estimasi sumber daya dan cadangan 2025, DPM memiliki dua prospek utama, yaitu Anjing Hitam dan Lae Jehe. Perseroan memutuskan memprioritaskan pengembangan Prospek Anjing Hitam, sedangkan Lae Jehe masih membutuhkan pengeboran lanjutan untuk memperkuat data kandungan mineralnya.

"Prospek Lae Jehe ini kita masih kembangkan Pak karena tadi seperti yang kita lihat secara kadar dia masih jauh di bawah dari prospek Anjing Hitam," ujarnya.

Prospek Anjing Hitam tercatat memiliki sumber daya sebesar 8,5 juta ton dengan kadar seng 13,8% dan timah hitam 7,9%. Setelah dikonversi, jumlah cadangannya mencapai 7,7 juta ton dengan kadar seng 12,5% dan timah hitam 7,3%.

Adapun Prospek Lae Jehe memiliki sumber daya sebesar 27,9 juta ton dengan kadar seng sekitar 6% dan timah hitam 3,7%. Dari jumlah tersebut, cadangan yang telah teridentifikasi mencapai sekitar 10 juta ton dengan kadar seng 6,4% dan timah hitam 3,8%.

Gunakan Tambang Bawah Tanah Tanpa Bendungan Tailing

Dalam kegiatan operasionalnya, DPM akan menerapkan metode penambangan bawah tanah yang mengombinasikan long hole stoping dan cut and fill. Desain tersebut memungkinkan material sisa pengolahan atau tailing dimanfaatkan kembali sebagai bahan pengisi lubang tambang.

Penerapan metode backfill itu mengubah desain pengelolaan tailing yang sebelumnya tercantum dalam studi kelayakan 2015.

"Kita tidak memerlukan bendungan tailing lagi. Jadi dengan adanya proses backfill tersebut, rencana studi kelayakan yang dilakukan di tahun 2015 yang masih memakai bendungan tailing sudah bisa kita tiadakan," katanya.

Dalam prosesnya, tailing akan dipisahkan menjadi material cair dan padat. Air hasil pemisahan akan dialirkan kembali ke pabrik untuk digunakan dalam proses pengolahan. Sementara itu, material padat akan dicampur dengan semen, kemudian dipompa ke dalam lubang tambang sebagai backfill.

Pemanfaatan tailing sebagai material pengisi tersebut telah mendapatkan persetujuan teknis dari Kementerian Lingkungan Hidup. Persetujuan itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari adendum AMDAL proyek DPM.

Baca Juga: Adendum AMDAL DPM Jadi Solusi, Persetujuan KLH Perkuat Dasar Operasi

Baca Juga: 28 Tahun Menanti, Tambang Seng dan Timah Hitam di Sumut Segera Berproduksi

Selain memproduksi konsentrat seng dan timah hitam, DPM akan menghasilkan konsentrat sulfur. Sisa akhir pengolahan direncanakan seluruhnya dimanfaatkan sebagai material backfill. Skema tersebut mendukung penerapan konsep circular mining sekaligus menghilangkan kebutuhan pembangunan bendungan tailing.

Kapasitas Pengolahan 1 Juta Ton per Tahun

Pabrik pengolahan DPM akan memiliki kapasitas produksi sebesar 1 juta ton bijih per tahun. Pengembangan Tambang Anjing Hitam dirancang berlangsung selama sembilan tahun, yang mencakup masa konstruksi dan pengembangan tambang serta periode produksi.

Selama masa operasinya, perusahaan memperkirakan dapat menghasilkan sekitar 2,4 juta ton konsentrat. Jumlah tersebut diproyeksikan mengandung sekitar 473.000 ton logam timah hitam dan 821.000 ton logam seng.

Widianto mengatakan dua tahun pertama akan difokuskan untuk konstruksi dan pengembangan tambang bawah tanah. Setelah itu, perusahaan akan menjalankan kegiatan produksi selama tujuh tahun.

"Rencana produksi khusus untuk deposit Anjing Hitam itu adalah kapasitasnya 1 juta ton per tahun ore. Kemudian kita akan melakukan operasi untuk Anjing Hitam selama 9 tahun, di mana 2 tahun pertama adalah khusus untuk konstruksi serta pengembangan tambang bawah tanah. Kemudian dilanjutkan dengan 7 tahun berikutnya untuk proses produksi," tutup Widianto.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra