Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jawa Makin Dingin, Suhu Bromo 3,9 Derajat dan Dieng Hampir Beku: Ini Penyebabnya

        Jawa Makin Dingin, Suhu Bromo 3,9 Derajat dan Dieng Hampir Beku: Ini Penyebabnya Kredit Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Udara malam hingga pagi di sejumlah wilayah Indonesia terasa lebih dingin dalam beberapa pekan terakhir. Fenomena tersebut paling terasa di Pulau Jawa, terutama kawasan pegunungan dan dataran tinggi.

        Kondisi udara yang lebih dingin ini dikenal sebagai bediding atau bedhidhing dalam bahasa Jawa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut suhu di sejumlah dataran tinggi bahkan turun hingga mendekati titik beku.

        Gunung Bromo menjadi salah satu wilayah yang mengalami suhu rendah. Data AWS BMKG mencatat suhu di kawasan tersebut mencapai 3,9 derajat Celsius pada 11 Juni 2026.

        Dataran Tinggi Dieng mengalami suhu yang lebih rendah. BMKG mencatat suhu di kawasan tersebut hampir menyentuh titik beku dengan angka 0,7 derajat Celsius.

        "Data AWS BMKG mencatat, suhu di Bromo menyentuh angka 3,9 derajat Celcius pada tanggal 11 Juni kemarin. Tapi Dieng juaranya, suhunya hampir menyentuh titik beku di angka 0,7 derajat Celcius," ucap BMKG melalui akun Instagram resminya, dikutip Selasa (28/7/2026).

        Suhu ekstrem tersebut juga dapat memunculkan fenomena embun beku di dataran tinggi. Di kawasan Gunung Bromo, embun yang menempel pada daun dapat berubah menjadi kristal es.

        "Saking dinginnya fenomena bediding ini, di daerah dataran tinggi seperti Gunung Bromo, air embun yang menempel di daun bisa membeku jadi kristal es, mirip hampalan salju," lanjut BMKG.

        Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB University Dr Givo Alsepan mengatakan udara dingin memang lebih terasa di kawasan pegunungan dan dataran tinggi. Faktor ketinggian menjadi salah satu penyebab suhu di wilayah tersebut lebih rendah.

        Udara dingin juga cenderung mengalir dan berkumpul di kawasan lembah. Kondisi tersebut dapat memicu terbentuknya embun beku atau embun upas di wilayah seperti Dataran Tinggi Dieng.

        Fenomena bediding berkaitan dengan pengaruh Monsun Australia. Angin musiman tersebut membawa massa udara yang relatif lebih dingin dan bersifat kering ke wilayah Indonesia.

        Kondisi tersebut juga membuat pembentukan awan berkurang. Ketika langit minim tutupan awan, panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari.

        Baca Juga: Bali Hujan dan Banten Angin Kencang, Ini Prakiraan Cuaca Selasa 28 Juli 2026

        Akibatnya, suhu udara dapat turun cukup drastis terutama menjelang pagi. Kondisi tersebut membuat udara malam hingga pagi terasa lebih dingin dibandingkan biasanya.

        "Data BMKG 10 tahun terakhir mencatat penurunan suhu mulai terasa di bulan Juli dan mencapai puncaknya pada Juli sampai Agustus," ucap BMKG.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Christian Andy

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: