Kredit Foto: Instagram Rocky Gerung Official
Pengamat Politik Rocky Gerung menanggapi pernyataan "londo ireng" yang diucapan oleh Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, istilah tersebut tidak lagi memiliki relevansi yang jelas dalam konteks politik saat ini, bahkan cenderung hanya ada dalam imajinasi dari Prabowo.
Menurut Rocky, penggunaan istilah tersebut justru berpotensi menimbulkan penafsiran yang terlalu luas apabila diarahkan kepada kelompok-kelompok yang memiliki pandangan berbeda dengan pemerintah.
Baca Juga: Di Balik Perry Warjiyo Tinggalkan Prabowo: Gubernur BI Dulu Tak Mundur Bahkan Saat Krisis 1998
"Londo Ireng tuh adanya dalam imajinasi. Karena udah berabad-abad orang lupa bahwa dulu orang Afrika disogok oleh Belanda untuk jadi tentara bayaran, sekarang enggak jelas mana tentara bayarannya," kata Rocky dalam tayangan yang diunggah akun Instagram @hensa.official, dikutip Rabu (29/7/2026).
Menurut Rocky, istilah yang berasal dari konteks sejarah kolonial itu tidak seharusnya digunakan untuk menggeneralisasi pihak-pihak yang menyampaikan kritik terhadap pemerintah.
Ia menekankan bahwa kritik dalam negara demokrasi tidak selalu bermakna sebagai upaya menjatuhkan pemerintahan. Sebaliknya, kritik dapat muncul karena adanya harapan agar kebijakan pemerintah menjadi lebih baik dan mampu menjawab kepentingan masyarakat.
Dalam pandangannya, perbedaan pendapat merupakan bagian dari mekanisme demokrasi yang seharusnya dipahami sebagai masukan, bukan langsung dikaitkan dengan kepentingan pihak asing atau sikap yang tidak berpihak kepada bangsa.
Pernyataan Rocky merupakan respons terhadap pidato dari Presiden Prabowo Subianto di Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center, Kamis (23/7/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak antikritik. Namun, ia menyebut masih ada pihak-pihak di Indonesia yang menurutnya lebih mengabdi kepada kepentingan bangsa lain dibanding kepentingan nasional. Presiden kemudian menggunakan istilah "londo ireng" untuk menggambarkan kelompok tersebut.
"Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain," ujar Prabowo.
Baca Juga: Akademisi Indonesia: Presiden Prabowo Terlalu Sering 'Membuat Baru Sesuatu yang Sudah Ada'
Dalam bagian pidatonya, presiden juga menyinggung sejumlah profesi dan kelompok masyarakat, di antaranya wartawan, jurnalis, pengamat hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM). Pernyataan Prabowo tersebut kemudian memicu beragam respons dari berbagai kalangan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: