Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Paylater Dipakai untuk Sembako, Risiko Gagal Bayar Mengintai?

        Paylater Dipakai untuk Sembako, Risiko Gagal Bayar Mengintai? Kredit Foto: Unsplash/Rendy Novantino
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai peningkatan penggunaan layanan buy now pay later (BNPL) untuk membeli sembako bisa menjadi sinyal tekanan daya beli. Dengan bergesernya pemanfaatan pembiayaan ke pasar kebutuhan sehari-hari dinilai bisa meningkatkan permintaan sekaligus memunculkan risiko gagal bayar jika kualitas penyaluran kredit tidak diperketat.

        Direktur Ekonomi Digital CELIOS Nailul Huda mengatakan bahwa ada dua faktor yang saling berkaitan di balik perubahan pola penggunaan BNPL ini yaitu meningkatnya kebutuhan masyarakat di tengah pelemahan daya beli atau semakin mudahnya akses terhadap layanan pembiayaan digital.

        "Ada dua dorongan yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu kebutuhan yang semakin meningkat (dengan daya beli menurun) dan kemudahan adopsi buy now pay later (BNPL). Dengan daya beli yang rendah, saya rasa permintaan masyarakat akan pembiayaan. Mereka sudah bukan makan tabungan lagi, tapi sudah berhutang untuk memenuhi kebutuhan hidup," ujar Huda kepada Warta Ekonomi, Kamis (30/7/2026).

        Kini, Huda menilai, masyarakat memiliki alternatif pembiayaan yang lebih mudah diakses dibandingkan sebelumnya. Selain proses yang cepat, semakin luasnya merchant yang menerima BNPL juga memicu pergeseran tersebut.

        "Dahulu mereka berhutang kepada keluarga atau kerabat. Saat ini, mereka bisa menemukan alternatif financing, salah satunya BNPL. Adanya BNPL memberikan masyarakat pilihan pembiayaan pembelian barang. Dengan proses yang lebih cepat, saya rasa pembiayaan alternatif bisa bergeser ke BNPL. Merchant yang menerima BNPL sebagai alat pembayaran pun semakin luas dan masif. Jadi ada penurunan daya beli, yang menaikkan permintaan pembiayaan, di mana saat ini eranya di BNPL," tuturnya.

        Huda menilai perusahaan tetap perlu melakukan penguatan pengelolaan risiko agar pertumbuhan penggunaan BNPL lebih stabil dan tidak hanya mengejar pertumbuhan penyaluran pembiayaan.

        "Saya pernah sampaikan ketika pertumbuhan tinggi karena dorongan lemahnya daya beli, maka risiko gagal bayarnya akan meningkat. Saya khawatir jika tidak ada mekanisme penyaluran yang ketat, kualitas pembiayaan melalui BNPL akan memburuk. Akibatnya NPF-nya bisa meningkat bahkan melebih batas aman. Jadi saya rasa platform juga harus mulai memikirkan kualitas pembiayaan, alih-alih fokus kepada realisasi penyaluran," ucapnya.

        Sebelumnya, Head of Marketing Kredivo Indina Andamari mengatakan bahwa pengguna BNPL menunjukkan tren baru dalam dua bulan terakhir yang mana transaksi pada kategori groceries dengan nilai Rp50.000-Rp60.000 meningkat. Kini, perusahaan tengah mengkaji faktor yang mendorong pertumbuhan itu dan melihat tren lebih jauh.

        "Kalau kita sebenarnya melihatnya baru dua bulan ini, jadi kita masih mengkaji apakah kenaikan ini karena kondisi ekonomi atau kami melakukan program," ujar Indina dalam diskusi media, Senin (27/7/2026).

        Sekedar informasi, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Mei 2026 sudah ada delapan Perusahaan Pembiayaan yang menyelenggarakan layanan BNPL.

        Hingga akhir tahun, OJK optimis pertumbuhan pembiayaan BNPL bisa positif meskipun menghadapi tantangan antara lain dinamika perekonomian.

        "BNPL dan Pindar memiliki segmen dan karakteristik yang berbeda sehingga lebih bersifat saling melengkapi dalam ekosistem usaha jasa pembiayaan," ujar Agusman dalam lembar jawaban tertulis.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: