Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) mempertahankan suku bunga acuan (federal funds rate) di kisaran 3,5%-3,75% disambut positif oleh pasar saham Indonesia. Pada perdagangan Kamis (30/7/2026) hingga penutupan sesi I, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar kompak menguat seiring meredanya kekhawatiran investor terhadap pengetatan moneter global.
The Fed pada Rabu (29/7/2026) waktu setempat memutuskan mempertahankan suku bunga acuan karena ekonomi Amerika Serikat masih dinilai tumbuh cukup kuat, sementara inflasi belum sepenuhnya kembali ke target 2% akibat gangguan rantai pasok dan tingginya harga energi.
Sentimen tersebut mendorong penguatan saham sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan data perdagangan BEI hingga penutupan sesi I, Kamis (30/7/2026), saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) memimpin penguatan di antara bank jumbo dengan kenaikan 2,1% atau 60 poin menjadi Rp2.980 per saham dari penutupan sebelumnya Rp2.920.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga menguat 1,7% atau 70 poin menjadi Rp4.160 per saham dari sebelumnya Rp4.090.
Penguatan turut terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang naik 1,6% atau 100 poin ke level Rp6.375 per saham, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp6.275.
Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) ikut menguat dari Rp3.460 menjadi Rp3.530 per saham.
Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Ternyata Ini Dua Pertimbangan Utamanya
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah Tipis Meski The Fed Tahan Suku Bunga Acuan
Menguatnya saham-saham perbankan mencerminkan respons positif investor terhadap keputusan The Fed mempertahankan suku bunga. Langkah tersebut dinilai mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi kebijakan moneter yang lebih agresif, sehingga mendorong aliran dana kembali ke aset berisiko, termasuk saham sektor keuangan.
Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati arah kebijakan The Fed pada pertemuan berikutnya. Perkembangan inflasi Amerika Serikat, prospek suku bunga global, serta kondisi ekonomi domestik diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan saham perbankan dan pasar modal Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Annisa Nurfitri