Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        TINS Sebut Tuntutan Pemerintah Terkait Hilirisasi Makin Tinggi, Ini Alasannya

        TINS Sebut Tuntutan Pemerintah Terkait Hilirisasi Makin Tinggi, Ini Alasannya Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Timah Tbk (TINS) menyebut tuntutan hilirisasi yang diberikan pemerintah semakin tinggi. Pemerintah kini mengharapkan perusahaan tidak hanya menghasilkan ingot atau balok timah, tetapi juga mengolahnya lebih lanjut menjadi produk turunan seperti solder dan tin chemical.

        Perusahaan menilai tuntutan tersebut cukup menantang karena penyerapan produk hilir di dalam negeri masih terbatas. 

        Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha PT Timah Tbk, Harry Budi Sidharta, menyebut bahwa sebenarnya ingot pun sudah termasuk produk hilir dan bukan lagi produk mentah. Produk tersebut merupakan hasil dari hilirisasi bijih timah yang diproses dan dimurnikan melalui pabrik smelter.

        “Hilirisasi timah ini kalau di PT Timah, seperti yang tadi sudah disampaikan, bisa dikatakan sudah hampir di ujung, bahkan mungkin sudah di ujung dari industri timah itu sendiri,” kata Harry dalam diskusi yang diselenggarakan oleh CORE di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

        Meskipun mayoritas bijih timah diolah menjadi ingot, sebagai perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) yang patuh,  TINS tetap mendukung penuh Asta Cita untuk melanjutkan hilirisasi hingga produk turunan. 

        Di Cilegon lewat anak usahanya, PT Timah Industri, TINS mengolah produk turunan timah hingga produk siap pakai seperti tin solder dan tin chemical.

        Meski demikian volume timah yang diproses menjadi produk hilir hanya 5 persen. 

        “Namun memang, untuk hilirisasi ini tuntutannya semakin tinggi nih Mas, tuntutan dari pemerintah. Jadi dari total 100% produksi timah kita, hanya 5% Mas yang kita proses lebih lanjut di hilirisasi menjadi tin chemical, tin solder seperti itu,''

        ''Kenapa itu hanya 5 persen? Karena industrinya sendiri belum berkembang di Indonesia. Artinya, demand-nya belum tumbuh,” ungkapnya.

        Harry melanjutkan, dari total produk turunan yang dihasilkan pun hanya sekitar 10 persen yang mampu diserap oleh pasar domestik. Sementara itu, sisanya dipasarkan ke luar negeri, salah satunya India.

        Baca Juga: AI hingga Data Center Bikin Prospek Timah Makin Cerah, TINS Bidik Momentum Semester II

        Baca Juga: 28 Tahun Menanti, Tambang Seng dan Timah Hitam di Sumut Segera Berproduksi

        Sementara penggunaan produk turunan timah berputar kuat di sektor elektronik dan kendaraan listrik yang dikuasai oleh Jepang Cina dan Korea.

        Namun, negara-negara tersebut memiliki formula dan standar produksi tersendiri terkait tin solder. Alhasil mereka tidak membutuhkan produk turunan tersebut dan lebih memilih membeli timah dalam bentuk ingot.

        “Nah itu yang yang menjadi nanti mungkin untuk hilirisasi di timah PR-nya adalah bagaimana kita bisa menggandeng sebenarnya dari produsen-produsen Jepang, Cina, Korea itu bisa memindahkan produksinya mereka itu di di Indonesia. Nah itu yang yang menjadi PR ke depan,” tutup Harry.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: