Dedi Mulyadi Tiba-tiba Jadi Lawan Prabowo Bukanlah Hal Mustahil: Dia Besar di Golkar, Bukan Gerindra
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 masih jauh namun dinamika terkini mulai memunculkan berbagai spekulasi mengenai tokoh-tokoh yang berpotensi bertarung memperebutkan kursi RI 1. Salah satu nama yang kini ramai diperbincangkan adalah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi vs Presiden Prabowo Subianto.
Pegiat Media Sosial Jhon Sitorus menilai peluang politikus itu maju sebagai calon presiden sekaligus menjadi lawan presiden saat ini bukanlah sesuatu yang mustahil. Rekam Dedi menurutnya adalah alasan mengapa peluang tersebut layak diperhitungkan.
Baca Juga: 'Kalau Anies Baswedan Diangkat Jadi Seskab Baru, Keadaan Prabowo Kemungkinan Bisa Berubah'
Jhon mengingatkan masyarakat soal jejak politik dari Dedi Mulyadi. Ia saat ini memang kader unggulan dari Prabowo. Namun ia ingin masyarakat tahu bahwa politikus itu dibesarkan oleh Golkar.
"Kang Dedi Mulyadi (KDM) itu besar di Golkar. Bukan Gerindra," ujar Jhon Sitorus, dikutip Jumat (31/7/2026).
Dedi Mulyadi diketahui telah menjadi kader dari Partai Golkar di 1999. Ia meniti karier politiknya melalui partai berlambang pohon beringin tersebut.
"KDM bahkan sudah jadi kader Golkar sejak 1999. Ia sempat jadi Ketua DPD Golkar Jawa Barat. Namun akhirnya pindah ke Gerindra," katanya.
Bagi Jhon, fakta tersebut menunjukkan bahwa basis politik sosok itu tidak lahir dari Gerindra. Karena itu, ia melihat terbuka kemungkinan ia memperoleh dukungan politik dari berbagai kekuatan menjelang Pilpres 2029.
"Jadi kalau dia diadu dengan Pak Prabowo di Pilpres 2029. Itu bukan sesuatu yang mustahil. Rekam jejaknya bersama partai itu tak bisa dilupakan begitu saja," ujarnya.
Meski demikian, menurutnya pandangan arah politik s osok itu masih sangat bergantung pada dinamika koalisi dan strategi partai-partai politik dalam menentukan calon yang akan diusung.
"Ini soal partai mana yang memberikan tawaran paling menarik untuk Dedi Mulyadi," tuturnya.
Sebelumnya, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) dan Indikator Politik Indonesia melaporkan hasil survei calon presiden yang menunjukkan adanya penurunan elektabilitas dari Prabowo. Ia bahkan kalah dalam simulasi calon presiden dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Baca Juga: Tak Ingin Aneh-aneh, Prabowo Tuntut Bank Indonesia (BI) Bisa Diajak Kerja Sama: Kita Harus Satu Tim
SMRC 5–19 Juli 2026, Dedi Mulyadi memperoleh elektabilitas 35 persen. Sementara Prabowo berada di angka 14,5 persen. Adapun Anies Baswedan 8,2 persen. Survei Indikator Politik Indonesia 14–24 Juli 2026, Dedi Mulyadi meraih 32,4 persen. Prabowo menyusul dengan 18,8 persen. Adapun Anies Baswedan 11,6 persen.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: