Kredit Foto: Antara/Reno Esnir
Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (31/7/2026), setelah sehari sebelumnya sempat tertekan. Penguatan mata uang Garuda terjadi di tengah respons pasar terhadap keputusan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang mempertahankan suku bunga acuannya.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp18.055 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 56 poin atau 0,31 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.111 per dolar AS.
Sejalan dengan rupiah, mayoritas mata uang Asia juga menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan setelah terapresiasi 0,74 persen, disusul yen Jepang yang menguat 0,70 persen dan peso Filipina 0,31 persen.
Sementara itu, ringgit Malaysia menguat 0,09 persen, baht Thailand naik 0,07 persen, yuan China terapresiasi 0,03 persen, sedangkan dolar Hong Kong dan dolar Taiwan masing-masing menguat tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.
Di sisi lain, rupee India menjadi satu-satunya mata uang Asia yang bergerak melemah terhadap dolar AS. Mata uang Negeri Bollywood itu tercatat terdepresiasi 0,03 persen, mencerminkan tekanan yang masih terjadi di tengah pergerakan dolar AS di pasar global
Baca Juga: Dorong Ekonomi Sirkular Berbasis Masyarakat, Biosirkular Ubah Minyak Jelantah Jadi Rupiah
Penguatan mata uang negara berkembang mencerminkan meredanya tekanan setelah pelaku pasar mencerna keputusan The Fed yang kembali menahan suku bunga acuan.
Meski demikian, bank sentral AS masih mempertahankan sikap hati-hati terhadap prospek inflasi sehingga ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat masih terbatas.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: