Kredit Foto: Pixabay/mohamed_hassan
Ada orang yang tinggal di dalam rumah, tetapi tak pernah benar-benar memperhatikan bentuk rumahnya. Ada pula orang yang datang dari luar, berdiri agak jauh, lalu menggambar rumah itu dengan tekun: pintunya, jendelanya, retaknya, bahkan cahaya yang masuk pada sore hari.
John Louis Esposito termasuk orang kedua.
Ia bukan Muslim. Namun selama lebih dari setengah abad, sarjana Katolik keturunan Italia-Amerika itu menjadikan Islam sebagai pusat perjalanan intelektualnya. Esposito wafat pada 15 Juli 2026 dalam usia 86 tahun akibat komplikasi setelah operasi jantung.
Georgetown University kehilangan salah satu profesor paling berpengaruh dalam studi Islam dan hubungan internasional. Dunia akademik kehilangan penulis sekaligus penyunting puluhan buku dan monografi, termasuk sejumlah karya rujukan yang diterbitkan Oxford University Press.
Bagi dunia Islam, kepergiannya berarti kehilangan seorang “orang luar” yang bersedia mendengarkan Islam menjelaskan dirinya sendiri.
Riwayat hidup Esposito sendiri hampir seperti sebuah kebetulan yang berubah menjadi takdir.
Lahir di Brooklyn pada 1940 dari keluarga pekerja Italia-Amerika, ia dibesarkan dalam tradisi Katolik. Bahkan, semasa muda ia pernah masuk Ordo Fransiskan Kapusin dengan keinginan menjadi pastor. Jalan hidupnya berubah ketika memilih melanjutkan studi di Temple University dan meraih doktor dalam studi agama di bawah bimbingan Ismail Raji al-Faruqi.
Saat memasuki dunia akademik pada 1974, pilihan menjadi ahli studi Islam justru dianggap tidak menjanjikan. Menurut kisah yang sering ia ceritakan, ketika itu hanya ada satu lowongan dosen studi Islam di Amerika Serikat.
Lima tahun kemudian sejarah mengubah segalanya.
Revolusi Iran pada 1979 membuat Barat mendadak ingin memahami Islam politik. Setelah serangan 11 September 2001, kebutuhan itu melonjak berkali-kali lipat. Pemerintah, media, universitas, hingga lembaga keamanan mencari orang yang mampu menjelaskan Islam.
Mereka datang kepada John L. Esposito.
Ia bahkan pernah bergurau bahwa karier akademiknya berutang kepada dua Muslim “radikal”: Ayatollah Khomeini dan Osama bin Laden. Humor itu menyimpan ironi. Perhatian Barat terhadap Islam justru meningkat ketika agama ini dipersepsikan sebagai ancaman.
Di tengah arus pemikiran yang didominasi Bernard Lewis maupun Samuel Huntington, Esposito mengambil jalan berbeda.
Ia menolak menjadikan Islam sebagai terdakwa sebelum persidangan dimulai.
Esposito tidak pernah mengatakan semua tindakan umat Islam benar. Ia juga bukan pembela tanpa kritik. Yang ia persoalkan adalah cara membaca masyarakat Muslim melalui prasangka yang dibawa dari luar.
Menurutnya, politik Islam tidak cukup dijelaskan dengan satu kata: syariat.
Di balik berbagai gerakan Islam terdapat persoalan yang jauh lebih kompleks, mulai dari ketidakadilan, rezim otoriter, kemiskinan, kolonialisme, intervensi asing, hingga perjuangan memperoleh martabat dan menentukan nasib sendiri.
Karena itu, katanya, jangan hanya melihat jenggot demonstran. Lihat pula harga beras, penjara politik, korupsi penguasa, dan tank yang berdiri di depan rumah mereka.
Cara pandang itulah yang menggeser studi Islam dari kebiasaan melihat Muslim sebagai objek eksotis menuju upaya memahami mereka sebagai manusia sekaligus pelaku sejarah.
Warisan pemikiran Esposito juga mengakar di Indonesia.
Sejak dekade 1980-an, karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan menjadi bacaan wajib mahasiswa, dosen, hingga peneliti ilmu sosial. Islam and Politics, Islam dan Pembaharuan, Dinamika Kebangunan Islam, hingga karya bersama John O. Voll tentang Islam dan demokrasi menjadi bagian dari daftar pustaka berbagai kampus.
Generasi pembacanya pun melintasi zaman, mulai dari mahasiswa IAIN pada era 1980-an hingga peneliti politik Islam hari ini.
Indonesia juga bukan sekadar pasar pembaca. Georgetown mencatat Esposito turut membangun Malaysia Chair for the Study of Islam in Southeast Asia, sebuah pengakuan bahwa Islam Asia Tenggara merupakan bagian penting dari wajah Islam modern, bukan sekadar pelengkap kawasan Timur Tengah.
Tentu Esposito bukan sosok tanpa kritik.
Sebagian kalangan menilai ia terlalu simpatik terhadap sejumlah gerakan Islam, meremehkan ancaman ekstremisme, atau terlalu optimistis melihat hubungan Islam politik dengan demokrasi.
Namun ilmu pengetahuan memang tumbuh melalui perdebatan.
Justru di situlah letak penghormatan terhadap seorang sarjana: gagasannya diuji, bukan disakralkan.
Pelajaran terbesar yang ditinggalkan Esposito sesungguhnya sederhana.
Memahami sebuah agama tidak mensyaratkan seseorang memeluk agama itu.
Yang diperlukan adalah ketekunan, kejujuran metodologis, keluasan data, dan kesediaan menangguhkan prasangka.
Seorang Katolik dapat menghabiskan hidupnya mempelajari Islam tanpa menjadi Muslim. Sebaliknya, seorang Muslim seharusnya dapat mempelajari Kristen, Yahudi, Hindu, Barat, komunisme, maupun sekularisme tanpa merasa imannya akan hilang di perpustakaan.
Pengetahuan memang memiliki adab yang unik. Ia tidak selalu datang dari pintu yang kita sukai.
Al-Qur’an sendiri mengajarkan manusia mendengar berbagai pendapat, lalu mengikuti yang terbaik. Karena itu, ukuran pertama sebuah pengetahuan bukan identitas pembawanya, melainkan kekuatan argumennya.
Di sinilah wafatnya Esposito layak menjadi cermin bagi dunia Islam.
Kita memiliki ribuan pesantren, ratusan perguruan tinggi Islam, serta jutaan santri dan mahasiswa. Namun berapa banyak karya tentang Barat yang ditulis sarjana Muslim dan dijadikan rujukan di Harvard, Georgetown, atau Oxford?
Berapa banyak ensiklopedia besar tentang Kristen, Yahudi, atau sekularisme yang lahir dari kampus Islam dan menjadi referensi dunia?
Pertanyaan itu terasa mengusik.
Kita sering marah ketika Islam dijelaskan secara keliru oleh orang lain. Kemarahan itu mungkin beralasan. Namun jawaban terbaik terhadap buku yang buruk tidak selalu demonstrasi.
Kadang jawabannya adalah menulis buku yang lebih baik.
Esposito juga mengajarkan bahwa umur seorang sarjana tidak ditentukan oleh jabatan.
Profesor akan pensiun. Ruang kerja akan ditempati orang lain. Gelar hanya menjadi beberapa baris dalam obituari.
Namun buku yang ditulis dengan sungguh-sungguh memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada penulisnya.
Islam: The Straight Path, Islam and Politics, The Islamic Threat: Myth or Reality?, The Future of Islam, What Everyone Needs to Know About Islam, serta berbagai ensiklopedia Oxford yang dipimpinnya membuat nama Esposito tetap hidup di perpustakaan-perpustakaan dunia.
Tubuh manusia mengenal umur biologis.
Gagasan memiliki kalendernya sendiri.
Karena itu, kepergian seorang sarjana tidak seharusnya dicatat seperti jadwal keberangkatan kereta.
John L. Esposito meninggalkan pelajaran bagi umat yang kitab sucinya dibuka dengan perintah membaca.
Bacalah dunia.
Bacalah orang yang berbeda.
Jangan takut belajar bahkan dari mereka yang berdiri di luar pagar rumah kita.
Sebab kadang orang luar justru melihat jendela yang selama ini luput dari perhatian penghuni rumah.
Esposito telah pergi.
Ia tidak membawa Islam ke Barat, apalagi mewakilinya.
Ia hanya menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk membantu masyarakatnya melihat Muslim sebagai manusia, bukan sekadar masalah.
Untuk pekerjaan sepanjang umur seperti itu, rasanya ucapan terima kasih tidak akan mengurangi iman siapa pun.
Justru mungkin menunjukkan bahwa kita benar-benar memahami satu pelajaran yang selalu diajarkan ilmu pengetahuan:
hikmah tidak pernah diwajibkan memiliki paspor yang sama dengan pencarinya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: