Spontan Malah Jadi Masalah, Prabowo Diminta Jangan Banyak-banyak Pidato Tanpa Naskah
Kredit Foto: BPMI
Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Muhammad Said Didu memberikan masukan untuk Presiden Prabowo Subianto. Ia diminta untuk mengurangi kebiasaan berpidato tanpa naskah, terutama ketika menyampaikan informasi yang berkaitan dengan data, angka maupun isu strategis.
Said Didu menilai pidato tanpa teks memang dapat memberikan kesan lebih natural dan komunikatif. Namun, ketika materi yang disampaikan menyangkut angka atau informasi yang memerlukan ketepatan tinggi, penggunaan naskah dinilai jauh lebih aman agar pesan yang diterima masyarakat tidak menimbulkan interpretasi berbeda.
Baca Juga: Rocky Gerung: Dua Tahun Berjalan, Presiden Prabowo Terbebani Menteri dari Koalisinya Sendiri
"Saya berharap presiden mengurangi pidato tanpa teks, apalagi terkait dengan angka," ujar Said Didu, dikutip Sabtu (1/8/2026).
Menurutnya, akurasi menjadi faktor penting dalam komunikasi seorang kepala negara. Kesalahan penyebutan angka atau informasi dapat berkembang menjadi polemik yang justru mengalihkan perhatian dari substansi kebijakan pemerintah.
Kritik tersebut muncul setelah sejumlah pernyataan kontroversial dari Presiden Prabowo. Salah satunya ketika ia mengungkapkan laporan yang diterimanya mengenai keuntungan usaha penggilingan padi.
"Saya dapat laporan satu penggilingan padi untung tiap panen 2 triliun per bulan," kata Prabowo.
Pernyataan itu kemudian ramai dibahas di media sosial karena banyak pihak mempertanyakan besaran angka yang disebutkan dan membandingkannya dengan kondisi industri penggilingan padi di Indonesia.
Selain itu, Prabowo juga kembali menjadi perhatian dalam pertemuan dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Saat membahas situasi geopolitik, presiden menyampaikan pandangannya mengenai potensi perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah.
"Sore tiap malam kita lihat dalam berita-berita eskalasi, eskalasi, eskalasi. Iran sudah punya senjata nuklir. Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir. Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirat juga mau punya senjata nuklir. Qatar juga mau punya senjata nuklir. Mesir juga mau punya senjata nuklir," ujar Prabowo.
Baca Juga: Polemik Kasus Ijazah, Roy Suryo Jadi Incaran Jokowi: Dakwaan Bisa Detil Banget Nanti
Pernyataan tersebut turut memicu perhatian publik karena isu kepemilikan senjata nuklir merupakan topik sensitif di tingkat internasional dan sering menjadi perdebatan di kalangan pengamat keamanan global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: