Kredit Foto: Antara/Media Center KTT ASEAN 2023/Zabur Karuru
Intervensi Jepang untuk menghentikan pelemahan yen bukanlah hal baru. Namun, langkah pada 30–31 Juli 2026 memiliki arti berbeda karena Amerika Serikat tidak lagi sekadar memberikan dukungan politik. Departemen Keuangan AS ikut membeli yen melalui Federal Reserve Bank of New York.
Setelah yen sempat melemah mendekati 164 per dolar—level terendah dalam sekitar empat dekade—intervensi bersama berhasil mendorong nilainya kembali ke kisaran 155–157 per dolar. Operasi terkoordinasi ini menjadi yang pertama sejak 2011.
Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah yen akan kembali menguat, melainkan apakah keterlibatan Amerika Serikat akan berlanjut, efektif, dan pada akhirnya membentuk zona pertahanan baru di sekitar 160 yen per dolar.
Dari Pernyataan ke Tindakan
Pemerintah Amerika Serikat masuk ke pasar melalui Federal Reserve Bank of New York yang bertindak atas nama Departemen Keuangan AS. Langkah ini tidak berarti Federal Reserve mengubah arah kebijakan moneternya.
Namun, implikasinya cukup besar. Menjual yen kini tidak lagi berarti hanya berhadapan dengan pemerintah Jepang. Pasar juga harus memperhitungkan kemungkinan Washington kembali melakukan intervensi, termasuk saat jam perdagangan Amerika Serikat berlangsung. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan telah menyatakan kesiapan melakukan intervensi lanjutan apabila pergerakan yen kembali tidak teratur.
Efektivitas Masih Bergantung pada Fundamental
Meski demikian, efektivitas intervensi tetap dibatasi oleh faktor fundamental.
Saat operasi dilakukan, selisih imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan Jepang masih cukup lebar. Yieldobligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,7%, sedangkan yield obligasi pemerintah Jepang berada di kisaran 2,8%–2,9%. Selisih hampir 200 basis poin tersebut masih membuat aset berdenominasi dolar lebih menarik.
Kondisi ini terus mendorong praktik carry trade, yakni investor memperoleh pendanaan dalam yen untuk kemudian menempatkannya pada aset berimbal hasil lebih tinggi. Di sisi lain, Jepang juga masih menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya impor energi dan kekhawatiran terhadap kebijakan fiskalnya.
Karena itu, intervensi lebih efektif menghentikan percepatan pelemahan yen dibanding membalikkan arah tren secara permanen. Selama selisih imbal hasil tetap lebar, pasar masih memiliki alasan fundamental untuk terus melepas yen.
Mengapa Amerika Serikat Turut Campur?
Secara resmi, Jepang dan Amerika Serikat menyatakan intervensi dilakukan untuk mencegah volatilitas berlebihan dan pergerakan pasar yang tidak teratur.
Namun, kepentingan Washington juga berkaitan dengan hubungan erat antara nilai tukar yen, pasar obligasi pemerintah Jepang (Japanese Government Bonds/JGB), dan pasar surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury).
Pelemahan yen meningkatkan harga impor dan ekspektasi inflasi di Jepang. Kondisi itu dapat mendorong investor meminta yield yang lebih tinggi untuk memegang JGB. Walaupun kenaikan yield JGB berpotensi mempersempit selisih imbal hasil dengan AS sehingga mendukung yen, kondisi tersebut juga meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah Jepang yang memiliki beban utang sangat besar.
Jika tekanan terus berlanjut, Jepang berpotensi menggunakan cadangan devisanya untuk membeli yen. Hingga akhir Juni 2026, cadangan devisa Jepang mencapai sekitar US$1,287 triliun—terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Dari jumlah tersebut, sekitar US$929 miliar berbentuk surat berharga.
Cadangan sebesar itu memang memberikan ruang intervensi yang luas. Namun, sebagian besar aset tersebut berkaitan dengan dolar AS dan surat utang pemerintah Amerika Serikat. Jepang sendiri tercatat memegang sekitar US$1,14 triliun US Treasury.
Di sinilah potensi risiko sistemik muncul. Pelemahan yen dapat memicu kenaikan yield JGB, mendorong Jepang menggunakan atau bahkan menjual aset dolar untuk mendukung mata uangnya, yang pada akhirnya dapat memberi tekanan pada pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Karena itu, keterlibatan Washington juga dapat dipahami sebagai upaya mencegah rangkaian risiko tersebut berkembang lebih jauh.
Apakah 160 Menjadi Garis Pertahanan?
Angka 160 yen per dolar bukanlah batas mekanis yang otomatis memicu intervensi. Ada beberapa indikator yang lebih menentukan.
Pertama, kecepatan pergerakan nilai tukar. Kenaikan USD/JPY sebesar dua hingga tiga yen dalam satu atau dua hari jauh lebih mengkhawatirkan dibanding pelemahan dengan besaran yang sama dalam beberapa pekan. Pemerintah umumnya lebih sensitif terhadap pergerakan yang cepat dan searah dibanding angka tertentu.
Kedua, eskalasi komunikasi pejabat. Pernyataan biasanya berkembang dari sekadar "mengamati dengan cermat", menjadi "mengamati dengan rasa urgensi", hingga "siap mengambil tindakan tegas". Semakin keras dan semakin sering peringatan disampaikan, semakin besar peluang intervensi.
Ketiga, pola transaksi pasar. Penurunan USD/JPY beberapa yen secara tiba-tiba yang disertai lonjakan volume, tanpa didukung berita ekonomi yang sebanding, dapat menjadi indikasi pemerintah telah masuk ke pasar. Namun, kepastian baru diperoleh setelah data resmi intervensi dipublikasikan.
Selain itu, selisih yield juga tetap menjadi indikator penting. Jika yen melemah ketika selisih yield AS–Jepang melebar, pelemahan tersebut masih dapat dijelaskan oleh fundamental. Sebaliknya, jika yen terus melemah ketika selisih yieldjustru menyempit, tekanan pasar kemungkinan lebih didorong oleh spekulasi atau hilangnya kepercayaan.
Dengan demikian, level 160 lebih tepat dipahami sebagai zona intervensi tidak resmi apabila ditembus secara cepat, satu arah, dan mengabaikan peringatan pemerintah.
Menguji Komitmen Washington
Dalam jangka pendek, koordinasi Amerika Serikat dan Jepang berpotensi menahan yen di kisaran pertengahan 150-an sekaligus meningkatkan risiko bagi pelaku pasar yang mengambil posisi spekulatif terhadap pelemahan yen.
Namun, pasar hampir pasti akan kembali menguji level 160 apabila yield obligasi Amerika Serikat kembali meningkat, Bank of Japan terlalu berhati-hati menaikkan suku bunga, atau tekanan fiskal Jepang semakin besar.
Karena itu, pertanyaan utama bukan lagi apakah Jepang memiliki cadangan devisa yang cukup. Kemampuan intervensinya masih sangat besar.
Yang kini sedang diuji adalah kedalaman komitmen Washington. Apakah keterlibatan Amerika Serikat hanya merupakan operasi satu kali untuk meredam kepanikan pasar, atau menjadi awal dari komitmen yang lebih panjang dalam menjaga stabilitas ekonomi sekutu utamanya di Asia?
Jawaban atas pertanyaan tersebut—lebih dari sekadar level 160 yen per dolar—akan menentukan arah pergerakan yen pada periode berikutnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: