Alphabet Terbitkan Obligasi Jumbo Rp448 Triliun, Antrean Investor Tembus Rp2.000 Triliun
Kredit Foto: Unsplash/Solen Feyissa
Alphabet Inc., induk usaha Google dan YouTube, kembali menghimpun dana jumbo dari pasar obligasi untuk membiayai ekspansi infrastruktur kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI). Perusahaan menerbitkan obligasi berperingkat investment-grade senilai US$25 miliar atau sekitar Rp447,97 triliun, dengan permintaan investor mencapai US$115 miliar.
Tingginya minat investor menjadikan transaksi tersebut sebagai salah satu penerbitan obligasi terkait AI dengan tingkat pemesanan (order book) terbesar sepanjang 2026. Nilai permintaan itu hanya sedikit di bawah penerbitan obligasi Oracle Corp. sebesar US$129 miliar pada Februari 2026 dan Amazon.com Inc. yang meraih permintaan sekitar US$126 miliarpada Maret lalu.
Respons positif tersebut menandai membaiknya sentimen di pasar surat utang perusahaan teknologi setelah sempat tertekan pada Juli akibat derasnya penerbitan obligasi dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap besarnya kebutuhan pendanaan untuk pembangunan infrastruktur AI.
Menurut laporan Reuters, Alphabet menerbitkan obligasi dalam 10 seri dengan tenor mulai dari 2 tahun hingga 40 tahun.
Untuk obligasi bertenor terpanjang, perusahaan menetapkan premi imbal hasil sekitar 1,3 poin persentase di atas imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasuries). Besaran tersebut lebih rendah dibandingkan indikasi awal sekitar 1,55 poin persentase, mencerminkan kuatnya permintaan investor.
Manajer Portofolio Impax Asset Management, Tony Trzcinka, mengatakan penerbitan obligasi bernilai besar umumnya membutuhkan premi lebih tinggi ketika minat investor mulai melemah.
"Transaksi-transaksi seperti ini memerlukan konsesi yang lebih tinggi karena minat investor yang mulai melunak," ujar Tony.
Pendanaan AI Terus Meningkat
Dengan transaksi terbaru tersebut, total penerbitan utang Alphabet sejak awal 2025 telah melampaui US$114 miliar, menempatkan perusahaan sebagai salah satu penerbit obligasi terbesar untuk pembiayaan pengembangan AI.
Sebelumnya, Alphabet juga menerbitkan obligasi senilai US$20 miliar pada Februari 2026 yang memperoleh permintaan sekitar US$103 miliar.
Selain pasar dolar AS, sepanjang tahun ini Alphabet juga mengakses pasar obligasi internasional melalui penerbitan dalam mata uang franc Swiss, poundsterling Inggris, euro, dolar Kanada, dan yen Jepang.
Secara keseluruhan, nilai penerbitan utang Alphabet telah melampaui US$50 miliar pada paruh pertama 2026. Pada periode yang sama, perusahaan juga melakukan penjualan saham senilai hampir US$85 miliar.
Belanja Modal AI Naik Tajam
Kebutuhan pendanaan Alphabet meningkat seiring agresivitas perusahaan memperluas infrastruktur AI.
Pada Juli 2026, Alphabet menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) menjadi US$205 miliar, lebih dari dua kali lipat dibandingkan realisasi atau proyeksi belanja pada 2025.
Besarnya belanja modal tersebut sempat memicu kekhawatiran investor terhadap kemampuan perusahaan menjaga arus kas. Bahkan, untuk pertama kalinya sejak melantai di bursa pada 2004, arus kas Alphabet tercatat berada di posisi negatif.
Kekhawatiran serupa juga sempat memengaruhi pasar obligasi AI. Pekan lalu, perusahaan yang terafiliasi dengan BlackRock Inc. menerbitkan obligasi senilai US$12,5 miliar untuk mendanai proyek pusat data Meta Platforms Inc. di Texas, namun mendapat respons yang relatif lebih lemah. Kondisi serupa juga terjadi pada penerbitan obligasi Amazon serta pelebaran spread di pasar sekunder untuk sejumlah obligasi baru yang terkait AI, termasuk milik SpaceX.
Meski demikian, keberhasilan Alphabet menghimpun permintaan hingga US$115 miliar menunjukkan investor masih memiliki minat tinggi terhadap obligasi perusahaan teknologi, terutama ketika menawarkan imbal hasil yang dinilai menarik.
Alphabet menjadi satu dari delapan perusahaan yang menerbitkan obligasi investment-grade pada Kamis. Secara keseluruhan, nilai penerbitan obligasi berkualitas tinggi sepanjang pekan ini telah mencapai US$80 miliar, menjadi yang tertinggi ketiga sepanjang 2026.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: