Metrodata Bidik Laba Tumbuh 10%, Genjot Bisnis AI dan Keamanan Siber
Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) membidik pertumbuhan laba sekitar 10% hingga akhir 2026. Target tersebut masih harus dikejar perseroan setelah laba pada semester I-2026 baru tumbuh 6,6%.
President Director Metrodata Electronics Susanto Djaja mengatakan kinerja perseroan secara keseluruhan masih berada di jalur sesuai target. Dari sisi pendapatan, Metrodata mencatat pertumbuhan 16,7% secara tahunan menjadi Rp13,6 triliun pada semester I-2026, dibandingkan Rp11,7 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
"Jadi semester pertama revenue kami growth-nya 16,7%. Itu terdiri dari pertumbuhan bisnis solution and consultingsekitar 3%, dan distribution di atas 20%," ujar Susanto di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba masing-masing sekitar 10% sepanjang 2026. Untuk mengejar target laba tersebut, Metrodata akan mengandalkan penguatan bisnis Solution & Consulting pada semester II-2026.
"Kalau profit-nya kita mau pertumbuhannya sekitar 10%. Kemarin (Semester I) baru 6,6%. Jadi kita tetapin sehingga bisa on track," katanya.
Pada semester I-2026, bisnis distribusi Metrodata tumbuh lebih dari 20%. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang kategori PC dan laptop serta smartphone.
Namun, perseroan memperkirakan pertumbuhan bisnis distribusi pada semester II tidak akan setinggi paruh pertama tahun ini. Kenaikan harga PC dan laptop dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memengaruhi permintaan.
"Kalau kita lihat sekarang kan harga sudah naik nih, PC dan laptop, jadi daya beli masyarakat menurun. Jadi kita lihat distribusi di Semester II mungkin tidak terlalu tinggi, tapi kita sudah kebut di Semester II," jelas Susanto.
Untuk mengompensasi potensi perlambatan distribusi, Metrodata akan mempercepat pertumbuhan bisnis Solution & Consulting. Susanto melihat perusahaan mulai meninggalkan sikap wait and see dan kembali merealisasikan belanja teknologi informasi (TI).
"Kalau kita hari ini yang relevan kan solution consulting. Itu perusahaan yang tadinya banyaknya wait and see. Sekarang mau tidak mau kalau investasi IT-nya harus direalisasikan juga. Karena kalau ngga, (harus) pindah ke tahun depan,” katanya.
Metrodata akan mempercepat realisasi deal hingga tahap implementasi proyek pada semester II-2026. Perseroan membidik segmen korporasi yang mulai kembali merealisasikan anggaran belanja TI, terutama untuk kebutuhan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) dan keamanan siber.
Strategi tersebut menjadi salah satu tumpuan perseroan untuk mengejar target pertumbuhan laba 10% sepanjang tahun.
Di sisi lain, fluktuasi nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan Metrodata karena dapat meningkatkan biaya pengadaan.
Baca Juga: Komdigi Ungkap AI Bisa Jadi Pelaku Serangan Siber, Bukan Lagi Hacker
Baca Juga: OJK Ungkap AI Bisa Bantu Fintech Lending
Baca Juga: TrendAI Perkuat Infrastruktur Pusat Data di Indonesia, Dukung AI dan Kepatuhan UU PDP
Saat ini, sekitar 70% pembelian MTDL dilakukan dalam rupiah, sedangkan 30% lainnya masih menggunakan dolar AS. Transaksi dalam dolar terutama terkait produk dan proyek solusi yang bersumber dari impor.
Meski memiliki eksposur valuta asing, perusahaan tidak melakukan lindung nilai (hedging) terhadap seluruh eksposur tersebut karena perlu mempertimbangkan biaya yang ditimbulkan.
Dengan strategi tersebut, Metrodata tetap mempertahankan target pertumbuhan laba sekitar 10% pada 2026 meski menghadapi potensi perlambatan distribusi dan tekanan biaya pengadaan akibat pergerakan nilai tukar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: