Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bambang Brodjonegoro Bilang Rupiah Bisa Kembali Menguat, Ini Wejangan untuk BI

        Bambang Brodjonegoro Bilang Rupiah Bisa Kembali Menguat, Ini Wejangan untuk BI Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro memberikan sejumlah wejangan untuk mendongkrak rupiah kepada Bank Indonesia (BI). Menurutnya, nilai tukar rupiah sebenarnya masih memiliki ruang untuk kembali menguat apabila bank sentral mampu menjalankan kebijakan moneter secara tepat.

        Bambang menilai tugas bank sentral ke depan tidak cukup hanya menjaga agar rupiah tidak bergejolak. Mereka juga perlu memastikan inflasi terkendali sekaligus tetap berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

        Baca Juga: Di Balik Prabowo 'Giat' Pajaki Rakyat Indonesia: Tak Ada Pilihan Gegara 'Ugal-ugalan' Jokowi

        “Indonesia itu bisa lebih baik dari yang sekarang, gitu ya. Artinya kondisi rupiahnya harusnya bisa lebih menguat, selalu memperhatikan inflasi setiap bulan, jaga stabilitas melalui intervensi, melalui kenaikan tingkat bunga, dan seterusnya,” ujar Bambang di YouTube Hendri Satrio Official, dikutip Sabtu (15/8/2026).

        Menurut Bambang, menjaga nilai tukar membutuhkan kombinasi instrumen. BI dapat menggunakan intervensi pasar maupun kebijakan suku bunga untuk menjaga stabilitas ketika rupiah menghadapi tekanan.

        Namun, penggunaan instrumen tersebut harus mempertimbangkan kondisi perekonomian secara keseluruhan. Kebijakan yang terlalu ketat demi menjaga rupiah, misalnya, juga dapat memberikan konsekuensi terhadap pertumbuhan ekonomi.

        Karena itu, Bambang melihat bank sentral menghadapi tugas ganda. Di satu sisi, bank sentral harus menjaga stabilitas moneter. Di sisi lain, mereka juga dituntut ikut mendorong pertumbuhan ekonomi.

        “Artinya kondisi rupiahnya harusnya bisa lebih menguat, selalu memperhatikan inflasi setiap bulan, jaga stabilitas melalui intervensi, melalui kenaikan tingkat bunga, dan seterusnya. Nah, sekali ditambah dengan ikut berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.

        Di sisi lain, ia mengingatkan adanya keterbatasan yang harus diperhitungkan bank sentral , yakni kapasitas cadangan devisa.

        Menurut dia, cadangan devisa saat ini berada pada level yang setara dengan sekitar 5,5 bulan kebutuhan impor. Kondisi tersebut membuat bank sentral tidak memiliki pilihan yang terlalu luas apabila tekanan terhadap rupiah meningkat.

        Baca Juga: Soal Kabinet Bayangan Era Prabowo, Rocky Gerung: Kelihatannya... Bukan Menggantikan, Enggak Tuntas

        Dengan kondisi tersebut, strategi bank sentral tidak bisa hanya mengandalkan cadangan devisa untuk meredam gejolak rupiah. Kebijakan suku bunga, komunikasi kebijakan, pengelolaan ekspektasi pasar, serta instrumen moneter lainnya harus berjalan secara terukur.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: