Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jaga Kredibilitas Fiskal, Pemerintah Turunkan Target Defisit APBN 2027 ke 2,40% PDB

        Jaga Kredibilitas Fiskal, Pemerintah Turunkan Target Defisit APBN 2027 ke 2,40% PDB Kredit Foto: Aryo Hadi Wibowo
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintah mematok target defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2027 pada kisaran Rp671,12 triliun. Angka ini setara dengan 2,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ini menunjukkan konsistensi dalam mengelola risiko keuangan negara secara terukur.

        Penetapan angka defisit ini mencatatkan penurunan signifikan jika dibandingkan dengan outlook APBN tahun 2026 yang berada di level 2,80 persen dari PDB. Penurunan ini mencerminkan langkah konsolidasi fiskal yang cukup terarah demi memperkuat ruang gerak ekonomi nasional di masa mendatang.

        Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Ferry Ardianto, menegaskan bahwa penekanan angka defisit ini merupakan strategi terencana untuk memastikan APBN tetap kredibel. Kebijakan ini diambil tanpa mengorbankan fungsi APBN sebagai pendukung utama pembangunan nasional.

        "Pemerintah bicara pemilihan anggaran tahun 2027 adalah semangat defisit dan pembiayaan pembiayaan dalam kapasitas yang aman dan sustainable," ujar Ferry Ardianto dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

        Ferry menjelaskan, bahwa pengelolaan pembiayaan utang pada tahun anggaran 2027 akan difokuskan sebagai langkah antisipatif melalui manajemen kas dan utang yang aktif. Pendekatan tersebut dirancang agar pemerintah memiliki daya tahan yang tinggi dalam hadapi dinamika ekonomi global.

        "Pemilihan utang sebagai langkah antisipatif dan active cash and debt management. Ada yang paling penting peranan special mission critical, the right move, and sovereign welfare," lanjut Ferry menegaskan kehati-hatian dalam strategi pembiayaan.

        Lebih lanjut, Ferry menyampaikan bahwa platform pembiayaan tidak hanya terpaku pada instrumen konvensional. Pemerintah juga membuka peluang akses pembiayaan yang lebih fleksibel dan responsif terhadap perubahan ekonomi nasional maupun global.

        "Kami juga meletakkan konseks hal sebagai platform untuk mitigasi ketidakpastian. Ada juga pertandingan akses pembiayaa terutama melalui fasilitas-fasilitas digitalitas penjaga rumah hal dan memperkuat keperluan fiskal," tutur Ferry.

        Pemerintah berharap agar pembiayaan defisit anggaran ini tidak sekadar memenuhi kebutuhan jangka pendek, melainkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan dan lebih berkualitas.

        "Kami berharap pembiayaan defisit anggaran ini akan dilakukan secara prudent, inovatif, dan berlanjutan melalui pengeluaran utang yang hati-hati serta diversifikasi sumber pembiayaan," ungkap Ferry mengakhiri penjelasannya.

        Strategi pengelolaan defisit ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan bahwa APBN bukan sekadar dokumen administratif tahunan. APBN diposisikan sebagai instrumen strategis untuk melindungi rakyat dan memperkuat fondasi pembangunan nasional.

        Baca Juga: Dari Pertumbuhan 6% hingga Defisit 2,4%, ini Target yang Prabowo Bidik dalam RAPBN 2027

        Baca Juga: Purbaya Buka Suara soal Isu Defisit APBN 3 Persen Dihapus, Singgung Sikap Tegas Prabowo

        Dengan postur defisit yang jauh lebih rendah, pemerintah optimistis dapat menjaga kestabilan pasar keuangan domestik. Langkah ini juga diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia di tingkat internasional.

        Upaya efisiensi dan peningkatkan kualitas belanja (spending review) akan terus diperkuat agar target penekanan defisit ini dapat tercapai tanpa mengganggu pendanaan program-program prioritas masyarakat.

        Melalui arsitektur fiskal yang prudent dan responsif ini, RAPBN 2027 diharapkan menjadi pijakan kokoh untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang lebih cepat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aryo Hadi Wibowo
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: