- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Bahlil Ibaratkan Harga Minyak Dunia seperti Demam Malaria: Pagi Turun, Malam Naik
Kredit Foto: Istihanah
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyoroti pergerakan harga minyak mentah dunia yang sangat fluktuatif. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti orang yang sedang terserang demam malaria.
Menurut Bahlil, harga minyak dunia dapat berubah drastis dalam waktu singkat. Pergerakan tersebut dipengaruhi berbagai dinamika geopolitik global.
"Harga daripada minyak dunia saya umpamakan seperti orang sakit malaria. Pagi bisa turun, malam bisa naik. Tiga hari bisa turun, tujuh hari bisa naik," ujar Bahlil dalam acara Geothermal Convention & Exhibition di Jakarta International Convention Center, Rabu (19/8).
Bahlil menyebut kondisi Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga minyak dunia. Kesepakatan dan isu mengenai penguasaan akses kawasan tersebut turut menentukan arah pergerakan harga energi.
Ia menilai belum ada pihak yang dapat memastikan kapan ketegangan geopolitik dunia akan berakhir. Situasi tersebut juga berpengaruh terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi global.
Menurut Bahlil, kondisi tersebut membuat banyak negara mulai memprioritaskan kepentingan nasional. Ketergantungan terhadap energi menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan Indonesia.
"Bayangkan kalau hampir semua dunia menggantungkan hidupnya di sektor energi gara-gara Selat Hormuz. Di mana letak kedaulatan dan kemerdekaan sebuah bangsa termasuk Indonesia?" ujar Bahlil.
Dinamika tersebut mendorong Presiden Prabowo Subianto meminta pemerintah mencari alternatif untuk memperkuat kedaulatan energi nasional. Pemerintah kemudian menyiapkan sejumlah langkah melalui pengembangan energi baru terbarukan.
Bahlil mengatakan pemerintah telah menetapkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2035. Dalam rencana tersebut, porsi energi baru terbarukan ditargetkan mencapai 70 hingga 75 persen.
Bauran energi tersebut akan berasal dari sejumlah sumber. Di antaranya gas, panel surya, panas bumi atau geothermal, serta energi air.
Baca Juga: Bahlil: Pembatasan Pertalite bagi Desil 9-10 Masih dalam Kajian
Pemerintah juga menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt dalam beberapa tahun mendatang. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat transisi energi nasional.
"Tahun ini kita akan sudah mulai masuk tahap pertama dengan pembangunan 30 gigawatt," ujar Bahlil.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: