Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Emas Bakal Tembus Rp3 Juta Lagi? Ini Kata Pegadaian

        Harga Emas Bakal Tembus Rp3 Juta Lagi? Ini Kata Pegadaian Kredit Foto: Azka Elfriza
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Pegadaian (Persero) menyebut harga emas masih sulit diproyeksikan hingga akhir 2026. Direktur Jaringan dan Operasi Pegadaian Eka Pebriansyah mengatakan kondisi geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang dapat mengerek atau menekan harga emas.

        Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh Rp3 juta per gram pada akhir Januari 2026 sebelum bergerak di kisaran Rp2,6 juta per gram.

        Eka mengatakan proyeksi harga emas hingga akhir tahun masih beragam. Sejumlah pengamat memperkirakan harga emas akan naik, sementara lainnya memprediksi penurunan.

        “Kalau bicara tentang prediksi, kita lihat banyak pengamat yang prediksinya ada yang bilang turun, ada yang bilang naik. Karena apa? Faktor pengungkit dari kenaikan harga emas ini saat ini sangat beragam, beda dengan sebelumnya. Tapi yang paling penting faktor pengungkitnya itu adalah masalah geopolitik,” ujar Eka saat ditemui usai acara Expo Keuangan dan Seminar Syariah 2026 di Mall Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

        Menurut dia, perkembangan konflik dan situasi global dapat memengaruhi sentimen terhadap emas. Kondisi di sekitar Selat Hormuz serta perkembangan perang dan ketegangan geopolitik menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.

        “Jadi mungkin nanti bisa saja dilihat di media ketika Hormuz misalkan sudah tidak ada isu lagi, sudah kembali normal misalnya, tidak ada lagi perang misalnya. Itu nanti saya yakin harga emas juga akan terjadi peningkatan,” katanya.

        Di tengah kenaikan harga emas, minat masyarakat untuk membeli emas juga sempat meningkat. Eka mengatakan animo pembelian tercatat tinggi sepanjang Januari hingga Mei 2026 ketika harga emas terus bergerak naik.

        “Jadi di Januari sampai dengan bulan Mei itu kita terjadi peningkatan animo pembelian emas yang tinggi banget. Karena harganya itu tinggi, jadi masyarakat Indonesia ketika harga makin naik itu makin dikejar. Orang makin beli emas, cicil emas, beli emas, tabungan emas tuh kencang banget di situ,” ujarnya.

        Eka menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena fear of missing out (FOMO). Ketika harga emas terus naik, masyarakat cenderung mempercepat pembelian. Sebaliknya, ketika harga bergerak landai, minat pembelian cenderung menunggu momentum berikutnya.

        “Jadi kalau emas begitu misalkan ini naik nih Rp2,6 juta, besok misalnya naik Rp2,7 juta, besok Rp2,8 juta, itu mesti animo tinggi. FOMO mungkin, pengen cepet-cepet beli,” kata Eka.

        Meski demikian, Eka mengingatkan bahwa emas lebih sesuai untuk tujuan investasi jangka panjang. Menurut dia, pergerakan harga emas dalam jangka pendek tetap dapat mengalami kenaikan dan penurunan.

        Baca Juga: Harga Emas Antam Bertahan di Rp2.725.000 per Gram, Cek Pecahan Lainnya

        Baca Juga: 1.800 Ton Emas Warga Masih Disimpan di Rumah, Nilainya Capai Rp4.460 Triliun

        Baca Juga: Masyarakat Gencar Borong Emas, Kelolaan Bullion Bank Pegadaian Tembus 153 Ton

        Selain tren harga, aktivitas pengelolaan emas Pegadaian dalam ekosistem Bullion Bank juga terus berkembang. Eka mengatakan total kelolaan emas dalam ekosistem tersebut telah menembus lebih dari 153 ton.

        Jika dihitung menggunakan asumsi harga emas Rp2,6 juta per gram, total emas sebanyak 153 ton tersebut setara dengan nilai sekitar Rp397,8 triliun.

        "Kita saat ini kelolaan, sebagaimana pengelolaan emas di Bullion Bank ini, sebagaimana yang disampaikan juga oleh Pak Presiden kan beberapa waktu lalu, kita sudah lebih dari 153 ton," ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: