Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat di Level Rp17.694 per USD

        Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat di Level Rp17.694 per USD Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Mata uang Garuda terpakrir di Rp17.694 atau menguat 54 poin dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp17.748 per USD.

        Pengamat mata uang ibrahim dan komoditas, Ibrahim Assauibi, mengatakan penguatan rupiah didukung oleh pertumbuhan kredit bulan Juli yang tetap solid meskipun dunia usaha mengurangi aktivitas peminjaman di tengah ketidakpastian. 

        "Kredit perbankan di Indonesia pada Juli 2026 tumbuh solid sebesar 13,58 persen secara tahunan (year-on-year), meningkat dari 12,67 persen pada Juni 2026," kata Ibrahim kepada wartawan.

        Ibrahim menyebut kinerja positif ini didorong oleh insentif likuiditas ( Rasio kecukupan modal atau CAR perbankan berada di level tinggi 23,70 persen, Rasio kredit bermasalah atau NPL tetap terjaga rendah di kisaran 2,09 persen bruto) dan kebijakan makroprudensial yang akomodatif dari Bank Indonesia (BI), bukan karena penurunan minat dari dunia usaha. 

        Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) melaporkan defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) sebesar US$ 12,5 miliar pada kuartal II-2026 atau 3,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

        Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diprakirakan temporer. Pada kuartal sebelumnya defisit transaksi berjalan hanya sebesar US$ 3,6 miliar atau 1,0% dari PDB.

        Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia. Surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi. 

        Baca Juga: Rupiah dan Mayoritas Mata Uang Asia Menguat Pagi Ini

        Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.748, Pasar Respons Rencana Pangkas Kuota BBM Subsidi

        Selain itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian pada triwulan I 2026.

        Selain itu, kekhawatiran terhadap inflasi pangan akibat El Niño sangat beralasan karena fenomena iklim ini dapat menurunkan produksi pertanian akibat kekeringan panjang membuat pasokan beras dan komoditas lain berkurang sehingga memicu lonjakan harga barang. Pada akhirnya menggerus daya beli serta tingkat kepercayaan masyarakat. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: