Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah dan Mayoritas Mata Uang Asia Menguat Pagi Ini

Rupiah dan Mayoritas Mata Uang Asia Menguat Pagi Ini Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Berdasarkan pukul 09:10 WIB mata uang uang Garuda menguat 0,16 persen ke posisi Rp17.715 per dolar AS.

Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang mendapat dukungan dari melemahnya dolar AS terhadap mata uang utama dunia.

Won Korea Selatan tercatat menjadi mata uang Asia dengan penguatan terbesar, yakni 0,96%. Setelahnya, dolar Taiwan dan rupiah juga menguat pada perdagangan pagi ini.

Sebagian besar mata uang Asia bergerak positif. Sementara itu, ringgit Malaysia menjadi salah satu mata uang yang masih melemah, meski dalam level yang sangat terbatas.

Penguatan mata uang Asia turut ditopang oleh pelemahan indeks dolar AS yang berada di level 98,76.

Dolar AS tertekan setelah investor melepas sejumlah aset berbasis dolar. Sentimen tersebut salah satunya dipengaruhi oleh kondisi fiskal Amerika Serikat, setelah pemerintah AS mencatat defisit anggaran sebesar US$432,3 miliar pada Juli 2026.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pasar merespon positif terhadap pemerintah yang berencana memangkas kuota BBM bersubsidi secara signifikan pada 2027. Kebijakan tersebut berpotensi berdampak terhadap masyarakat pengguna BBM bersubsidi, terutama untuk jenis BBM Pertalite.

"Pengurangan subsidi BBM tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah untuk melakukan pengendalian subsidi. Langkah tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menentukan penurunan subsidi BBM tertentu pada 2027," kata Ibrahim kepada wartawan.

Dengan pemangkasan kuota hingga 58,5%, masyarakat yang selama ini mengandalkan BBM bersubsidi berpotensi menghadapi pengetatan akses terhadap BBM subsidi.

Di sisi lain, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$ 75 per barel pada 2027. Angka tersebut masih berada di bawah harga minyak saat ini yang berada di kisaran US$ 83 per barel, Rupiah di angka Rp.17.500.

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.748, Pasar Respons Rencana Pangkas Kuota BBM Subsidi

Baca Juga: Tok! BI Tahan Suku Bunga di 5,75%, Fokus Jaga Rupiah di Tengah Gejolak Timur Tengah

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat BBM bersubsidi berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan mobilitas masyarakat. Terlebih, pengguna Pertalite didominasi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari.

"Pembatasan kuota yang cukup besar berpotensi meningkatkan beban pengeluaran apabila masyarakat harus beralih ke BBM nonsubsidi," jelas dia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: