Adik Kim Jong Un Ejek Korsel sebagai 'Boneka' AS Usai Latihan Militer Dikurangi
Kredit Foto: KCNA
Adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Kim Yo Jong, mengejek Korea Selatan setelah skala latihan militer gabungan dengan Amerika Serikat dikurangi.
Kim Yo Jong menyebut keputusan tersebut menunjukkan Seoul tidak memiliki kendali penuh atas kebijakan pertahanannya. Ia bahkan menyebut Korea Selatan sebagai "pasukan boneka" Amerika Serikat.
Dalam pernyataan yang dirilis media pemerintah Korea Utara pada Kamis (20/8) malam, Kim Yo Jong mengatakan Presiden AS Donald Trump secara mendadak memerintahkan pengurangan skala latihan militer tersebut.
"Trump mengeluarkan perintah mendadak untuk mengurangi skala latihan tersebut. Hal ini menempatkan Seoul dalam situasi sulit karena mereka harus membatalkan 'latihan perang' yang sangat mereka sukai," kata Kim Yo Jong, seperti dilansir Yonhap dan Korea Times, Jumat (21/8/2026).
Kim Yo Jong mengatakan Korea Selatan tidak mampu menyampaikan keberatan atas keputusan Washington. Ia juga menyinggung keberadaan pasukan Amerika Serikat di Korea Selatan.
"Ini adalah nasib tak terelakkan dari pasukan boneka," ejek Kim Yo Jong. Ia juga mengatakan Seoul tidak bisa melontarkan satu pun kata protes atas kepergian tentara AS.
Kim Yo Jong kemudian menyerang Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Ia menilai sikap Lee yang menghormati keputusan pengurangan latihan militer sekaligus berkomitmen memperkuat kemampuan pertahanan nasional sebagai tindakan bermuka dua.
Menurut Kim Yo Jong, pernyataan Lee menunjukkan kegelisahan Korea Selatan setelah Amerika Serikat mengurangi skala latihan militer gabungan. Ia menilai Seoul tetap bergantung pada Washington meski berbicara mengenai kemandirian pertahanan.
"Sembari menjilat Trump dengan komentar memalukan seperti 'menyampaikan rasa hormat' atau menyebut pengurangan latihan itu sebagai 'keputusan berbobot yang penuh pertimbangan matang', Lee Jae Myung yang belakangan justru berbicara soal pertahanan mandiri dan pengamanan kemampuan militer independen untuk mengantisipasi skenario terburuk, telah menyingkap psikologi Korea Selatan yang kontradiktif, dipenuhi kecemasan dan kegelisahan, melalui sikap munafik dan bermuka dua tersebut," sebutnya.
Kim Yo Jong juga menggambarkan hubungan Washington dan Seoul sebagai hubungan antara majikan dan pelayan. Menurut dia, Korea Selatan telah terlalu bergantung pada dukungan keamanan Amerika Serikat.
Kim Yo Jong menyebut pengurangan skala latihan militer gabungan itu sebagai "bencana nyata" bagi Korea Selatan. Ia menilai Seoul telah dibutakan oleh keyakinan terhadap perlindungan Amerika Serikat.
"Dunia menyaksikan kenyataan bahwa bantuan keamanan AS tidak lagi diberikan secara cuma-cuma," sebutnya.
Kim Yo Jong bahkan memperingatkan Korea Selatan mengenai konsekuensi ketergantungannya terhadap Washington. Ia mengatakan Seoul bisa dipaksa memberikan lebih banyak hal demi mempertahankan dukungan keamanan dari Amerika Serikat.
Baca Juga: Korut Beri Sinyal Tembakan Rudal Setelah Trump Minta Bertemu Kim Jong Un, Apa Artinya?
"Demi mendapatkan dukungan dari tuan yang tak kenal belas kasihan itu, mereka mungkin harus menyerahkan bahkan tanah tempat mereka berpijak sekalipun," ucap Kim Yo Jong, seperti dilansir Chosun Daily.
Pernyataan terbaru Kim Yo Jong disampaikan setelah sebelumnya ia memilih tidak banyak berkomentar mengenai keputusan Trump. Saat itu, dia menyebut perintah untuk mengurangi skala latihan militer AS-Korea Selatan sebagai sesuatu yang "tidak layak dikomentari dan sama sekali tidak menarik".
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: