Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ternyata Tagihan Listrik hingga Jumlah Anggota Keluarga Bisa Pengaruhi Desil, Ini Penjelasan BPS

        Ternyata Tagihan Listrik hingga Jumlah Anggota Keluarga Bisa Pengaruhi Desil, Ini Penjelasan BPS Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan bahwa banyak faktor yang menyebabkan  sebuah keluarga bisa masuk desil tertentu meski kondisi ekonominya terlihat berbeda dari hasil pemeringkatan. Beragam informasi yang tampak sederhana, seperti daya dan konsumsi listrik, kondisi rumah, hingga komposisi anggota keluarga, ikut diperhitungkan dalam pemeringkatan.

        Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan desil merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan. Karena itu, satu indikator saja tidak dapat langsung menentukan sebuah keluarga berada di desil tertentu.

        Baca Juga: Rektor Ova: UGM Tak Mau Berkomentar Soal Ijazah yang Kini di Tangan Jokowi

        “Pemeringkatan mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial ekonomi, yakni kondisi perumahan, sumber air minum, bahan bakar dan energi untuk memasak, kepemilikan aset, daya dan konsumsi listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, serta disabilitas,” terang Amalia dalam keterangan tertulis, Senin (24/8/2026).

        Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa sistem desil memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar menghitung pendapatan bulanan.

        Misalnya, kondisi tempat tinggal menjadi salah satu informasi yang diperhatikan. Begitu pula sumber air minum dan jenis bahan bakar atau energi yang digunakan keluarga untuk memasak.

        Kepemilikan aset juga masuk dalam pertimbangan. Demikian pula informasi mengenai daya dan konsumsi listrik. Artinya, karakteristik penggunaan listrik menjadi salah satu bagian dari kumpulan informasi yang diproses dalam pemeringkatan, bukan penentu tunggal status desil.

        Komposisi keluarga juga menjadi faktor yang diperhitungkan. Jumlah serta karakteristik anggota keluarga dapat memberikan gambaran berbeda mengenai kondisi sosial ekonomi dibandingkan hanya melihat pendapatan kepala keluarga.

        Selain faktor rumah tangga, lembaga tersebut turut memperhitungkan pendidikan, pekerjaan, kesehatan, serta kondisi disabilitas.

        Kumpulan informasi tersebut kemudian diproses secara statistik menggunakan metode proxy means test (PMT). Metode ini digunakan untuk mengestimasi tingkat kesejahteraan keluarga melalui berbagai karakteristik yang dapat diamati.

        Konsumsi dan daya listrik menjadi salah satu contoh indikator yang mungkin membuat masyarakat keliru memahami sistem desil. BPS menegaskan bahwa daya listrik atau satu jenis kepemilikan tertentu tidak otomatis menentukan posisi keluarga.

        Artinya, keluarga dengan daya listrik tertentu tidak serta-merta langsung ditempatkan pada desil tinggi. Informasi tersebut hanya menjadi salah satu bagian dari sekian banyak karakteristik yang dianalisis secara bersamaan. Hal serupa berlaku pada pekerjaan, aset, kondisi rumah, maupun karakteristik anggota keluarga.

        “Karena menggunakan kombinasi berbagai karakteristik, satu kondisi atau satu indikator saja tidak dengan sendirinya menentukan posisi desil suatu keluarga,” ujar Amalia.

        Sistem tersebut digunakan karena informasi mengenai pendapatan dan konsumsi rumah tangga tidak selalu mudah diperoleh atau diverifikasi secara lengkap. BPS menyebut metode yang digunakan juga digunakan secara internasional untuk kondisi serupa.

        Setelah berbagai karakteristik diproses, keluarga kemudian ditempatkan ke dalam 10 kelompok atau desil. Setiap kelompok mencakup sekitar 10 persen keluarga.

        Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah. Sebaliknya, desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.

        Namun, label tersebut tidak berarti keluarga dalam satu kelompok memiliki kondisi ekonomi yang persis sama. Pemeringkatan tersebut bersifat relatif terhadap keluarga lainnya.

        Posisi desil pun tidak bersifat permanen. Perubahan kondisi sosial ekonomi keluarga atau perubahan posisi relatif terhadap keluarga lain dapat menyebabkan posisi desil berubah.

        Karena itu, pemerintah terus melakukan pemutakhiran DTSEN. BPS mencatat DTSEN Versi 3 Tahun 2026 per 10 Juli 2026 memuat 290,13 juta record individu dan 95,98 juta record keluarga.

        Pemutakhiran dilakukan dengan menggabungkan berbagai sumber data, termasuk administrasi, sensus, survei, pembaruan dari kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, serta pengecekan lapangan.

        Baca Juga: Sayembara Ijazah Gibran Berujung 'Teror' ke Pencetusnya: Kasus Muncul, Whatsapp Tak Bisa Diakses

        “Posisi desil dapat berubah seiring perubahan kondisi sosial ekonomi keluarga dan perubahan posisi relatifnya dibandingkan keluarga lainnya,” kata Amalia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: