Netanyahu Pasang Baliho Daftar Musuh Utama Israel, Ada Erdogan hingga Wali Kota New York
Kredit Foto: Istimewa
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memasang baliho bergambar empat tokoh yang dianggap sebagai musuh Israel. Empat tokoh tersebut adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, pemimpin Hizbullah, dan Wali Kota New York Zohran Mamdani.
Baliho tersebut terpasang di jalan raya utama Tel Aviv sejak pekan lalu. Kemunculannya bertepatan dengan persiapan pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober.
"Jangan biarkan mereka menang," tulis Netanyahu dalam unggahan di X yang menampilkan baliho tersebut. Pesan itu juga muncul ketika anggota Partai Likud tengah mengikuti pemilihan internal untuk menentukan calon legislatif.
Nama Erdogan dalam baliho tersebut menjadi sorotan karena hubungan Turki dan Israel terus memburuk. Ankara selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu pihak yang paling keras mengecam kebijakan Israel terhadap Palestina.
Ketegangan terbaru terjadi setelah Israel menggempur wilayah udara Abu Al Duhur dekat Aleppo, Suriah. Lokasi tersebut berjarak sekitar 70 kilometer dari wilayah Turki dan membuat Ankara mengecam keras tindakan Tel Aviv.
Israel menyebut serangan itu berkaitan dengan dugaan rencana Turki menempatkan pasukan dan peralatan militer di pangkalan udara tersebut. Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan intelijen Israel menunjukkan adanya persiapan pengerahan personel, drone, dan sistem pertahanan udara Turki.
Israel menilai keberadaan militer Turki di pangkalan tersebut dapat membatasi ruang gerak pasukannya di wilayah udara Suriah. Ankara membantah tuduhan tersebut dan menuding Netanyahu menjalankan kebijakan ekspansionis serta destabilisasi kawasan menjelang pemilu.
Utusan AS untuk Suriah sekaligus Duta Besar AS untuk Turki Tom Barrack turut menyoroti waktu serangan tersebut. "Langkah yang sangat agresif, tetapi mungkin akan diterima dengan baik menjelang pemilihan umum," kata Barrack dalam wawancara dengan podcaster Mario Nawfal.
Netanyahu membantah bahwa kebijakan tersebut didorong kepentingan politik. "Kami tidak akan mentolerir kehadiran militer Turki yang berakar di Suriah dan mengancam Israel," kata Netanyahu pekan lalu.
Pakar keamanan Israel Amos Harel menilai pertimbangan keamanan dan politik sama-sama mungkin berperan dalam kebijakan Netanyahu. "Sangat jelas Netanyahu sedang mengejar kebijakan agresif dan baru," kata Harel kepada CNN.
Hubungan Netanyahu dan Erdogan sendiri telah lama diwarnai saling serang. Netanyahu pernah menyebut Erdogan sebagai "tiran anti-semit", sedangkan Erdogan menyebut Netanyahu sebagai "penjahat perang" dan menuduh Israel melakukan genosida di Gaza.
Baca Juga: Netanyahu Klaim Iran Berusaha Bunuh Anaknya di Tengah Perang dengan AS
Menjelang pemilu, tingkat popularitas dan kepercayaan publik terhadap Netanyahu serta blok politiknya disebut merosot. Harel menilai kondisi darurat keamanan berpotensi mengubah lanskap politik dan memberi Netanyahu ruang untuk mengendalikan agenda kampanye.
"Netanyahu dikenal percaya bahwa keadaan darurat keamanan adalah pilihan terakhir yang bisa mengubah keadaan dan meningkatkan peluangnya untuk bertahan dalam pemilihan ini," kata Harel.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: