Kredit Foto: Istimewa
Konsumsi Pertalite dan solar bersubsidi naik konsisten sepanjang April hingga Agustus 2026, seiring melebarnya selisih harga dengan BBM nonsubsidi. BPH Migas mencatat kenaikan tertinggi solar mencapai 15,10 persen dan Pertalite 12,92 persen.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, memaparkan kondisi tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
"Konsumsinya cukup melebihi hampir seluruh provinsi di wilayah kepulauan, baik itu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, maupun di Papua dan Maluku. Itu semua mengalami kenaikan," ujarnya.
Sebelum ada penyesuaian, selisih Pertamax dengan Pertalite hanya Rp2.300 per liter. Pada 10 Juni 2026, harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sehingga selisihnya melebar menjadi Rp6.250 per liter.
Pada 1 Agustus 2026, Pertamax turun menjadi Rp15.950 per liter. Namun selisih dengan Pertalite tetap lebar di Rp5.950 per liter.
Menurut Wahyudi, kondisi itulah yang mendorong masyarakat berpindah ke BBM bersubsidi. "Yang pertama adalah disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi yang masih lebar, sehingga masyarakat melakukan pergeseran penggunaan ke BBM subsidi dan kompensasi negara," ujarnya.
Pertalite Naik 12,92 Persen
Sebelum harga Pertamax naik, rata-rata penyaluran Pertalite tercatat 75.795 kiloliter per hari. Angka itu bergerak menjadi 82.760 kiloliter per hari pada 10 Juni, naik 9,19 persen.
Kenaikan berlanjut ke 85.589 kiloliter per hari pada 1 Juli, atau naik 12,92 persen dari posisi awal. Setelah Pertamax turun pada 1 Agustus, penyaluran Pertalite melandai ke 84.368 kiloliter per hari, dengan kenaikan 11,31 persen dari posisi awal.
Solar Naik 15,10 Persen
Pola serupa terjadi pada solar bersubsidi, mengikuti perubahan harga Dexlite dan Pertamina Dex. Rata-rata penyaluran solar awalnya 50.624 kiloliter per hari.
Angkanya naik bertahap menjadi 52.685 kiloliter per hari pada 4 Mei, lalu 56.521 kiloliter pada 1 Juni, 57.963 kiloliter pada 1 Juli, hingga 58.271 kiloliter pada 1 Agustus. Kenaikan totalnya 7.647 kiloliter per hari atau 15,10 persen.
Selisih harga pada produk diesel jauh lebih lebar. Dexlite dipatok Rp19.700 per liter dan Pertamina Dex Rp21.150 per liter, sementara Biosolar bersubsidi Rp6.800 per liter.
Selain selisih harga, Wahyudi menyebut menggeliatnya aktivitas angkutan barang sebagai faktor pendorong.
"Ini penting untuk dicermati karena di triwulan dua ini kegiatan logistik terus terjadi peningkatan, baik itu untuk ekspor maupun impor, untuk didistribusikan kepada masyarakat di sekitar wilayah tersebut," ujarnya.
Ia mencatat lonjakan kebutuhan terjadi antara lain di Surabaya dan sekitarnya, Medan, Palembang, Riau, Kalimantan, serta Makassar.
Baca Juga: Orang Kaya Bakal Dilarang Beli Pertalite, Pertamina Tunggu Arahan Purbaya
Baca Juga: Solar Subsidi Overkuota di 32 Provinsi, Aceh Tertinggi 73 Persen
Pertumbuhan sektor produktif juga mengerek permintaan. Sektor perdagangan tumbuh 6,39 persen, akomodasi dan makan minuman 10,60 persen, serta pertanian 3,8 persen sepanjang tahun berjalan. Wahyudi turut mengaitkannya dengan program pemerintah seperti koperasi nelayan merah putih, brigade pangan, dan food estate.
Serapan Solar Lampaui Ambang Normal
Akumulasi kenaikan itu membuat serapan solar bersubsidi melampaui batas kewajaran. Hingga 20 Agustus 2026, realisasinya 12.444.517 kiloliter, sementara patokan penyaluran normal yang dipakai BPH Migas adalah 63,9 persen dari kuota.
"Seluruh provinsi memang posisinya melebihi dari alokasi yang ditetapkan," kata Wahyudi.
Kondisi berbeda terjadi pada Pertalite dan minyak tanah. Pertalite terealisasi 18.225.946 kiloliter atau 62,3 persen dari prognosa 29,27 juta kiloliter, sedangkan minyak tanah 328.683 kiloliter atau 62,5 persen dari prognosa 0,53 juta kiloliter.
"Untuk minyak tanah masih cukup aman. Posisi Pertalite juga cukup aman," ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: