Properti Residensial RI Melambat, Pinhome Bongkar Wilayah yang Masih Tinggi Peminat
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Indonesia Property Market Signal milik Pinhome catatkan aktivitas pasar properti residensial Indonesia melambat pada Kuartal II-2026 yang tercermin dari skornya yang melandai dibandingkan puncak aktivitas pada akhir 2025 yakni sebesar 50,3 di tahun ini dari skala 0-100.
Laporan itu mengukur sejumlah indikator pasar, mulai dari aktivitas pencarian, interaksi terhadap listing, penawaran, pasokan rumah, hingga kecepatan transaksi untuk menangkap perubahan pasar sebelum tercermin dalam data transaksi aktual.
Penurunan paling tajam terjadi pada aktivitas pencarian, yang mencakup penggunaan filter, penyimpanan (wishlist), serta pembagian listing. Indikator tersebut tercatat pada skor 38,8 dari 100. Namun, minat calon pembeli untuk menghubungi agen maupun pemilik properti masih terjaga.
CEO & Founder Pinhome Dayu Dara Permata mengatakan perlambatan tersebut lebih mencerminkan perubahan perilaku calon pembeli dalam menentukan pilihan.
"Calon pembeli kini lebih fokus pada properti yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan anggaran mereka. Artinya, yang melambat bukan minat untuk membeli, melainkan proses pengambilan keputusan yang menjadi lebih terukur," ujar Dara dalam keterangan resmi, Kamis (27/8/2026).
Di sisi lain, pasokan properti menjadi penopang pasar dengan skor 56,8. Jumlah listing baru masih tinggi, sementara proporsi penjual yang terbuka terhadap negosiasi harga maupun penjualan lebih cepat juga meningkat.
“Di tengah meningkatnya fleksibilitas dari sisi penjual, kondisi ini membuka peluang bagi pembeli untuk memperoleh kesepakatan yang lebih optimal,” jelas Dara.
Lebih lanjut, kecepatan transaksi juga mulai menunjukkan perbaikan dengan skor 55,4, setelah melabat pada Kuartal I-2026.
Secara geografis, pelemahan minat beli paling tajam terjadi di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Kota Depok. Sebaliknya, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Tangerang, serta Kabupaten Bogor mencatat penguatan minat. Kota Bekasi, Kota Tangerang, dan Surabaya juga menunjukkan peningkatan, sementara Kota Bandung relatif stabil.
Dari sisi dinamika permintaan dan pasokan, koridor Bekasi, Tangerang, dan Surabaya menjadi wilayah yang paling dinamis karena minat beli dan listing baru sama-sama menguat. Kabupaten Bogor semakin kompetitif karena permintaan meningkat ketika pasokan menyusut.
Baca Juga: Penjualan Properti Turun 25,67%, Pinhome Catat Pencarian Rumah Justru Naik
Baca Juga: PPRO Genjot Penjualan Properti lewat Danantara Housing Expo 2026
Sementara itu, Bandung dan Jakarta Timur memberikan ruang negosiasi lebih besar bagi pembeli karena pertumbuhan pasokan melampaui peningkatan minat.
"Perubahan di pasar properti umumnya diawali oleh perubahan perilaku pencarian dan interaksi calon pembeli. Karena itu, Pinhome Indonesia Property Market Signal dirancang untuk menangkap sinyal-sinyal awal tersebut sehingga dapat memberikan perspektif yang lebih cepat mengenai dinamika pasar," tutup Dara.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri