IFRA 2026 Dibuka, Industri Waralaba Didorong Tumbuh Lebih Etis dan Transparan
Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Industri waralaba di Indonesia kembali mempertemukan pelaku usaha, pemilik merek, hingga calon mitra bisnis dalam gelaran International Franchise, License and Business Concept Expo & Conference (IFRA) 2026.
Memasuki penyelenggaraan ke-25, IFRA tahun ini membawa tema “Empowering the Growth of Ethical Franchising”. Tema tersebut menempatkan aspek legalitas, keamanan, dan transparansi sebagai bagian penting dalam pengembangan bisnis waralaba.
Pembukaan IFRA 2026 digelar di ICE BSD City, Tangerang. Penyelenggara memperkirakan lebih dari 30.000 pengunjung akan hadir untuk melihat berbagai peluang bisnis yang ditawarkan dalam pameran tersebut.
Sebanyak lebih dari 250 merek disebut ambil bagian dalam IFRA 2026. Selain pameran, agenda yang disiapkan juga mencakup business talk show, business matching, celebrity talk show, serta sejumlah program yang ditujukan untuk mempertemukan pemilik merek dengan calon mitra usaha.
Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung menilai pertumbuhan bisnis waralaba tidak cukup hanya dilihat dari seberapa besar nilai transaksi yang mampu dihasilkan. Ekosistem bisnis juga perlu dibangun dengan praktik yang aman, memiliki dasar hukum yang jelas, serta berlangsung secara transparan.
“Pertumbuhan bisnis bukan hanya tentang berapa banyak uang yang bisa kita hasilkan, tetapi juga bagaimana membangun dan menjalankan bisnis secara aman, legal, dan transparan,” ujar Daswar di Tangerang, Jumat (28/8/2026).
Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Soekandar yang turut hadir dalam pembukaan menekankan bahwa waralaba pada dasarnya merupakan konsep pemasaran sekaligus salah satu bentuk solusi strategis bagi pengembangan usaha.
Menurut dia, konsep kemitraan dan waralaba perlu dipahami secara tepat agar pelaku usaha tidak mencampuradukkan keduanya. Kemitraan, misalnya, dapat mencakup hubungan produksi dan pemasaran, sementara waralaba memiliki sistem dan konsep bisnis tersendiri.
Ia juga melihat Indonesia memiliki ruang yang besar untuk mengembangkan bisnis waralaba, termasuk dari sektor kuliner. Keragaman daerah dari Aceh hingga Manado dinilai menjadi modal untuk menciptakan berbagai konsep usaha yang dapat dikembangkan lebih luas.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Iqbal Shoffan Shofwan menilai waralaba dapat menjadi salah satu jalur untuk mendorong pertumbuhan kewirausahaan nasional.
Ia menyebut tingkat kewirausahaan Indonesia masih berada di kisaran 3,29 persen. Angka tersebut masih berada di bawah sejumlah negara di kawasan, seperti Malaysia dan Thailand yang berada di kisaran 4,8-5 persen.
Karena itu, pengembangan ekosistem waralaba dinilai dapat membantu masyarakat memulai usaha dengan sistem yang sudah tersedia. Meski demikian, Iqbal mengingatkan bahwa bergabung dalam bisnis waralaba bukan berarti pelaku usaha terbebas dari risiko.
“Tidak ada usaha yang bebas risiko,” kata dia.
Menurutnya, salah satu keunggulan waralaba adalah calon pengusaha tidak harus membangun bisnis sepenuhnya dari awal. Sistem produksi, pemasaran, hingga operasional yang telah terbentuk dapat menjadi modal untuk memulai usaha.
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong agar merek-merek lokal tidak hanya berkembang di pasar domestik. Program Local to Global disebut menjadi salah satu upaya untuk membuka jalan bagi produk dan merek Indonesia masuk ke pasar internasional.
Pengembangan kuliner menjadi salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang besar. Iqbal mencontohkan keberadaan restoran atau produk kuliner Indonesia di luar negeri yang berpotensi menjadi representasi produk nasional sekaligus membuka pasar baru.
Baca Juga: Insentif Motor Listrik Turun Jadi Rp3 Juta, Kemenperin Tunggu Kepastian Kuota
Baca Juga: Molinas Diluncurkan, Kemenperin Dorong Indonesia Tak Cuma Jadi Pasar
Baca Juga: Kemenperin Soal Pajak Kendaraan Listrik DKI: Jangan Memberatkan Industri
Bagi industri waralaba, langkah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan bisnis tidak berhenti pada penambahan jumlah gerai di dalam negeri. Ada peluang yang lebih besar untuk membawa konsep usaha lokal ke pasar global, sepanjang pelaku usaha mampu membangun sistem bisnis yang kuat dan berkelanjutan.
IFRA 2026 pun diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pihak dalam ekosistem tersebut, mulai dari pemilik merek, pengusaha, calon mitra, hingga investor. Pertemuan bisnis yang berlangsung selama pameran diharapkan tidak berhenti pada transaksi, tetapi berkembang menjadi kerja sama jangka panjang.
Dengan begitu, pertumbuhan industri waralaba tidak sekadar ditandai oleh semakin banyaknya merek dan gerai, tetapi juga oleh semakin kuatnya fondasi bisnis yang menopangnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: