Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Melemah ke Rp17.772, Subsidi Energi Jadi Ancaman Baru bagi Fiskal

        Rupiah Melemah ke Rp17.772, Subsidi Energi Jadi Ancaman Baru bagi Fiskal Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin (31/8/2026). Mata uang Garuda terparkir di level Rp17.772 per USD atau melemah 29 poin dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp17.693.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan ini terjadi akibat ketidakpastian geopolitik global dan lonjakan harga energi berpotensi semakin membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan reformasi terhadap skema subsidi dan kompensasi energi. 

        Hingga akhir Juni 2026, realisasi subsidi dan kompensasi energi tercatat telah mencapai sekitar Rp233 triliun. Angka tersebut diperkirakan masih akan meningkat hingga akhir tahun dan berpotensi memberikan tekanan yang lebih besar terhadap kondisi fiskal pada 2027.

        "Besarnya risiko subsidi energi Indonesia tidak terlepas dari ketergantungan terhadap sejumlah faktor eksternal, terutama harga energi global dan nilai tukar rupiah," ujar dia kepada wartawan.

        Secara umum, kata Ibarahim, terdapat tiga variabel utama yang menentukan besaran subsidi energi, yaitu harga energi di pasar global, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta tingkat konsumsi energi domestik.

        Di sisi lain, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menyebabkan biaya pengadaan energi menjadi lebih mahal. Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi. 

        Hingga akhir 2026, nilai subsidi dan kompensasi energi diperkirakan meningkat hingga Rp526 triliun. Dengan demikian, terdapat potensi kenaikan hampir Rp200 triliun dibandingkan alokasi awal dalam APBN yang berada di kisaran Rp338 triliun.

        Selain itu, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mempersiapkan anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) jenis tertentu dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 yang lebih tinggi dibandingkan perkiraan realisasi APBN 2026.

        Baca Juga: Edukasi Pajak dalam RAPBN 2027 Jadi Fondasi Utama Bangun Kepatuhan Sukarela

        Baca Juga: Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan, Jadi Mata Uang Asia Paling Loyo

        Berdasarkan dokumen Nota Keuangan beserta RAPBN Tahun Anggaran 2027, anggaran subsidi BBM jenis tertentu, seperti Pertalite dan Solar, mencapai Rp28,7 triliun. Angka tersebut meningkat sekitar 8,71% dibandingkan perkiraan realisasi tahun 2026 yang sebesar Rp26,4 triliun.

        Secara keseluruhan, rancangan anggaran subsidi energi untuk 2027 mencapai Rp272,94 triliun atau meningkat sebesar 20,1% dibandingkan perkiraan realisasi tahun 2026 yang sebesar Rp227,25 triliun.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: