Kredit Foto: Istimewa
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menjadi sorotan. Di tengah upaya pemerintah memadamkan titik api di sejumlah wilayah, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni melontarkan dugaan keras soal penyebabnya. Ia menilai, karhutla yang terjadi kemungkinan besar bukan murni akibat kondisi alam, melainkan ada pihak yang membakarnya.
"Sudah hampir pasti ini adalah dibakar, bukan kebakaran, baik itu dilakukan oleh personal masyarakat, pekebun-pekebun biasa, atau korporasi," kata Raja Juli, Selasa (1/9/2026).
Menurut Raja Juli, kondisi cuaca yang sangat kering dan panas memang dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran. Namun, ia menilai faktor alam tersebut bukan berarti menjadi penyebab utama dari seluruh karhutla yang saat ini terjadi.
Baca Juga: Mentan Amran Ikut Respon Perintah Prabowo Padamkan Karhutla Pakai Tepung Ubi
"Most likely pasti ada yang membakar. Apakah itu tadi sengaja atau tidak sengaja tadi lempar putung rokok, apakah itu petani kecil atau petani besar, apakah itu perusahaan," ujarnya.
Terkait itu, Raja Juli memastikan pemerintah tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga akan mengejar aspek penegakan hukum. Kementerian Kehutanan, kata dia, bekerja menjalankan perintah Presiden RI Prabowo Subianto, termasuk menindak pihak yang terbukti melakukan pelanggaran terkait karhutla.
"Yang paling pasti dan kami akan kerjakan yang menjadi perintah Pak Presiden Prabowo, penegakan hukum, terutama dari Pak Dirjen Gakkum, tidak akan pernah tumpul ke atas, tajam ke bawah," tegasnya.
Raja Juli juga menjanjikan tidak akan ada perlakuan berbeda berdasarkan siapa pihak yang diduga melakukan pelanggaran. Baik masyarakat maupun korporasi akan diproses berdasarkan aturan yang berlaku apabila terbukti melanggar.
"Siapa pun yang melakukan pelanggaran, siapa pun yang melakukan pelanggaran, tanpa terdiskriminasi, kami akan tindak sesuai dengan undang-undang kehutanan yang kami miliki," lanjut dia.
Meski dugaan soal pembakaran menjadi perhatian, Raja Juli juga menyampaikan perkembangan terbaru mengenai kondisi karhutla. Ia mengeklaim tren hotspot di berbagai provinsi mulai menunjukkan penurunan dalam beberapa hari terakhir.
Pernyataan tersebut mengacu pada data Sipongi Gakkum Kementerian Kehutanan pada akhir Agustus 2026. Berdasarkan data tersebut, Riau dan Jambi disebut sudah tidak memiliki hotspot per 31 Agustus 2026 pukul 23:59 WIB.
Kalimantan Selatan 22 hotspot dan Sumatera Selatan 20 hotspot. Dua yang masih tinggi, yakni Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, meskipun dari grafik selama satu bulan perjuangan memadamkan karhutla ini angkanya juga telah menunjukkan tren penurunan dari puncaknya pada 29 Agustus.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: