Kredit Foto: BPMI
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, menyebut ada hal yang tidak boleh diabaikan jika Prabowo Subianto ingin mencalonkan diri lagi sebagai presiden, yakni suara masyarakat yang tercermin dalam hasil survei.
Mahfud menyoroti tren kepuasan publik terhadap Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang belakangan mengalami penurunan.
Baginya, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan gambaran yang perlu menjadi bahan evaluasi apabila Prabowo ingin kembali bertarung sebagai calon presiden.
"Oleh sebab itu, kalau Pak Prabowo ingin mencalonkan lagi sebagai presiden, ini (survei) harus diperhatikan. Menurut saya hak dia lah untuk mencalonkan diri lagi," ungkap Mahfud dalam tayangan YouTube pribadinya, dikutip Rabu (3/9/2026).
Baca Juga: Mahfud MD: Kesannya Prabowo Tuh Gak Pernah Mau Dengar Kritik
Sebelumnya, sejumlah lembaga survei di Indonesia memang telah merilis hasil terbaru mengenai tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan. Beberapa survei tersebut memperlihatkan kecenderungan yang sama, yakni adanya penurunan penilaian masyarakat terhadap kinerja pemerintah.
Salah satunya datang dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Dalam survei terbarunya, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto berada di angka 51,1 persen. Angka tersebut cukup jauh dibandingkan November 2025 ketika kepuasan terhadap Prabowo masih mencapai 81,2 persen.
Tak hanya SMRC, Mahfud juga menyinggung hasil survei dari lembaga lain, termasuk Survei Tempo Data Science (TDS). Menurutnya, hasil dari sejumlah lembaga tersebut semakin memperkuat gambaran mengenai penilaian publik terhadap pemerintahan saat ini.
"Saya percaya pada hasil surveinya. Artinya kritik-kritik masyarakat terhadap Pak Prabowo selama ini itu benar bahwa tata kelola pemerintahan itu tidak bagus," ujar dia.
Baca Juga: Mahfud MD Akui Prabowo Banyak Berubah, Sudah Lama Dia Tidak...
Mahfud kemudian menyoroti perubahan penilaian masyarakat yang menurutnya tidak terlepas dari ekspektasi terhadap kinerja pemerintah.
Pada awal masa pemerintahan, publik dinilai masih memberikan toleransi terhadap berbagai persoalan yang muncul. Namun, toleransi tersebut dapat berubah ketika masyarakat tidak melihat perkembangan yang dianggap positif.
"Anda dinilai bagus ketika 6 bulan pertama, itu ya orang masih memaklumi tapi lama-lama kok tidak ada perkembangan positif. Oleh sebab itu turun, turun, turun dan sekarang menjadi turun," ungkap Mahfud.
Di tengah merosotnya angka kepuasan tersebut, Mahfud juga mengingatkan soal persepsi publik terhadap sikap Prabowo dalam menghadapi kritik. Ia menyebut kini muncul kesan bahwa Prabowo merupakan sosok yang anti kritik.
Persoalan itu, menurut Mahfud, semakin terasa ketika kritik terhadap pemerintah justru dibalas dengan tudingan kepada pihak yang menyampaikannya. Ia mencontohkan adanya pelabelan seperti "londo ireng" hingga tuduhan bahwa pengkritik mendapat pembiayaan dari pihak asing.
"Semua kritikan-kritikan dikembalikan kepada yang ngritik, kamu londo ireng, kamu dibiayai asing, macam-macam gitu. Padahal kita para pengkritik itu kan nggak pernah berhubungan dengan orang asing. Yang berhubungan dengan orang asing kan pemerintah," ucap Mahfud.
Karena itu, bagi Mahfud, jika Prabowo memang berniat maju kembali sebagai presiden, hasil survei dan suara kritik masyarakat semestinya tidak dipandang sebelah mata. Angka kepuasan yang menurun menjadi sinyal yang perlu diperhatikan sekaligus bahan evaluasi sebelum menentukan langkah politik berikutnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: