Kredit Foto: Istihanah
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyiapkan strategi diversifikasi sumber pembiayaan utang pemerintah untuk menekan beban bunga. Purbaya menyebut, pemerintah mulai melirik pembiayaan bilateral dari negara seperti China dan Jepang yang menawarkan tingkat bunga lebih rendah.
Purbaya mengatakan, pemerintah telah menjajaki sumber pendanaan dari China dan mendapatkan tawaran bunga sekitar 1,9% untuk tenor tiga tahun. Sementara untuk tenor lima tahun, bunga yang ditawarkan sekitar 2,18%.
"Saya sudah ke Cina, di sana saya bisa dapat bunga 1,9 untuk 3 tahun, untuk 5 tahun bisa dapat 2,18, jauh lebih rendah dibandingkan dengan dollar denominated," kata Purbaya, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, skema tersebut menjadi salah satu alternatif pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada pembiayaan yang memiliki biaya lebih mahal. Jepang juga menjadi salah satu negara yang akan dimanfaatkan pemerintah untuk memperoleh sumber pendanaan dengan bunga rendah.
"Dan Jepang kita manfaat juga yang bunga rendah, jadi kita bisa diversifikasi ke sumber pendanaan yang lebih murah, sehingga net pembayaran kita ke depan bisa ditekan ke bawah," ujarnya dalam acara Seserahan Ekonomi.
Purbaya menegaskan, pembiayaan bilateral tersebut tidak serta-merta menggantikan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Pemerintah tetap akan menggunakan berbagai instrumen pembiayaan dengan mempertimbangkan biaya dan kondisi pasar.
Purbaya mengatakan, diversifikasi sumber pendanaan membuat posisi tawar pemerintah menjadi lebih kuat. Dengan memiliki sejumlah alternatif sumber pembiayaan, pemerintah tidak hanya bergantung pada pasar ketika membutuhkan pendanaan untuk menutup defisit APBN.
"Jadi sekarang kita punya bargaining position yang lebih baik karena kita bisa di berbagai negara, ya tidak hanya menjual secara umum kedepan," katanya.
Utang Domestik Masih Jadi Penopang
Selain mencari sumber pembiayaan dengan bunga lebih rendah, Purbaya menilai struktur kepemilikan surat utang pemerintah saat ini juga relatif lebih stabil. Sekitar 87,5% surat utang pemerintah disebut telah dipegang oleh investor domestik.
Kondisi tersebut dinilai berbeda dibandingkan ketika porsi kepemilikan asing jauh lebih besar. Menurut Purbaya, dominasi investor domestik membuat pasar surat utang pemerintah lebih tahan terhadap gejolak arus modal global.
"87,5 dipegang domestic player, artinya stabilitas kita bisa terjaga," ujarnya.
Purbaya juga menilai pembayaran bunga utang kepada investor domestik tidak sepenuhnya menjadi beban yang keluar dari perekonomian. Sebab, pembayaran tersebut kembali diterima oleh institusi dan pelaku domestik seperti dana pensiun maupun investor dalam negeri.
Baca Juga: Purbaya Tegaskan Utang Kopdes Merah Putih Tak Ganggu Defisit: Sudah Dihitung
Baca Juga: Belum Beroperasi, Utang Kopdes Sudah Jatuh Tempo, Purbaya Bakal Bayar Pakai Dana Desa
"Yang penting lagi bunga yang saya bayar dibagi untuk tempat ibu kerja, bank, pemain pensiun, pemain domestic juga. Jadi itu secara tidak langsung juga memberi stimulus kepada ekonomi, jadi uangnya nggak lari ke luar, tapi masuk ke dalam," katanya.
Dengan kombinasi diversifikasi sumber pembiayaan, peningkatan penerimaan negara, serta penguatan basis investor domestik, Purbaya meyakini rasio dan beban utang pemerintah masih dapat dikelola.
Pemerintah juga berupaya menjaga defisit APBN tetap di bawah 3% dengan memperbaiki penerimaan pajak dan memangkas belanja yang dinilai kurang produktif.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: