Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jokowi Safari Politik Besarkan PSI, 62,9% Warga Ternyata Tak Tahu

        Jokowi Safari Politik Besarkan PSI, 62,9% Warga Ternyata Tak Tahu Kredit Foto: Baznas
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Aktivitas politik Joko Widodo untuk membantu membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ternyata belum diketahui mayoritas responden dalam survei Parameter Politik Indonesia. Sebanyak 62,9% responden mengaku tidak mengetahui Jokowi melakukan safari politik untuk membesarkan partai tersebut.

        Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengatakan hanya 37,1% masyarakat yang mengetahui aktivitas politik Jokowi tersebut. Temuan itu menjadi salah satu bagian dalam survei terbaru yang mengukur elektabilitas partai politik sekaligus sejumlah isu kekinian.

        "Dari masyarakat yang menyatakan tahu kalau Jokowi itu blusukan dan bekerja untuk PSI, kira-kira begitu, ada sekitar kurang lebih 13,0% yang menyatakan tertarik untuk bergabung dengan PSI," ujar Adi dalam pemaparan hasil survei di Kanal YouTube Parameter Politik Indonesia, dikutip Sabtu (5/9/2026).

        Data tersebut menunjukkan bahwa informasi mengenai aktivitas Jokowi untuk PSI belum menjangkau seluruh responden. Dari 1.200 orang yang disurvei, lebih banyak responden yang menyatakan tidak mengetahui aktivitas tersebut dibandingkan mereka yang mengetahuinya.

        Di kelompok responden yang mengetahui Jokowi bekerja untuk membesarkan PSI, sekitar 13% menyatakan tertarik bergabung dengan partai tersebut. Namun, angka tersebut perlu dibaca sebagai potensi ketertarikan, bukan otomatis menggambarkan dukungan elektoral terhadap PSI.

        Adi mengatakan temuan tersebut memperlihatkan adanya potensi dukungan PSI dari masyarakat yang mengetahui aktivitas Jokowi. Menurutnya, faktor Jokowi dapat menjadi salah satu alasan munculnya ketertarikan terhadap PSI di kalangan responden.

        "Artinya apa? Dari 37% masyarakat yang tahu kalau Jokowi bekerja untuk PSI ada sekitar 13% yang berpotensi memilih dan kemudian bergabung dengan PSI. Intinya ada potensi," ujar Adi.

        Meski demikian, keberadaan Jokowi dalam aktivitas politik PSI belum bisa dianggap sebagai jaminan bertambahnya jumlah pemilih partai tersebut. Adi menegaskan realisasi potensi itu masih bergantung pada langkah politik yang dilakukan PSI ke depan.

        "Jadi kalimat potensi tertarik bergabung dengan PSI itu memang jumlahnya besar karena faktor Jokowi, tapi ingat namanya potensi itu ya bisa menjadi bagian dari PSI atau tidak menjadi bagian dari PSI. Sangat tergantung dengan kerja-kerja politik yang akan dilakukan oleh PSI di masa-masa yang akan datang," terang Adi.

        Temuan survei tersebut juga memperlihatkan adanya responden yang mengetahui aktivitas Jokowi tetapi tidak menunjukkan ketertarikan untuk memilih PSI. Sebanyak 34,8% responden menyatakan tidak tertarik memilih PSI, sedangkan 28,1% menyatakan biasa saja dan 24,2% lainnya tidak memberikan jawaban.

        Dengan demikian, aktivitas politik Jokowi untuk PSI belum sepenuhnya dikenal oleh publik yang menjadi responden survei. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa tingkat keterpaparan masyarakat terhadap aktivitas politik Jokowi bersama PSI masih menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

        Jokowi sendiri diketahui beberapa kali hadir dalam agenda PSI setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Kehadirannya dalam kegiatan partai menjadi perhatian karena posisi dan pengaruh politik Jokowi masih menjadi bagian dari perbincangan menjelang dinamika politik nasional berikutnya.

        Baca Juga: Strategi Politik Cerdik Jokowi: Isu Percepatan Pemilu 2029 Dibocorkan

        Salah satu kegiatan tersebut berlangsung ketika Jokowi menghadiri Rakorda DPD PSI di Bandar Lampung pada Juni 2026. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari konteks yang kemudian muncul dalam pertanyaan survei Parameter Politik Indonesia mengenai aktivitas Jokowi untuk membesarkan PSI.

        Namun, survei tersebut tidak menunjukkan bahwa 62,9% responden menolak PSI atau menentang aktivitas politik Jokowi. Angka tersebut secara spesifik menggambarkan responden yang mengaku tidak mengetahui adanya aktivitas Jokowi untuk membesarkan PSI.

        Survei Parameter Politik Indonesia dilakukan terhadap warga negara Indonesia berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah. Penelitian melibatkan 1.200 responden yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi, 116 kabupaten/kota, 120 kecamatan, serta 120 desa atau kelurahan.

        Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh surveyor mahasiswa pada 20 Juli hingga 3 Agustus 2026. Survei tersebut memiliki margin of error sebesar 2,8% pada tingkat kepercayaan 95%.

        Temuan mengenai tingkat pengetahuan publik terhadap aktivitas Jokowi untuk PSI memberikan gambaran bahwa popularitas seorang tokoh tidak selalu membuat setiap aktivitas politiknya diketahui seluruh masyarakat. Bagi PSI, data tersebut juga menjadi tantangan untuk mengubah potensi yang muncul dari figur Jokowi menjadi dukungan politik yang nyata.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: