Kredit Foto: Istimewa
PT Elnusa Tbk (ELSA) membukukan kontrak baru senilai Rp11,6 triliun sepanjang Semester I-2026. Perolehan itu terutama ditopang segmen penjualan barang serta distribusi dan logistik energi, yang menyumbang Rp9 triliun atau sekitar 77,6% dari total kontrak baru perseroan.
Direktur Operasi Elnusa, Andri Haribowo, mengatakan kontrak baru tersebut diperoleh dari tiga segmen utama, yakni jasa hulu minyak dan gas bumi terintegrasi, jasa penunjang migas, serta distribusi dan logistik energi.
“Selama enam bulan pertama ini, alhamdulillah perseroan berhasil memperoleh kontrak baru senilai Rp11,6 triliun dengan kontribusi terbesar berasal dari segmen Energy Distribution and Logistic sebesar Rp9 triliun,” ujar Andri dalam Public Expose Live 2026 yang diselenggarakan secara daring, Senin (7/9/2026).
Dari total kontrak baru tersebut, segmen jasa hulu migas terintegrasi menyumbang Rp1,6 triliun. Sementara itu, segmen jasa penunjang migas menyumbang Rp1 triliun.
Perolehan kontrak itu menambah kontrak bawaan atau carry-over contract Elnusa di awal tahun yang mencapai Rp21,6 triliun. Komposisinya terdiri atas Rp12,3 triliun dari segmen jasa hulu migas terintegrasi, Rp2,8 triliun dari jasa penunjang migas, serta Rp6,5 triliun dari distribusi dan logistik energi.
Kontrak Berlanjut Rp18,8 Triliun
Elnusa telah menyerap kontrak senilai Rp14,4 triliun hingga akhir Semester I-2026. Dengan demikian, perseroan menutup Juni 2026 dengan nilai kontrak berlanjut atau carry-forward contract sebesar Rp18,8 triliun.
Andri menyebut posisi kontrak tersebut memberi ruang visibilitas pendapatan untuk periode berikutnya, seiring pelaksanaan proyek yang berjalan pada seluruh lini usaha perseroan.
“Nilai ini memberikan earning visibility yang kuat untuk periode mendatang sekaligus menjadi indikator positif atas keberlanjutan aktivitas operasional dan proyek pertumbuhan perseroan,” kata Andri.
Dari sisi operasional, Elnusa mengerjakan berbagai kegiatan jasa hulu migas, termasuk akuisisi seismik 3D seluas 1.757 kilometer persegi dan seismik 2D sepanjang 193 kilometer. Perseroan juga menyelesaikan pekerjaan wireline logging pada 662 sumur, well testing pada lebih dari 3.800 sumur, serta hydraulic workover unit pada 112 sumur.
Pada bisnis distribusi, volume transportasi BBM mencapai 14 juta kiloliter. Elnusa menjalankan pemantauan distribusi melalui Route Traffic Control, yaitu pusat kendali terintegrasi yang menggabungkan data GPS, CCTV berbasis kecerdasan artifisial, data perjalanan, kondisi lalu lintas, dan perilaku pengemudi secara real-time.
Distribusi Energi Dominan
Besarnya kontribusi distribusi dan logistik terhadap kontrak baru sejalan dengan peran segmen ini sebagai kontributor pendapatan terbesar Elnusa.
Segmen penjualan barang serta distribusi dan logistik energi membukukan pendapatan Rp4,92 triliun sepanjang Semester I-2026, naik 26,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih segmen ini mencapai Rp293 miliar, tumbuh 54,4% secara tahunan.
Sementara itu, segmen jasa hulu migas terintegrasi membukukan pendapatan Rp2,06 triliun dengan laba bersih Rp99 miliar. Segmen jasa penunjang migas mencatat pendapatan Rp410 miliar dan laba bersih Rp41,8 miliar.
Secara konsolidasi, Elnusa membukukan pendapatan Rp7,58 triliun pada Semester I-2026, tumbuh 8,9% secara tahunan. EBITDA naik 16,2% menjadi Rp862 miliar, sementara laba bersih tumbuh 29,2% menjadi Rp435 miliar. Margin laba bersih Elnusa mencapai 5,73%.
Direktur Keuangan Elnusa Nelwin Aldriansyah mengatakan pertumbuhan pendapatan berhasil diterjemahkan menjadi kenaikan profitabilitas yang lebih tinggi.
Baca Juga: Elnusa Resmi Mulai Konstruksi Terminal Terpadu Palaran di Samarinda
Baca Juga: Elnusa dan Pertamina Group Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa Flores
“EBITDA kami mencapai Rp862 miliar atau tumbuh 16,2% secara tahunan. Selanjutnya, laba bersih mencapai Rp435 miliar atau meningkat signifikan sebesar 29,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Nelwin.
Per akhir Juni 2026, Elnusa mencatat total aset Rp11,4 triliun dan ekuitas Rp5,43 triliun. Arus kas operasi mencapai Rp761 miliar, dengan saldo kas Rp2,88 triliun.
Perseroan menyiapkan belanja modal atau capital expenditure Rp602 miliar untuk memperkuat kapasitas operasional. Hingga Juni, realisasi belanja modal telah mencapai sekitar 35% dari target tahunan. Investasi tersebut antara lain dialokasikan untuk peralatan jasa hulu migas, pengadaan kendaraan tangki BBM, pengembangan Terminal LPG Kolaka, peningkatan fasilitas penyimpanan data, serta pembaruan aset penunjang operasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: