Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bikin Bangkrut, Strategi Utang Donald Trump Sejak 1991 Pernah Dibongkar Warren Buffett

        Bikin Bangkrut, Strategi Utang Donald Trump Sejak 1991 Pernah Dibongkar Warren Buffett Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nama Warren Buffett dan Donald Trump kerap ditempatkan dalam dua sisi berbeda dalam dunia bisnis dan investasi. Keduanya memiliki pendekatan yang berbeda dalam membangun kekayaan, terutama dalam penggunaan utang dan strategi pembiayaan.

        Jauh sebelum Donald Trump terjun ke dunia politik, Buffett bahkan telah menyoroti strategi keuangan yang digunakan dalam bisnis Trump. Dalam sebuah ceramah di University of Notre Dame pada 1991, investor legendaris tersebut mengupas persoalan yang menurutnya menjadi salah satu sumber kegagalan bisnis Trump.

        Dikutip MoneyWise, Jumat (4/9/2026), Buffett menilai strategi Trump terlalu bertumpu pada pinjaman dalam jumlah besar. Menurutnya, Trump kerap mengunci pinjaman properti dengan nilai yang jauh melampaui harga sebenarnya sehingga harus menanggung beban utang yang sangat besar untuk menguasai aset.

        Menurut Buffett, keputusan tersebut membuat bisnis Trump berulang kali terjebak dalam skema leverage atau pengungkit utang dengan risiko tinggi.

        Rekam jejak bisnis Trump kemudian menunjukkan sejumlah kegagalan. Laporan The Washington Post mencatat Trump telah mengajukan kebangkrutan bisnis atau Chapter 11 sebanyak enam kali sepanjang kariernya.

        Sejumlah unit bisnisnya juga tercatat berakhir dengan kegagalan, di antaranya Trump: The Game, Trump Super Premium Vodka, majalah Trump, hingga situs pemesanan perjalanan mewah gotrump.com.

        Salah satu kasus yang paling banyak mendapat perhatian adalah akuisisi Kasino Taj Mahal di Atlantic City pada 1987. Untuk menyelesaikan pembangunan kasino tersebut, Trump menggunakan dana US$675 juta melalui penerbitan obligasi berisiko tinggi atau junk bonds dengan bunga yang sangat besar.

        Pada 1991, proyek tersebut dinyatakan bangkrut setelah pendapatan kasino tidak mampu menutup pembayaran bunga utang yang terus membengkak.

        Beban Utang Lebih Besar dari Nilai Aset

        Dalam ceramahnya pada 1991, Buffett memperkirakan Trump menanggung utang sekitar US$3,5 miliar. Sementara itu, nilai riil seluruh aset yang dimiliki Trump saat itu diperkirakan hanya sekitar US$2,5 miliar.

        Kondisi tersebut menunjukkan besarnya kesenjangan antara kewajiban utang dan nilai aset yang menjadi salah satu persoalan dalam strategi pembiayaan bisnis Trump.

        Kritik mengenai penilaian aset Trump juga kemudian muncul dalam perkara hukum di New York. Hakim Arthur Engoron dalam sidang perdata memutuskan Trump terbukti melakukan konspirasi selama bertahun-tahun dengan memanipulasi nilai kekayaan dan harga propertinya untuk mengelabui bank serta lembaga asuransi.

        Bagi Buffett, penggunaan utang secara berlebihan bukanlah strategi yang diperlukan untuk membangun kekayaan.

        "Pada dasarnya, Anda tidak benar-benar membutuhkan leverage (utang pengungkit) di dunia ini," tegas Buffett.

        Pelajaran bagi Investor

        Perbedaan strategi Buffett dan Trump memberikan sejumlah pelajaran mengenai pengelolaan modal dan risiko utang bagi investor.

        Salah satunya adalah mempertimbangkan instrumen investasi yang tidak mengharuskan investor menanggung utang dalam jumlah besar. Dalam investasi properti, misalnya, pembelian aset secara langsung membutuhkan modal awal yang besar sekaligus komitmen KPR dalam jangka panjang.

        Sebagai alternatif, investor dapat memanfaatkan instrumen properti fraksional atau dana investasi real estat (DIRE/REITs). Melalui instrumen tersebut, masyarakat dapat memiliki bagian atas properti komersial, perumahan, maupun kawasan industri dengan modal yang lebih terjangkau tanpa harus menanggung pinjaman bank.

        Prinsip lain yang ditekankan Buffett adalah membeli aset dengan harga di bawah nilai intrinsiknya. Menurutnya, harga pembelian yang menarik dapat memberikan ruang bagi investor untuk tetap memperoleh hasil meskipun penjualan aset tidak terlalu baik.

        Investor juga perlu menghindari spekulasi dan keputusan yang didorong emosi. Riset pasar, analisis fundamental, serta pemahaman terhadap laporan keuangan perusahaan dapat digunakan untuk membantu mengukur risiko sebelum mengambil keputusan investasi, baik di pasar saham maupun kripto.

        Baca Juga: Trump Kirim Utusan ke Rusia, Putin Janji Hentikan Serangan ke Ukraina Tiga Hari

        Bagi individu yang sudah memiliki beberapa pinjaman, konsolidasi utang menjadi satu fasilitas kredit dengan suku bunga lebih rendah juga dapat menjadi pilihan untuk menjaga kondisi keuangan. Konsultasi dengan perencana keuangan profesional dapat membantu menyusun strategi pembayaran utang dan pengelolaan keuangan secara lebih terukur.

        Pada akhirnya, perbedaan pendekatan Buffett dan Trump menggambarkan dua filosofi dalam mengelola bisnis dan kekayaan. Buffett dikenal dengan pendekatan value investing yang menekankan nilai jangka panjang serta kehati-hatian dalam penggunaan utang. Sementara itu, Trump membangun kekayaan awal dan citra bisnisnya melalui pembiayaan agresif yang bertumpu pada pinjaman dalam skala besar.

        Kisah tersebut kembali menempatkan pengelolaan utang, transparansi, penilaian aset yang jujur, dan pengendalian risiko sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan keuangan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: