Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Mata uang Garuda bergerak melemah 5 poin atau 0,03 persen menjadi Rp17.645 per dolar AS,dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.640 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah terjadi di tengah ujian bagi fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia. Tantangannya, menurut Ibrahim, bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi juga memastikan bahwa stimulus moneter tidak dibayar dengan volatilitas rupiah dan keluarnya modal asing.
"Kekhawatiran pasar masih membayangi terkait bencana alam, termasuk Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat malam, 4 September hingga akhir pekan ini memang menimbulkan dampak yang sangat masif di sektor penerbangan dan aktivitas masyarakat," jelas dia kepada wartawan.
Berdasarkan data dari Kementerian Perhubungan, sebaran abu vulkanik telah menyebabkan penundaan dan pembatalan lebih dari 1.500 jadwal penerbangan di setidaknya delapan bandara, dengan sekitar 170.000 penumpang tertahan di berbagai Lokasi.
Bencana alam yang terjadi secara serempak, termasuk pembakaran lahan gambut yang terjadi di Kalimantan dan sebagian wilayah Sumatra serta mengeringnya Sungai Barito membuat transportasi Batubara terhenti dan ini turut menambah kompleksitas risiko ekonomi domestik dengan terbatasnya aktivitas transportasi dan menciptakan risiko terganggunya rantai pasok.
Baca Juga: Wajah Baru Rupiah di Tangan Gen Z
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.640 per USD di Tengah Risiko Bencana
"Pelaku pasar akan mencermati penanganan bencana sambil terus menghitung potensi dampaknya terhadap aktivitas ekonomi, terutama jika gangguan transportasi dan dibatasinya aktivitas luar rumah berlangsung lebih lama," jelas dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: