Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pemerintah Punya Tugas Bereskan Bencana, KSP Ulta Levenia Pilih Kaitkan dengan Teori Konspirasi

        Pemerintah Punya Tugas Bereskan Bencana, KSP Ulta Levenia Pilih Kaitkan dengan Teori Konspirasi Kredit Foto: Instagram/Ulta Levenia Nababan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan, mengenai kemungkinan keterkaitan teknologi HAARP dengan rentetan bencana alam dan erupsi gunung berapi di Indonesia memicu kontroversi di ruang publik.

        Akademisi di bidang kontraterorisme tersebut menyampaikan pandangan pribadinya melalui unggahan di akun Instagram miliknya. Unggahan itu membagikan perbincangannya bersama sejumlah narasumber lain di kanal YouTube Bukan Kaleng-Kaleng.

        Ulta mempertanyakan apakah rangkaian bencana dan aktivitas vulkanik yang terjadi belakangan ini sepenuhnya merupakan fenomena alam atau terdapat kemungkinan lain di baliknya.

        Ia mengatakan dirinya cenderung skeptis terhadap penjelasan yang dianggapnya sebagai penjelasan umum mengenai berbagai peristiwa tersebut. Menurut Ulta, kemungkinan lain yang muncul dari sikap skeptis itu dapat dikategorikan sebagai teori konspirasi.

        Dalam unggahannya, Ulta menyinggung High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP), proyek riset ionosfer di Alaska yang menurutnya pada awalnya didanai oleh US Air Force, US Navy, dan Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA).

        Ulta mengakui tidak terdapat bukti ilmiah yang kredibel bahwa HAARP dapat mengendalikan cuaca, menciptakan badai, maupun memicu gempa bumi. Namun, ia mengatakan proyek tersebut tetap kerap dikaitkan dengan berbagai teori konspirasi.

        Ia juga berpendapat bahwa sejumlah teori konspirasi pada masa lalu pada akhirnya dapat terungkap setelah sebuah proyek ditutup atau informasi mengenai proyek tersebut dibuka kepada publik.

        Dalam perbincangan di kanal YouTube Bukan Kaleng-Kaleng, Ulta kemudian mengaitkan dinamika politik nasional dengan berbagai fenomena yang terjadi pada Agustus dan September.

        Ia menilai terdapat sejumlah peristiwa yang menurut pandangannya terlalu berurutan untuk sekadar disebut sebagai kebetulan. Tekanan politik, isu demonstrasi, hingga fenomena alam disebutnya memiliki pola yang saling berkaitan.

        Ulta juga membandingkan situasi tersebut dengan sejumlah peristiwa di negara lain. Ia menyinggung Turki dan China yang menurutnya pernah mengalami gempa setelah muncul gesekan diplomatik dengan Amerika Serikat.

        Dari pengamatan terhadap pola tersebut, Ulta menyampaikan dugaan bahwa terdapat pihak tertentu yang mengorkestrasi berbagai dinamika yang terjadi.

        Dalam tayangan tersebut, ia bahkan menyebut perkiraan pribadi mengenai kemungkinan adanya pihak yang mengatur rangkaian peristiwa itu.

        Ulta kemudian mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi Indonesia dan mempertanyakan mengapa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menghadapi berbagai dinamika tersebut.

        Spekulasi itu kembali disampaikan Ulta melalui unggahan Instagram. Ia mengaitkan waktu terjadinya erupsi enam gunung vulkanik di Indonesia dengan momen diplomasi Presiden RI di Vladivostok, Rusia.

        Meski mengakui tidak memiliki bukti ilmiah yang kredibel mengenai hubungan tersebut, Ulta mengatakan pemikiran itu tetap muncul dari sikap skeptisnya. Ia juga menyebut Jepang, China, dan Turkiye pernah memiliki kecurigaan yang menurutnya serupa.

        Pernyataan Ulta tersebut kemudian mendapat sorotan dan kritik dari warganet.

        Sejumlah komentar mempertanyakan keterkaitan antara fenomena alam dengan narasi politik yang disampaikan Ulta. Sebagian lainnya menilai spekulasi mengenai HAARP terlalu jauh dan tidak memiliki dasar yang memadai.

        Baca Juga: Jokowi Senang Masih Dihubungi PM Malaysia, dapat Ungkapan Belasungkawa Soal Bencana di Indonesia

        Kritik juga diarahkan pada latar belakang keilmuan Ulta. Sejumlah warganet mengingatkan agar pembahasan mengenai fenomena geologi disampaikan dengan mempertimbangkan kapasitas dan disiplin keilmuan yang relevan.

        Di sisi lain, dalam uraian yang disampaikannya, Ulta sendiri telah mengakui bahwa dugaan mengenai HAARP sebagai penyebab bencana alam tersebut tidak didukung bukti ilmiah yang kredibel.

        Polemik pun berkembang antara sikap skeptis yang disampaikan Ulta dengan pandangan warganet yang menilai fenomena bencana alam semestinya dijelaskan berdasarkan kajian ilmiah.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: