Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pendapatan SIG Naik 13,1%, Penjualan Semen Tembus 18,28 Juta Ton

        Pendapatan SIG Naik 13,1%, Penjualan Semen Tembus 18,28 Juta Ton Kredit Foto: SIG
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) mencatat pertumbuhan kinerja pada semester I 2026 seiring pemulihan permintaan semen nasional. Volume penjualan SIG mencapai 18,28 juta ton, naik 5,6% secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan pendapatan meningkat 13,1% menjadi Rp17,65 triliun.

        Direktur Utama SIG Indrieffouny Indra mengatakan peningkatan kinerja tersebut didukung terutama oleh penguatan pasar domestik. Penjualan domestik SIG mencapai 14,18 juta ton, tumbuh 9,7% yoy.

        “Displin dan konsistensi menjalankan transformasi bisnis membuat SIG semakin resilience di tengah kondisi industri semen domestik yang menantang. Bahkan, transformasi tidak hanya membuat Perusahaan mampu mencapai pertumbuhan kinerja, tetapi juga memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang,” kata Indrieffouny dalam Paparan Publik yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia, Selasa (8/9/2026).

        Sejalan dengan kenaikan volume penjualan, EBITDA SIG meningkat 2,6% menjadi Rp2,15 triliun. Profitabilitas juga menguat dengan laba bersih naik 445,9% yoy menjadi Rp207 miliar.

        Sementara itu, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp228 miliar, tumbuh 471% yoy.

        Pertumbuhan tersebut didukung transformasi bisnis yang dijalankan melalui empat pilar strategis, yakni transformasi model bisnis semen, keunggulan biaya dan efisiensi, bisnis produk turunan dan solusi bangunan, serta sumber daya dan tata kelola.

        SIG juga menjalankan program streamlining entitas SIG Group melalui penataan anak usaha untuk mengoptimalkan model bisnis dan membangun struktur organisasi yang lebih efektif dan efisien.

        SIG memiliki sembilan merek semen yang dipasarkan di Indonesia dan regional, antara lain Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa, Dynamix, Semen Kujang, Semen Andalas, Semen Baturaja, Semen Merdeka, dan Thang Long Cement.

        Operasional perusahaan ditopang 10 pabrik semen terintegrasi, 26 pabrik pengemasan, enam pabrik penggilingan semen, dan tujuh pelabuhan.

        Jaringan distribusi SIG juga mencakup lebih dari 300 distributor di Indonesia dan Vietnam melalui Thang Long Cement, serta lebih dari 63.000 toko ritel di Indonesia.

        SIG memanfaatkan digitalisasi dan artificial intelligence (AI) dalam pengelolaan rantai pasok untuk menjaga kelancaran distribusi dan memastikan ketersediaan produk bahan bangunan di berbagai wilayah.

        Indrieffouny mengatakan pemulihan permintaan semen nasional sejalan dengan meningkatnya aktivitas konstruksi, pembangunan infrastruktur, investasi industri, dan hilirisasi. Kondisi tersebut membuat SIG melihat prospek penjualan pada semester II 2026 tetap positif.

        Untuk memperkuat pasar domestik, SIG kembali menghidupkan merek Semen Kujang yang disebut sebagai merek semen pertama di Jawa Barat. Semen Kujang juga menjalin kerja sama sebagai Official Cement Partner klub PERSIB Bandung untuk memperluas jangkauan pasar ritel di Jawa Barat.

        Di sisi produk, SIG terus mengembangkan portofolio semen hijau dan produk turunan untuk kebutuhan infrastruktur serta perumahan. Perusahaan juga memasarkan berbagai produk beton, paving block berpori, hingga Bata Interlock Presisi.

        SIG menyebut produk semen dan turunannya memiliki emisi karbon hingga 38% lebih rendah dibandingkan semen konvensional. Produk yang dipasarkan di Indonesia juga telah tersertifikasi SNI dan mengandung lebih dari 90% komponen dalam negeri atau TKDN.

        Baca Juga: SIG Pertahankan Peringkat idAAA dari Pefindo, Prospek Pasar Tetap Kuat

        Baca Juga: SIG Kembali Garap Pantai Bahak, Ribuan Mangrove hingga UMKM Jadi Sasaran

        Baca Juga: Semen Kujang Comeback! SIG Bidik Pasar Konstruksi Jawa Barat

        Di sisi keberlanjutan, SIG melanjutkan program dekarbonisasi melalui peningkatan penggunaan bahan bakar dan bahan baku alternatif, optimalisasi klinker, serta efisiensi energi dan proses produksi.

        Perusahaan juga menyebut target emisi berbasis sainsnya telah disahkan Science Based Targets initiative (SBTi) dan menerapkan rekomendasi Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD) dalam pengungkapan informasi kepada publik.

        “Dengan ekosistem bisnis terintegrasi dan jaringan distribusi yang luas, SIG memiliki fondasi yang kuat untuk mendorong kinerja penjualan dan mencapai pertumbuhan bisnis yang profitable,” ujar Indrieffouny.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: