Kredit Foto: Istimewa
Harga minyak mentah dunia kembali bertahan di atas level psikologis US$100 per barel setelah eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global.
Minyak mentah Brent ditutup naik US$3,29 atau 3,4% menjadi US$101,21 per barel. Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), menguat US$3,02 atau 3,25% ke level US$96,05 per barel.
Kedua kontrak tersebut mencatat harga penutupan tertinggi sejak 22 Mei. Brent juga sempat menyentuh US$101,58 per barel dalam perdagangan terakhir.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah konflik Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat, termasuk serangkaian serangan terhadap kapal tanker. Situasi tersebut menjadi gelombang serangan terbesar terhadap pelayaran sejak perang dimulai dan meningkatkan kekhawatiran bahwa gangguan distribusi minyak dari Timur Tengah akan semakin parah.
Iran sebelumnya menyatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz. Serangan tersebut disebut sebagai aksi balasan setelah Amerika Serikat menghancurkan lima kapal tanker Iran.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling krusial bagi pasar energi global. Jalur tersebut sebelumnya menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Setiap gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi memberikan tekanan besar terhadap pasokan dan harga minyak internasional.
Kekhawatiran pasar tidak hanya berasal dari serangan terhadap kapal tanker. Aktivitas pengiriman minyak dari kawasan Teluk juga masih berada di bawah tingkat sebelum konflik.
Analisis Reuters menunjukkan ekspor minyak dari kawasan Teluk rata-rata hanya sekitar dua pertiga dari volume sebelum perang. Sejumlah kapal bahkan melakukan pelayaran tanpa mengaktifkan sistem transponder untuk menghindari ancaman serangan di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperhitungkan risiko pasokan yang lebih ketat. Harga minyak fisik dan bahan bakar juga telah menunjukkan tekanan yang lebih kuat dibandingkan kontrak berjangka.
Sebelumnya, Brent sempat kembali menembus US$100 untuk pertama kalinya sejak Juli. Kenaikan tersebut terjadi ketika pasar mulai kehilangan harapan bahwa aktivitas pengiriman minyak di kawasan Timur Tengah akan segera kembali normal.
Selain konflik Amerika Serikat-Iran, meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas energi Arab Saudi turut memperbesar kekhawatiran pasar. Serangan terhadap jalur dan infrastruktur energi alternatif membuat risiko gangguan pasokan semakin luas, tidak hanya terpusat di Selat Hormuz.
Baca Juga: Purbaya Waspadai Potensi Lonjakan Harga Minyak di 2027
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Kembali Tembus US$97 per Barel
Pasar kini menghadapi kombinasi antara gangguan produksi, hambatan pengiriman dan meningkatnya premi risiko geopolitik. Jika eskalasi berlanjut, tekanan terhadap pasokan minyak dunia berpotensi semakin besar dan menjaga harga Brent tetap berada di atas US$100 per barel.
Kenaikan harga minyak juga berpotensi memperbesar tekanan inflasi global. Biaya energi yang lebih mahal dapat meningkatkan ongkos transportasi dan produksi sekaligus mempersempit ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Dengan konflik yang belum menunjukkan penyelesaian permanen, pasar minyak diperkirakan masih akan bergerak sangat volatil. Perhatian investor kini tertuju pada perkembangan serangan terhadap kapal tanker, keamanan Selat Hormuz, serta kemampuan negara-negara Teluk mempertahankan aliran ekspor di tengah meningkatnya risiko keamanan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: