Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kredit Mobil dan Motor Makin Susah, Perusahaan Pembiayaan Makin Selektif Beri Utang

        Kredit Mobil dan Motor Makin Susah, Perusahaan Pembiayaan Makin Selektif Beri Utang Kredit Foto: Azka Elfriza
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menyebut perusahaan pembiayaan kini memperketat persetujuan kredit untuk menjaga kualitas pembiayaan dan mengantisipasi risiko kredit macet.

        Ketua Umum APPI Suwandi Wiranto mengatakan, dari 10 pengajuan kredit yang masuk, kini hanya sekitar lima pengajuan yang disetujui. Pengetatan tersebut dilakukan karena perusahaan pembiayaan perlu memastikan kemampuan debitur dalam memenuhi kewajibannya.

        “Dulu 10 kalau orang mau kredit motor dan mobil, hanya 8 disetujui, sekarang hanya 5 yang disetujui. Saking takutnya,” kata Suwandi saat ditemui usai konferensi pers 'Satu Dekade Kredivo Group: Peluncuran Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi' di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

        Menurut Suwandi, perusahaan pembiayaan harus lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit karena dana yang diberikan tetap harus dikembalikan oleh debitur.

        Pengetatan tersebut berlangsung di tengah semakin mudahnya akses masyarakat terhadap pembiayaan, termasuk melalui layanan digital seperti Buy Now Pay Later (BNPL). Karena itu, Suwandi meminta masyarakat menyesuaikan pengambilan pembiayaan dengan kemampuan keuangan.

        “Banyak keinginan yang ingin dimiliki, ini dan itu. Tapi sesuaikan dengan kemampuannya,” ujarnya.

        Di sisi lain, pembiayaan digital melalui BNPL masih mencatatkan pertumbuhan sekitar 30 persen. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu yang tertinggi dibandingkan sejumlah jenis pembiayaan lainnya.

        Sementara itu, pembiayaan investasi masih tertekan dengan pertumbuhan negatif sekitar 5–6 persen. Adapun pembiayaan modal kerja masih tumbuh sekitar 8–10 persen.

        Suwandi mengatakan pertumbuhan industri pembiayaan ke depan perlu lebih diarahkan ke sektor produktif. Menurut dia, pembiayaan produktif dapat membantu debitur memiliki sumber pendapatan untuk memenuhi kewajibannya.

        “Roadmap daripada pimpinan kami, Pak Agusman mengatakan bahwa kita harus 46% ke sektor produktif. Jadi kita semua sedang berlari maju, melangkah ke pembiayaan produktif,” katanya.

        Baca Juga: Pembiayaan Pinjol Tembus Rp105,63 Triliun, AFPI Peringatkan Risiko Gagal Bayar Makin Besar

        Baca Juga: OJK Hentikan 951 Pinjol Ilegal, 1,2 Juta Rekening Terindikasi Scam

        Baca Juga: Utang Warga RI Makin Gemuk, Pinjol Tumbuh 24,76% hingga Tembus Rp105,63 Triliun

        Selain memperketat persetujuan kredit, Suwandi mendorong penyedia BNPL memperkuat edukasi kepada pengguna agar penggunaan pembiayaan diikuti kemampuan membayar kembali.

        “Jadikanlah BNPL (menjadi) Buy Now Pay Later yang benar-benar, jangan Buy Now Pay Never. Masyarakat juga yang harus sadar bahwa kalau sudah pinjam sesuatu, kembalikan,” tegasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: