Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        KDM Disebut 'Jokowi Versi Jawa Barat'

        KDM Disebut 'Jokowi Versi Jawa Barat' Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nama Kang Dedi Mulyadi (KDM) mencuat dalam pembahasan mengenai figur politik populis yang dinilai memiliki modal sosial untuk menghadapi dinamika politik ke depan.

        Hal tersebut muncul dalam diskusi di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored yang tayang pada 3 September 2026. Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi turut menyinggung sosok KDM ketika membahas kombinasi kepemimpinan populis dan teknokratis.

        Menurut Budi Arie, pendekatan kepada masyarakat menjadi salah satu modal penting bagi seorang pemimpin untuk mendapatkan mandat politik.

        "Rakyat butuh populisme. Nah, itu kan didapat dari KDM," ujar Budi Arie.

        Dalam diskusi tersebut, Budi Arie juga mengungkapkan adanya hubungan dan komunikasi antara KDM dengan mantan Presiden Joko Widodo.

        "Ya mereka ada hubungan dan komunikasi," katanya.

        Budi Arie kemudian menilai gaya politik KDM memiliki kemiripan dengan pendekatan Jokowi yang dikenal dekat dengan masyarakat.

        "Dan kalau mau jujur langgamnya atau gayanya Pak Kang Deni Mul ini agak mirip-mirip Pak Jokowian rakyat rakyat bicara padanya mendekati rakyat begitu loh," ujar Budi Arie.

        Pernyataan tersebut kemudian mendapat perhatian dari analis politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno. Ia melihat pujian Budi Arie terhadap KDM memiliki makna politik yang patut diperhatikan.

        Menurut Adi, tidak semua figur politik mendapat pujian dari Budi Arie. Ia bahkan membaca pernyataan tersebut sebagai penggambaran KDM sebagai sosok yang memiliki karakter politik mirip Jokowi di Jawa Barat.

        "Makanya Budi Ari itu bilang KDM itu ya ini adalah Jokowi versi Jawa Barat. Itu kan nyata. Enggak gampang loh Budi Ari itu muji orang, Mang," kata Adi.

        Baca Juga: Ijazah Jokowi Sulit Dibuktikan, UGM Jelaskan Prosedur yang Paling Memungkinkan

        Adi menilai pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari kalkulasi politik mengenai figur yang memiliki kekuatan populis. Namun, penilaian itu merupakan interpretasi atas pernyataan Budi Arie, bukan pernyataan langsung mengenai pencalonan atau keputusan politik tertentu.

        "Enggak gampang, Bang Budi itu yang dipunyi cuman satu, Pak Jokowi," ujar Adi.

        Pembicaraan mengenai KDM tersebut muncul ketika diskusi menyoroti kebutuhan terhadap figur yang mampu menggabungkan pendekatan populis dengan kapasitas teknokratis. Dalam konteks itu, KDM disebut sebagai salah satu sosok yang dinilai memiliki gaya politik dekat dengan masyarakat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Amry Nur Hidayat
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: