Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IBC Ramal BESS Jadi Segmen Baterai Paling Moncer hingga 2035

        IBC Ramal BESS Jadi Segmen Baterai Paling Moncer hingga 2035 Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) memproyeksikan battery energy storage system (BESS) menjadi segmen dengan pertumbuhan paling cepat dalam industri baterai global hingga 2035. Pertumbuhan tersebut didorong oleh kebutuhan transisi energi dan ekspansi pusat data (data center).

        Direktur Utama IB, Aditya F. Arif, mengatakan perkembangan industri baterai kini tidak lagi hanya ditopang oleh kebutuhan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Pertumbuhan ekonomi digital juga mulai menciptakan sumber permintaan baru, khususnya untuk sistem penyimpanan energi.

        “Key drivers dari perkembangan baterai itu sekarang ada dua. Dulu mungkin kita hanya bicara transisi energi, tapi sekarang ada digital economy,” kata Aditya dalam Sosialisasi MediaMIND 2026 di Jakarta, Senin (14/9/2026).

        Menurutnya, transisi energi membutuhkan baterai untuk mendukung integrasi energi baru terbarukan ke jaringan listrik serta percepatan elektrifikasi kendaraan. Sementara perkembangan ekonomi digital turut meningkatkan kebutuhan pasokan listrik yang andal bagi pusat data.

        Aditya menjelaskan, pusat data memerlukan BESS untuk mendukung penyimpanan energi dan menjaga keandalan pasokan listrik. Kebutuhan kapasitas BESS pun diperkirakan meningkat seiring ekspansi industri pusat data.

        “Data center itu membutuhkan baterai. Jadi kalau kita bicara BESS, itu akan menjadi salah satu sektor yang pertumbuhannya paling cepat,” ujarnya.

        IBC memperkirakan kebutuhan BESS secara global pada 2035 dapat mencapai sekitar 30 kali lipat dibandingkan 2023. Pertumbuhan tersebut tidak hanya berasal dari kebutuhan pusat data, melainkan juga dari meningkatnya kebutuhan penyimpanan energi untuk menopang pengembangan pembangkit energi terbarukan.

        Aditya menilai perkembangan itu memperluas prospek industri baterai, yang sebelumnya lebih banyak dikaitkan dengan kendaraan listrik. Ke depan, BESS dinilai berpotensi menjadi salah satu sumber utama pertumbuhan permintaan baterai di tengah ekspansi ekonomi digital dan transisi energi.

        “Waktu kita mendirikan IBC tahun 2021, kita percaya bahwa story baterai ke depan itu akan sangat baik. Dan ternyata seiring berjalannya waktu, malah lebih baik lagi daripada yang di-forecast sebelumnya,” lanjut Aditya.

        Baca Juga: Proyek Nikel Vale Tak Terintegrasi dengan IBC, Manajemen Beri Penjelasan

        Baca Juga: IBC Ungkap Mayoritas Produksi Baterai Karawang Berbasis LFP

        Saat ini, IBC telah mengembangkan portofolio bisnis di sektor menengah (midstream) dan hilir (downstream) bersama Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL). Pada sisi hilir, fasilitas produksi baterai PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang telah mulai beroperasi secara bertahap dengan kapasitas awal 6,9 gigawatt hour (GWh).

        Fasilitas tersebut direncanakan diperluas hingga memiliki kapasitas total 15 GWh.
        Aditya mengatakan produk dari pabrik baterai Karawang tidak hanya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan kendaraan listrik. Sebagian kapasitas produksi juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan BESS.

        “Sebagian untuk EV dan sebagian lagi untuk BESS,” tutup Aditya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: