Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Minyak Bertahan di Atas US$100, Pasar Dibayangi Lonjakan Stok AS

        Harga Minyak Bertahan di Atas US$100, Pasar Dibayangi Lonjakan Stok AS Kredit Foto: Kementerian ESDM
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga minyak mentah turun pada perdagangan Rabu (16/9/2026), setelah data industri menunjukkan persediaan minyak mentah, bensin, dan produk olahan di Amerika Serikat (AS) meningkat. Kenaikan stok tersebut terjadi ketika pasar masih dibayangi kekhawatiran gangguan pasokan dari Arab Saudi.

        Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun 93 sen atau 0,9% menjadi US$107,82 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 97 sen atau 0,9% menjadi US$104,86 per barel.

        Penurunan harga terjadi sehari setelah minyak melonjak sekitar 3% akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global menyusul gangguan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi.

        Tekanan terhadap harga datang dari data American Petroleum Institute (API). Persediaan minyak mentah AS meningkat 7,1 juta barel untuk pekan yang berakhir 11 September.

        Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi analis yang memperkirakan persediaan minyak mentah AS justru turun sekitar 1,6 juta barel. Kenaikan stok menunjukkan pasokan domestik AS masih relatif besar sehingga memberikan tekanan terhadap harga minyak.

        Selain minyak mentah, persediaan bensin dan produk distilat AS juga dilaporkan meningkat pada periode yang sama.

        Di sisi lain, pasar minyak masih menghadapi risiko pasokan dari Timur Tengah.

        Arab Saudi menghentikan sementara pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu setelah serangan terhadap East-West Pipeline, jalur pipa strategis yang menghubungkan wilayah produksi minyak di bagian timur Arab Saudi dengan fasilitas ekspor di Laut Merah.

        Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer tersebut memiliki kapasitas sekitar 4 juta hingga 5 juta barel per hari, atau sekitar 4%-5% pasokan minyak global. 

        Menteri Energi AS, Chris Wright,mengatakan pipa tersebut diperkirakan dapat kembali beroperasi dalam beberapa hari. Namun, estimasi waktu perbaikan di lapangan masih beragam. Sejumlah sumber memperkirakan perbaikan dapat berlangsung beberapa hari, sementara sumber lainnya menyebut kemungkinan membutuhkan waktu hingga lima atau enam pekan.

        Baca Juga: Harga Minyak Melonjak di Atas 3%, Serangan Saudi dan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan

        Baca Juga: Stok Dunia Menipis, Krisis BBM Global Sudah di Depan Mata

        Gangguan terbaru tersebut menambah tekanan terhadap pasokan minyak Saudi. Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan pasokan minyak mentah Saudi pada Agustus turun menjadi sekitar 6 juta barel per hari, level terendah dalam lebih dari tiga dekade.

        Penurunan tersebut terjadi setelah berbagai serangan terhadap infrastruktur energi dan jalur pengiriman minyak di kawasan tersebut.

        Di Libya, tiga ladang minyak juga menghentikan operasinya setelah terjadi aksi protes lokal. Namun, menurut National Oil Corporation, produksi nasional Libya masih berada di sekitar 1,4 juta barel per hari.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: