Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Minyak Melonjak di Atas 3%, Serangan Saudi dan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan

Harga Minyak Melonjak di Atas 3%, Serangan Saudi dan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga minyak dunia kembali melonjak pada awal perdagangan Senin (14/9/2026). Ini terdorong meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah serangkaian serangan baru menyasar wilayah Arab Saudi dan kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz.

Mengacu laporan Reuters, harga minyak Brent sempat melonjak lebih dari US$3 per barel atau sekitar 3% pada awal perdagangan. Kenaikan tersebut membawa harga Brent ke level sekitar US$107,51 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik ke sekitar US$102,32 per barel.

Lonjakan harga terjadi setelah serangan terbaru meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keberlangsungan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Salah satu pemicu utama adalah terganggunya operasional jaringan pipa East-West milik Arab Saudi setelah fasilitas tersebut terkena serangan drone. Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer itu memiliki kapasitas mengalirkan sekitar 4 juta hingga 5 juta barel minyak per hari menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Jalur tersebut menjadi semakin strategis karena selama konflik berlangsung, Selat Hormuz menghadapi gangguan yang membuat Arab Saudi membutuhkan jalur alternatif untuk mengirim minyak ke pasar global.

Jika gangguan pipa berlangsung lebih lama, pasar memperkirakan dampaknya dapat mengurangi pasokan global hingga sekitar 4%. Kondisi tersebut berpotensi semakin memperketat pasar minyak yang sebelumnya sudah menghadapi gangguan akibat konflik di kawasan.

Kekhawatiran juga datang dari perkembangan di Selat Hormuz. Sejumlah kapal dilaporkan kembali menjadi sasaran serangan, sementara ketegangan antara Iran dan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengannya dengan negara-negara kawasan semakin meningkat.

Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman juga meningkatkan aktivitas militernya. Kelompok tersebut dilaporkan menguasai Pulau Perim yang berada di dekat Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur penting perdagangan dan pengiriman minyak dunia.

Bab el-Mandeb menjadi jalur strategis karena sekitar 4% hingga 5% lalu lintas minyak dunia melewati kawasan tersebut. Gangguan terhadap jalur ini dapat semakin memperumit distribusi energi global.

Kenaikan harga minyak juga terjadi ketika upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan di kawasan kembali menemui hambatan. Pertemuan regional yang direncanakan di Oman untuk membahas keamanan pelayaran dan proposal terkait Selat Hormuz ditunda karena belum tercapai kesepakatan di antara negara-negara yang terlibat.

Pasar minyak mencatat kenaikan sekitar 8% dalam sepekan terakhir. Harga minyak juga kembali menembus level US$100 per barel, untuk pertama kalinya sejak Juli, menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap perkembangan geopolitik di kawasan tersebut.

Situasi ini meningkatkan risiko tekanan inflasi global. Kenaikan harga energi dapat mendorong biaya transportasi dan produksi, sekaligus mempersempit ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Baca Juga: Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik Meski Harga Minyak Dunia Melonjak

Baca Juga: Harga Minyak Meroket, Pertamina Wanti-wanti Dampak Panic Buying BBM

Bagi negara-negara importir minyak, lonjakan harga juga berpotensi meningkatkan beban impor energi dan menekan neraca perdagangan serta nilai tukar apabila berlangsung dalam waktu panjang.

Pasar kini akan mencermati dua faktor utama, yakni seberapa cepat operasional pipa minyak Arab Saudi dapat dipulihkan dan apakah jalur pelayaran di Selat Hormuz serta Bab el-Mandeb dapat kembali berjalan normal.

Tanpa perbaikan pada kedua faktor tersebut, risiko gangguan pasokan minyak global masih terbuka dan dapat menjaga harga minyak bertahan di atas US$100 per barel.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: