Kredit Foto: Istimewa
PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) tengah mencari sejumlah alternatif untuk meningkatkan porsi saham yang beredar di publik hingga memenuhi batas minimum free float yang dipersyaratkan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Bersama pemegang saham pengendali, perseroan membuka opsi menghadirkan investor strategis. Skema yang dipertimbangkan mencakup investasi secara langsung maupun penerbitan saham baru melalui mekanisme right issue.
Langkah tersebut disampaikan manajemen Bank JTrust dalam keterbukaan informasi kepada BEI sebagai jawaban atas permintaan penjelasan Bursa melalui surat nomor 15.04/S.Dir-CSD/JTRUST/IX/2026 tertanggal 15 September 2026.
Manajemen Bank JTrust mencatat porsi saham publik terus mengalami kenaikan dalam beberapa periode terakhir. Pada Oktober 2025, free float BCIC berada di level 7,75%. Posisi tersebut kemudian meningkat menjadi 12,56% pada 30 Juni 2026 dan kembali bertambah menjadi 13,74% pada akhir Agustus 2026.
Dengan perkembangan tersebut, Bank JTrust masih perlu menambah sekitar 1,26 poin persentase untuk mencapai ketentuan minimum free float sebesar 15% yang berlaku di BEI.
Meski proses peningkatan sudah berjalan, perseroan meminta adanya waktu dan masa transisi yang lebih fleksibel dari BEI. Manajemen Bank JTrust menilai pemenuhan ketentuan pasar modal perlu dilakukan secara selaras dengan kewajiban dan ketentuan perbankan yang berada dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Menurut manajemen Bank JTrust, kondisi pasar modal serta sentimen ekonomi makro menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam menentukan langkah selanjutnya. Sikap investor yang masih cenderung berhati-hati terhadap sektor perbankan membuat perseroan harus mempertimbangkan waktu pelaksanaan dan tingkat valuasi yang sesuai.
Pertimbangan lain adalah potensi dampak aksi korporasi terhadap pemegang saham yang sudah ada. Perseroan memperhitungkan kemungkinan terjadinya dilusi apabila penambahan atau pelepasan saham dilakukan ketika kondisi pasar belum mendukung.
Bank JTrust juga mengacu pada pengalaman aksi korporasi pada 2022. Kala itu, perseroan melakukan penambahan modal melalui Dana Setoran Modal (DSM) untuk memenuhi ketentuan modal minimum Rp3 triliun yang ditetapkan OJK.
Dalam pelaksanaan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) pada periode tersebut, tidak semua pemegang saham publik menggunakan haknya. Kondisi itu kemudian turut menyebabkan persentase free float perseroan menurun.
Baca Juga: BEI Tegur Mitrabara Adiperdana (MBAP) Penuhi Free Float, Saat Ini Baru 9,702%
Baca Juga: Emiten Boy Thohir (MBMA) Gelontorkan Rp1,38 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Alasannya
Baca Juga: Free Float Masih 9,24%, SOHO Siapkan Sejumlah Opsi
Ke depan, manajemen Bank JTrust akan memasukkan strategi peningkatan saham publik sebagai bagian dari Rencana Bisnis Bank (RBB) untuk periode 2027-2029. Targetnya, porsi saham publik dapat mencapai ketentuan minimum 15%.
Di samping menjajaki kehadiran investor strategis, perseroan juga melakukan komunikasi dengan pelaku pasar dan calon investor. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kesinambungan peningkatan kepemilikan saham publik.
Manajemen Bank JTrust menegaskan bahwa strategi pemenuhan free float akan tetap mempertimbangkan kondisi bisnis dan permodalan perseroan. Dengan demikian, pemenuhan ketentuan BEI diupayakan berjalan beriringan dengan stabilitas operasional dan keberlanjutan kinerja Bank JTrust.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan