Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PLN-Pelindo Bidik Hemat 5 Juta Liter BBM dari Elektrifikasi Kapal di Tanjung Priok

        PLN-Pelindo Bidik Hemat 5 Juta Liter BBM dari Elektrifikasi Kapal di Tanjung Priok Kredit Foto: PLN
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT PLN (Persero) dan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) mulai mengembangkan Onshore Power Supply (OPS) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Teknologi ini terbukti memangkas konsumsi bahan bakar minyak (BBM) kapal hingga 60% dalam satu kali sandar.

        Direktur Utama PT Energi Pelabuhan Indonesia, Andriyuda Siahaan, mengatakan hasil uji coba OPS di Tanjung Priok menunjukkan penghematan sekitar 700 liter BBM dalam waktu kurang dari 24 jam.

        “Kita lakukan uji coba, tidak sampai 24 jam efisiensinya mencapai sekitar 700 liter (setara 50 hingga 60 persen per hari sandar). Tidak sampai 24 jam,” ujar Andriyuda.

        PLN dan Pelindo selanjutnya berencana mengembangkan 24 unit OPS di kawasan Tanjung Priok dengan total kapasitas 12 megavolt ampere (MVA) pada 2027. Jika seluruh fasilitas tersebut beroperasi, potensi penghematan BBM diperkirakan mencapai 4–5 juta liter per tahun.

        “Melalui implementasi penuh pada 24 unit berkapasitas total 12 MVA yang rencananya akan dibangun, potensi penghematan BBM diperkirakan mencapai sekitar 4–5 juta liter per tahun, dengan potensi penurunan emisi hingga sekitar 8–10 ribu ton CO2 per tahun,” kata Andriyuda.

        OPS bekerja dengan menggantikan penggunaan genset kapal selama bersandar dengan pasokan listrik dari darat. Dengan begitu, mesin diesel kapal dapat dimatikan selama berada di pelabuhan.

        PLN dan Pelindo pada Rabu (16/9) meresmikan dua unit OPS di Dermaga Serbaguna Nusantara (DSN), Tanjung Priok. Masing-masing unit memiliki kapasitas 500 kilovolt ampere (kVA), sehingga total kapasitas awal yang beroperasi mencapai 1 MVA.

        Andriyuda mengatakan pengembangan OPS tidak berhenti di Tanjung Priok. Setelah 24 unit ditargetkan terbangun pada 2027, fasilitas serupa berpotensi direplikasi ke terminal multipurpose, dermaga umum, dan pelabuhan lainnya hingga mencapai 123 unit pada 2050.

        Dari sisi lingkungan, penerapan OPS juga diperkirakan menurunkan emisi karbon. Hasil uji coba menunjukkan pengurangan emisi sekitar 1,5 ton CO2 per hari sandar.

        “Hasil uji coba OPS di Tanjung Priok membuktikan bahwa elektrifikasi pelabuhan memberikan dampak yang terukur, mulai dari penghematan bahan bakar hingga 60 persen per hari sandar, penurunan emisi karbon sekitar 1,5 ton CO2 per hari sandar, hilangnya asap dan kebisingan genset, hingga kualitas daya listrik yang jauh lebih stabil bagi kapal,” tutup Andriyuda.

        Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan penggunaan listrik dari darat menjadi bagian dari upaya perusahaan mendorong elektrifikasi sekaligus menekan emisi sektor maritim.

        “Kehadiran fasilitas OPS di Tanjung Priok menjadi solusi untuk mengurangi emisi dari kapal selama bersandar di pelabuhan. Melalui OPS, kebutuhan listrik kapal dapat dipenuhi dari sumber listrik di darat, sehingga penggunaan mesin diesel dapat ditekan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya PLN mendukung dekarbonisasi sektor maritim sekaligus mendorong terwujudnya ekosistem pelabuhan yang lebih hijau dan berkelanjutan,” ujar Darmawan.

        Menurut Darmawan, infrastruktur OPS juga membutuhkan dukungan pasokan listrik yang andal dari PLN untuk menopang operasional kapal selama berada di pelabuhan.

        “Dukungan kelistrikan yang andal merupakan salah satu komitmen PLN dalam mengakomodir kebutuhan energi bersih di kawasan pelabuhan maupun industri skala besar. Ini adalah bentuk sinergi BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dalam mendukung transformasi sektor kepelabuhan melalui pemanfaatan energi domestik, sekaligus mendorong produktivitas melalui penghematan para pelaku usaha di bidang maritim dan mengoptimalkan aktivitas pelabuhan,” ucap Darmawan.

        Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar mengatakan OPS menjadi bagian dari transformasi Tanjung Priok menuju konsep green port.

        “OPS bukan sekadar menggantikan sumber listrik kapal dari genset menjadi listrik darat. Ini merupakan langkah konkret dalam transformasi Pelabuhan Tanjung Priok menuju green port, dengan menghadirkan energi yang lebih efisien, lebih bersih, dan lebih andal. Kami ingin membangun ekosistem pelabuhan yang tidak hanya semakin produktif, tetapi juga semakin berkelanjutan,” kata Achmad.

        Baca Juga: PLN EPI Kembangkan Pengolahan Sampah Bandung, Empat SWK Bidik 1.200 Ton

        Baca Juga: Hadiri Bazar Pelindo di Empat Kota, 75 UMKM Raup Omzet Rp307 Juta

        Dua unit OPS yang telah diresmikan merupakan tahap awal dari program 24 unit di Tanjung Priok. Fasilitas tersebut dibangun dan dioperasikan PT Energi Pelabuhan Indonesia (EPI), perusahaan patungan PT PLN Electricity Services dan PT Pelindo Jasa Maritim.

        Fasilitas OPS di DSN juga tercatat sebagai yang pertama di Indonesia yang lulus uji standar internasional IEC/IEEE 80005-3:2025. Sistem tersebut dapat memasok listrik dengan frekuensi 50 hertz (Hz) maupun 60 Hz dan mampu melayani dua hingga empat kapal secara bersamaan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: