Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Geopolitik Memanas, Harga Minyak Dunia Diproyeksi Tembus US$102,50 per Barel

        Geopolitik Memanas, Harga Minyak Dunia Diproyeksi Tembus US$102,50 per Barel Kredit Foto: Kementerian ESDM
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga minyak mentah dunia diperkirakan masih berada pada level tinggi dalam perdagangan pekan depan. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga minyak mentah bergerak di kisaran US$90,30 hingga US$102,50 per barel.

        Menurut Ibrahim, harga minyak bahkan berpotensi menembus level US$102,50 per barel apabila tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah semakin meningkat.

        “Artinya, harga minyak mentah masih cukup tinggi. Bisa saja melompat di harga 102,50,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu (20/9/2026).

        Ia menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang akan memengaruhi pergerakan harga minyak, terutama perkembangan geopolitik, kebijakan politik Amerika Serikat, serta arah kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve.

        Ibrahim menilai perkembangan geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak. Ketegangan di Timur Tengah, menurut dia, kini tidak hanya berkaitan dengan kawasan Selat Hormuz, tetapi juga meluas ke Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.

        Kelompok Houthi di Yaman disebut meningkatkan aktivitas militernya di kawasan tersebut. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran dan distribusi energi dunia.

        Baca Juga: Harga Minyak Melampaui Asumsi APBN, Suahasil Ingatkan Risiko Subsidi Energi

        Baca Juga: Harga Minyak Turun 1%, Pasar Mulai Redam Kekhawatiran Gangguan Pasokan Timur Tengah

        Sejumlah laporan pada periode sebelumnya juga menunjukkan bahwa gangguan di kawasan Laut Merah dan Bab el-Mandeb telah menjadi perhatian pasar energi karena jalur tersebut merupakan rute penting bagi perdagangan dan pengiriman energi.

        "Dan peperangan terjadi, ibu kota Arab Saudi pun juga diserang dengan missile dan drone dari Yaman Hoti," ungkap dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: