Merek Ban China Makin Ramai, Produsen Ban Indonesia Tak Mau Terjebak Perang Harga
Kredit Foto: Istimewa
Persaingan industri ban di Indonesia semakin ramai seiring bertambahnya merek yang masuk ke pasar, termasuk produk asal China. Kondisi tersebut membuat produsen harus mencari cara mempertahankan konsumen di tengah pilihan produk yang semakin beragam.
Presiden Direktur PT Bridgestone Tire Indonesia Mukiat Sutikno mengatakan persaingan dengan merek dari China maupun negara lain merupakan bagian dari dinamika industri yang tidak bisa dihindari.
“Sebenarnya kalau untuk kami sendiri saya rasa kita nggak bisa ungkiri bahwa mau dari China ataupun negara lain, pasti kompetisi akan terus bergulir,” kata Mukiat saat peluncuran Dayton di Bandar Djakarta PIK 2, Tangerang, Rabu (23/9/2026).
Menurut dia, produsen tidak bisa hanya merespons persaingan dengan menurunkan harga. Ada sejumlah aspek yang menjadi pertimbangan konsumen ketika memilih ban, terutama terkait keselamatan dan biaya penggunaan kendaraan.
Mukiat menyebut faktor keselamatan menjadi salah satu hal utama yang perlu diperhatikan produsen. Selain itu, efisiensi juga menjadi pertimbangan karena ban berkaitan dengan konsumsi bahan bakar kendaraan.
“Yang pastikan bagaimana kita memastikan customer cari apa sih? Satu kan tentunya dari segi safety. Dan kedua dari segi fuel efficiency,” ujarnya.
Menurut Mukiat, kebutuhan terhadap efisiensi tersebut semakin relevan ketika biaya penggunaan kendaraan ikut meningkat. Harga bahan bakar, misalnya, menjadi salah satu komponen yang diperhitungkan pemilik kendaraan dalam menentukan biaya operasional.
“Karena suka nggak suka, walaupun kita bilang bensin sekarang naik karena konflik Timur Tengah, tapi sekalipun itu mau nggak mau nanti bensin akan tetap naik,” ungkap dia.
Karena itu, produsen perlu memastikan karakteristik produk tetap sesuai dengan kebutuhan konsumen, bukan semata-mata mengejar harga jual yang rendah.
Mukiat mengatakan pihaknya memilih memperkuat kualitas produk yang diproduksi di Indonesia sekaligus meningkatkan layanan kepada konsumen.
“Fokus kami adalah terkait kualitas dari produk yang kita produksi di Indonesia dan bisa memenuhi apa yang diinginkan oleh konsumen,” jelas Mukiat.
Persaingan tersebut juga berlangsung ketika pasar ban domestik menghadapi tekanan. Mukiat menyebut pasar ban pada semester pertama 2026 masih tumbuh sekitar 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, memasuki semester kedua, pasar mulai melambat. Penurunan dibandingkan semester pertama disebut mencapai sekitar 5%, sementara pada sejumlah segmen bisa berada di kisaran 5-10%.
Kondisi pasar yang melemah membuat persaingan antarprodusen menjadi semakin penting. Konsumen memiliki lebih banyak pilihan, sementara kemampuan untuk menaikkan harga juga terbatas karena produsen harus mempertimbangkan daya beli.
Mukiat sebelumnya menyebut harga bahan baku ban pada 2026 mengalami kenaikan sekitar 10-11% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, kenaikan biaya tersebut tidak bisa sepenuhnya diteruskan ke harga jual karena kondisi pasar.
Baca Juga: Bridgestone Garap Pasar Ban di Luar Pusat Kota, Ini Strateginya
Baca Juga: Industri Motor Listrik Minta Kepastian Aturan, Bukan Sekadar Insentif
Baca Juga: Moeldoko Gusar Insentif Motor Listrik Tak Kunjung Jelas, Diler Mulai Stuck
Di tengah kondisi itu, produsen ban juga mulai menggarap kebutuhan kendaraan listrik yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kendaraan bermesin konvensional.
Mukiat mengatakan ban untuk kendaraan listrik membutuhkan perhatian khusus karena bobot kendaraan cenderung lebih berat akibat penggunaan baterai. Selain kekuatan konstruksi, tingkat kebisingan ban juga menjadi faktor penting.
“Ban EV yang tadi saya katakan kan sebenarnya bobot kendaraannya lebih berat karena baterainya. Jadi kalau sidewall-nya kurang kuat, itu bannya bisa pecah dari samping,” jelas Mukiat.
Menurut dia, ban untuk kendaraan listrik juga dituntut lebih senyap karena suara ban menjadi salah satu sumber kebisingan yang dapat terdengar di dalam kabin.
"Kalau nggak, ya sama saja kita nyetir mobil yang konvensional. Suara bannya masuk ke dalam,” tutup Mukiat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: