Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        KDMP Lengkong Bangun Rantai Pasok Digital, Hubungkan Produk UMKM dengan Pasar

        KDMP Lengkong Bangun Rantai Pasok Digital, Hubungkan Produk UMKM dengan Pasar Kredit Foto: Redaksi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Keterbatasan lahan dan modal tidak menghalangi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Desa Lengkong, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, untuk mengembangkan aktivitas perdagangan. Alih-alih menampung seluruh produk, koperasi memilih menjalankan model usaha berbasis kemitraan dengan memanfaatkan jejaring pelaku usaha lokal dan kanal digital.

        Melalui model tersebut, KDMP Lengkong mengambil peran sebagai penghubung antara konsumen, Usaha, Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), petani, serta penyedia barang. Produk tidak harus disimpan seluruhnya oleh koperasi, melainkan dapat dipenuhi melalui mitra yang memiliki persediaan atau kapasitas produksi.

        Ketua KDMP Desa Lengkong, Hasan Basri, mengatakan model kemitraan dikembangkan untuk membantu produk UMKM lokal memperoleh saluran pemasaran tambahan. Sebelum bergabung dengan koperasi, sejumlah pelaku usaha telah memiliki pasar masing-masing, tetapi jangkauannya masih banyak bertumpu pada konsumen di sekitar desa.

        "Kalau UMKM-UMKM sudah punya pasar sendiri di Desa Lengkong ya, dengan corak produk masing-masing. Lalu kehadiran KDMP juga membantu untuk proses pemasaran juga," kata Hasan kepada Warta Ekonomi, Jumat (18/9/2026).

        Dalam pengembangannya, KDMP Lengkong memanfaatkan website dan WhatsApp Business operator. Website digunakan sebagai kanal awal bagi konsumen untuk memilih produk, sedangkan WhatsApp menjadi sarana tindak lanjut pemesanan dan koordinasi dengan pihak yang menyediakan barang.

        Bagi koperasi, pemanfaatan kanal digital tersebut tidak berdiri sendiri. Fungsinya berkaitan dengan upaya membangun jaringan usaha yang memungkinkan produk dari berbagai mitra dihimpun dan ditawarkan kepada konsumen melalui satu jalur koordinasi.

        Hasan mengatakan, pengembangan website juga diarahkan untuk mengikuti sistem yang disediakan Dinas Koperasi (Diskop) Kabupaten Bandung. Integrasi tersebut diharapkan membuka peluang kerja sama dengan koperasi dan pelaku usaha di wilayah lain.

        "Jadi kita bisa kerja sama, bisa memasarkan kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Bandung juga. Termasuk Kabupaten Bandung itu kan 31 kecamatan, 270 desa, 10 kelurahan. Jadi kita juga mencoba memasarkan produk UMKM-UMKM yang ada di Desa Lengkong itu menjadi luas juga," ungkapnya.

        Selain membuka peluang pemasaran, Hasan melihat integrasi antarkoperasi dapat mendukung pertukaran produk ketika barang yang dibutuhkan tidak tersedia di KDMP Lengkong.

        "Karena kemudahan dari website ini itu kan bisa terintegrasi ke mana-mana gitu. Termasuk produk-produk yang dari luar juga, ya maksudnya dari desa-desa yang lain, KDMP yang lain yang sama jalan dengan kita juga. Itu sambil menukar produk juga sama," jelas Hasan.

        Ia menambahkan, mekanisme pertukaran dapat diarahkan untuk memenuhi permintaan yang tidak dapat dipenuhi melalui persediaan di koperasi sendiri.

        "Ya barter, jadi kalau di KDMP Lengkong nggak ada, ya itu nanti kita arahkan juga anggota dan UMKM itu bisa saling tukar produk," katanya.

        Pola tersebut menempatkan digitalisasi sebagai bagian dari pengembangan konektivitas usaha. Meski demikian, integrasi antar koperasi masih perlu dikembangkan dengan sistem pencatatan dan pengelolaan transaksi yang lebih terstruktur agar manfaatnya dapat diukur.

        Baca Juga: Biayai KDMP dan MBG, OJK Minta Bank Himbara Perkuat Manajemen Risiko

        WhatsApp Menjadi Penghubung Permintaan dan Penyedia Barang

        Bagi KDMP Lengkong, salah satu fungsi utama digitalisasi yang telah berjalan adalah mendukung proses koordinasi antara konsumen dan mitra penyedia barang.

        Bendahara KDMP Desa Lengkong, Iwan Setiawan, mengatakan koperasi menjalankan aktivitas penjualan dengan menggandeng penyedia barang, sehingga tidak perlu menyimpan seluruh produk dalam bentuk stok sendiri.

        "Kita ini seolah-olah kita punya toko sendiri, tapi kita kerja sama dengan penyedia barang," kata Iwan.

        Ia menjelaskan, konsumen dapat memilih produk melalui website yang kemudian mengarahkan mereka ke WhatsApp Business operator. Setelah pesanan disampaikan, operator menindaklanjuti permintaan tersebut dan mengkoordinasikannya dengan pihak penyedia barang.

        "Kalau di kami itu, biasanya mereka bisa pilih produk lewat website yang kemudian diarahkan ke WhatsApp bisnis operator, selanjutnya mereka akan melakukan pemesanan dan akan dikirimkan oleh kami. Nah, setelahnya kami akan kirimkan invoice yang sudah dibuat ke konsumen dan konsumen dapat memilih pembayaran COD atau transfer," jelas Iwan.

        Alur tersebut memperlihatkan pembagian fungsi dalam operasional KDMP Lengkong. Website menjadi kanal awal untuk melihat produk, WhatsApp digunakan sebagai sarana komunikasi pemesanan, sementara koperasi menangani penerbitan invoice dan koordinasi pemenuhan barang.

        Mekanisme ini belum dapat disebut sebagai sistem perdagangan digital yang sepenuhnya otomatis. Belum ada informasi yang memastikan bahwa pemesanan, pencatatan persediaan, dan penerbitan invoice telah terhubung dalam satu sistem. Namun, pemanfaatan kanal digital tetap mendukung proses penghubungan permintaan konsumen dengan jaringan penyedia barang yang dimiliki koperasi.

        Dengan menjalankan fungsi agregator, KDMP dapat menawarkan produk dari berbagai mitra tanpa harus menanggung seluruh kebutuhan persediaan secara mandiri. Bagi UMKM, kemitraan memberikan tambahan saluran pemasaran. Sementara bagi konsumen, model tersebut membuka akses terhadap produk yang berasal dari sejumlah pelaku usaha.

        Hingga saat ini, sekitar 25 UMKM telah bekerja sama dengan KDMP Lengkong untuk memasarkan produk mereka.

        Dari Pesanan Pangan hingga Kemitraan Petani

        Fungsi penghubung antara permintaan dan penyedia barang juga diterapkan KDMP Lengkong dalam pemenuhan kebutuhan pangan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

        Koperasi memfasilitasi penyediaan sejumlah kebutuhan pangan, termasuk tahu, telur, buah-buahan, dan produk lainnya. Kegiatan ini memperlihatkan upaya koperasi membangun aktivitas perdagangan melalui hubungan dengan penyedia barang, bukan hanya melalui penjualan produk UMKM kepada konsumen rumah tangga.

        Hasan mencontohkan, kebutuhan tahu untuk SPPG mencapai sekitar 2.400 biji per minggu dengan nilai sekitar Rp500 ribu. Jika digabungkan dengan kebutuhan produk lainnya, nilai transaksi yang difasilitasi KDMP disebut mencapai hampir Rp2,5 juta per minggu.

        "Jadi dari seluruhnya itu ya di sekitar hampir Rp2,5 juta per minggu," kata Hasan.

        Dari transaksi tersebut, KDMP memperoleh bagian sebesar 2% dari pihak penyedia barang. Skema ini menjadi salah satu bentuk kegiatan usaha koperasi melalui kemitraan dengan produsen dan pemasok.

        Di sektor pertanian, KDMP juga menjalin kerja sama dengan Didin Mahpudin, pembina Petani Cabai Tanjung. Kemitraan ini mencakup dukungan permodalan, pendampingan, dan pemasaran hasil pertanian.

        Pada tahap awal, KDMP memberikan modal sebesar Rp25 juta untuk pengembangan lahan seluas 4.200 meter persegi. Seiring pengembangan usaha, lahan pertanian yang dikelola mencapai sekitar 1,5 hektare.

        Didin menangani aspek teknis budidaya, sedangkan KDMP berperan dalam mendukung pengembangan usaha dan pemasaran hasil panen. Sebagian hasil pertanian dipasarkan melalui koperasi, sementara sebagian lainnya disalurkan ke pasar umum.

        "Sebagian dipasarkan melalui KDMP dan sebagian lainnya dijual ke pasar umum. Kapasitas KDMP masih terbatas karena sebagian besar hasilnya diperuntukkan bagi kebutuhan anggota," jelas Didin.

        Informasi mengenai ketersediaan hasil panen disampaikan melalui grup WhatsApp anggota KDMP. Anggota dapat menyampaikan kebutuhan dan jumlah produk yang ingin dipesan, termasuk cabai yang dipanen setiap lima hari sekali.

        Dalam skema ini, WhatsApp membantu menyampaikan informasi ketersediaan dan menghubungkan kebutuhan anggota dengan hasil panen. Namun, penyerapan hasil pertanian melalui koperasi masih terbatas dan didominasi oleh permintaan anggota.

        Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa jaringan digital telah dimanfaatkan untuk mendukung koordinasi distribusi produk. Pengembangan lebih lanjut tetap membutuhkan penguatan kapasitas penyerapan, pencatatan permintaan, dan perluasan jaringan pembeli.

        Baca Juga: Mau Bayar KDMP, Kemenkeu Masih Nunggu Tagihan Himbara

        Kemitraan Tambah Saluran Distribusi UMKM

        Manfaat kemitraan dengan KDMP Lengkong juga dirasakan oleh pelaku UMKM. Salah satunya adalah Lennny Nurkelany, pemilik usaha Kacang Daruk Madu, yang memproduksi makanan ringan berupa kacang daruk, makaroni, dan pangsit.

        Lennny mengatakan, ia tertarik bergabung dengan KDMP karena melihat perkembangan pengelolaan koperasi serta peluang pemasaran produk melalui jaringan yang dibangun.

        "Saya tertarik karena di sini terlihat screening keuangan. Karena pengelolaan KDMP bagus. Saya tertarik di sini tuh belum setahun udah terlihat," ujar Lennny.

        Menurut Lennny, penjualan produknya meningkat setelah bergabung dengan KDMP. Sebelum bergabung, penjualan harian berada di kisaran 250 hingga 350 bungkus, sedangkan setelah bergabung ia menyebut jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 500 hingga 600 bungkus.

        KDMP melakukan pemesanan produk sekitar tiga kali dalam seminggu, biasanya pada Senin, Rabu, dan Jumat.

        "Jadi sekarang alhamdulillah semenjak masuk KDMP semakin bertambah. Sekarang dua hari sekali masyarakat mau dalam acara pengajian, acara masalin juga ke tetangga, warung-warung tetangga gitu," katanya.

        Peningkatan tersebut menunjukkan adanya tambahan saluran distribusi bagi produk UMKM melalui jaringan koperasi. Kendati demikian, kontribusi spesifik website atau kanal digital terhadap peningkatan penjualan belum dapat dipisahkan dari kontribusi pemesanan melalui jaringan koperasi dan kanal penjualan lainnya.

        Bagi KDMP Lengkong, kemitraan semacam ini menjadi bagian dari upaya memperluas jaringan pemasaran produk lokal.

        Digitalisasi dan Tantangan Integrasi Rantai Pasok

        Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) sekaligus pengamat koperasi, Suroto, menilai digitalisasi dapat memperkuat fungsi koperasi sebagai agregator produk masyarakat desa.

        Menurutnya, koperasi perlu menghubungkan sisi pasokan dengan permintaan agar produk yang dihasilkan pelaku usaha lokal dapat disalurkan sesuai kebutuhan pasar.

        "Kanal digital ini penting, karena dengan integrasi organisasi yang kuat secara nasional akan memberikan data konsolidasi dari sisi supply side dan demand side," kata Suroto saat dihubungi Warta Ekonomi, Kamis (17/9/2026).

        Integrasi data pasokan dan permintaan dapat membantu koperasi memahami kebutuhan konsumen, merencanakan pengadaan, dan mengembangkan hubungan yang lebih terarah dengan produsen. Namun, manfaat tersebut membutuhkan dukungan sistem operasional yang dapat mengelola informasi secara konsisten.

        "Digitalisasi secara menyeluruh dari aspek operasionalisasi KDMP ini sangat penting," ujarnya.

        Dalam konteks KDMP Lengkong, pemanfaatan website dan WhatsApp telah mendukung fungsi koordinasi pemesanan serta hubungan dengan mitra. Akan tetapi, sistem digital yang lebih terintegrasi masih diperlukan untuk menghubungkan pencatatan transaksi, pengelolaan persediaan, data permintaan, dan pengukuran kinerja usaha.

        Hal ini penting agar koperasi tidak hanya memiliki kanal digital, tetapi juga dapat mengukur manfaat yang dihasilkan dari penggunaannya.

        Baca Juga: KDMP Tinggal Tunggu Perpres, Tapi Gaji Managernya Belum Jelas

        Digitalisasi Koperasi Harus Memberikan Manfaat Ekonomi

        Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan, digitalisasi koperasi diarahkan untuk meningkatkan efisiensi usaha, mengintegrasikan rantai pasok, dan memperluas akses pasar.

        "Digitalisasi harus berdampak langsung: lebih efisien, pasar makin luas, dan usaha koperasi makin kuat," kata Meutya saat meninjau Koperasi Al Ittifaq di Kabupaten Bandung, (25/4/2026).

        Ketiga tujuan tersebut memberikan konteks bagi pengembangan usaha KDMP Lengkong. Dari sisi penguatan rantai pasok, koperasi telah menjalankan fungsi agregasi melalui kerja sama dengan UMKM, petani, dan penyedia kebutuhan pangan.

        Kanal digital digunakan untuk mendukung komunikasi pemesanan, menyampaikan informasi produk, dan menghubungkan konsumen dengan operator koperasi. Pada saat yang sama, jaringan kemitraan memungkinkan pemenuhan permintaan dilakukan melalui penyedia barang yang tidak seluruhnya dimiliki oleh KDMP.

        Sementara itu, dampak digitalisasi terhadap efisiensi proses bisnis dan perluasan pasar masih membutuhkan pengukuran lebih lanjut. Belum tersedia data yang memadai untuk menunjukkan besaran pengurangan waktu pemrosesan, peningkatan produktivitas operator, atau pertumbuhan transaksi yang secara khusus berasal dari website.

        Hal tersebut tidak mengurangi fungsi kanal digital yang telah digunakan, tetapi menunjukkan bahwa pengembangan koperasi masih berada pada tahap penguatan fondasi operasional dan jaringan usaha.

        Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pemanfaatan kanal digital dapat didukung pencatatan transaksi yang lebih terukur. Data jumlah pesanan, asal pelanggan, waktu pemrosesan, nilai transaksi, dan kontribusi penjualan dari masing-masing kanal dapat menjadi dasar bagi koperasi untuk menilai efektivitas pengembangan digitalisasi.

        Bagi KDMP Lengkong, kekuatan utama yang telah terlihat adalah kemampuan membangun hubungan antara permintaan konsumen dengan jaringan penyedia barang. Model ini memberikan ruang bagi koperasi untuk menjalankan aktivitas usaha, sekaligus membuka saluran pemasaran tambahan bagi pelaku UMKM dan petani.

        Dengan pengembangan sistem yang lebih terintegrasi, peran tersebut dapat diarahkan untuk memperkuat pengadaan, meningkatkan kapasitas penyerapan produk lokal, dan membangun jaringan pasar yang lebih luas.

        Digitalisasi pada akhirnya bukan hanya persoalan menghadirkan website atau menggunakan aplikasi komunikasi, melainkan bagaimana teknologi mendukung koperasi dalam mengelola hubungan usaha, menghubungkan rantai pasok, dan menciptakan manfaat ekonomi yang dapat diukur bagi anggota serta mitranya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Istihanah

        Bagikan Artikel: