Strategi BI Jaga Daya Tarik Aset Rupiah di Tengah Ancaman Kenaikan Bunga The Fed
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Bank Indonesia (BI) menyiapkan strategi untuk menjaga daya tarik aset rupiah di tengah risiko perubahan kebijakan moneter global, termasuk potensi kenaikan suku bunga Amerika Serikat atau The Fed. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah memberikan insentif dengan prinsip “the longer, the higher”.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menjelaskan perubahan suku bunga Amerika Serikat dapat memengaruhi keputusan investor global dalam menempatkan dananya. Ketika suku bunga AS meningkat, investor dapat melakukan repositioning ke aset Amerika yang dinilai lebih menarik.
“Keputusan Amerika menaikkan suku bunga karena melihat inflasinya tinggi. Kemudian investor global repositioning, Amerika lebih menarik, akan terjadi outflow, permintaan terhadap US dollar meningkat,” kata Erwin di Kantor Bank Indonesia, Rabu (30/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah. Tekanan bahkan dapat muncul melalui pasar non-deliverable forward (NDF) sebelum transaksi tersebut sepenuhnya terealisasi di pasar domestik.
“DXY 101 lewat, ketika DXY ini index dolar against mata uang lain, dia memuat kira-kira mata uang lain melemah. NDF melemah, meskipun kita sedang tidur di sini, NDF-nya lepas 18 ribu,” ujarnya dalam taklimat media yang bertemakan Perkembangan Respons Kebijakan Operasi Moneter.
Menghadapi kondisi tersebut, BI merancang insentif untuk mendorong investor asing bertahan lebih lama di aset rupiah. Erwin mengatakan BI ingin investor tidak hanya masuk, tetapi memiliki dorongan untuk stay lebih lama.
Erwin menjelaskan, skema tersebut dirancang agar investor asing tidak hanya masuk ke aset rupiah dalam jangka pendek, tetapi juga terdorong mempertahankan dananya lebih lama. Karena itu, insentif disusun dengan prinsip “the longer, the higher”, yakni semakin panjang durasi investor bertahan, semakin tinggi insentif yang diberikan.
Menurutnya, prinsip the longer, the higher menjadi bagian dari desain insentif untuk membuat investor memiliki alasan mempertahankan investasinya lebih lama. Dengan demikian, kebijakan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menarik modal asing masuk, tetapi juga menjaga agar dana tersebut tidak cepat keluar.
“Kita ingin dia stay lebih lama. Kemudian kenapa ada perbedaan antara DNDF dengan swap. Karena kita sebenarnya lebih prefer kalau mereka itu jual, kemudian cover di swap,” kata Erwin.
Baca Juga: The Fed Naikkan Bunga, Tokocrypto Kasih Peringatan untuk Investor Kripto
Baca Juga: Juda Agung Ungkap Dampak Kenaikan Bunga The Fed ke Utang RI
Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya BI menjaga arus modal asing agar tidak mudah berbalik ketika sentimen global berubah. Erwin sebelumnya menjelaskan sentimen negatif dapat membuat investor melakukan reposisi portofolio, kemudian keluar dari aset Indonesia dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.
Di sisi lain, BI tetap mempertahankan bauran intervensi di pasar valuta asing. Erwin menegaskan BI tidak bisa disimpulkan akan mengurangi intervensi spot karena stabilitas rupiah tetap dijaga melalui berbagai instrumen.
“Jangan pernah punya simpulan bagaimana Bank Indonesia akan mengurangi intervensi spot. Kita tetap komit menjaga stabilitas, dengan bauran intervensi kita, baik itu di spot, di NDF maupun DNDF, dengan dinamika pasar yang ada,” tegasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: