Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Menguat ke Rp17.882 per Dolar AS Terkerek Kebijakan Pro-Market Bank Indonesia

        Rupiah Menguat ke Rp17.882 per Dolar AS Terkerek Kebijakan Pro-Market Bank Indonesia Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Jumat (2/10/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp17.882 atau menguat 84 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.965 per dolar AS.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan penguatan mata uang Garuda didorong oleh kebijakan Bank Indonesia. Bank sentral memperluas surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter. 

        Kebijakan ini, kata Ibrahim, membuka ruang yang lebih besar bagi perbankan untuk mengelola likuiditas sekaligus mendorong aktivitas transaksi surat berharga korporasi di pasar keuangan. 

        "Perluasan tersebut dilakukan dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi sebagai underlying operasi moneter," kata dia kepada wartawan.

        Ibrahim menyebut, kebijakan BI merupakan bagian dari penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar (pro-market) dan terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA). Operasi moneter pro-market memungkinkan kebijakan moneter tidak hanya diarahkan untuk mengelola likuiditas, suku bunga, dan nilai tukar, tetapi juga mendorong aktivitas transaksi di pasar keuangan. 

        Baca Juga: Awal Perdagangan, Rupiah Balik Arah Menguat ke Level Rp17.925 per USD

        Baca Juga: Strategi BI Jaga Daya Tarik Aset Rupiah di Tengah Ancaman Kenaikan Bunga The Fed

        Transmisi kebijakan moneter perlu mengalir melalui pasar uang dan pasar valuta asing agar dapat memengaruhi transaksi serta pembiayaan dunia usaha dan rumah tangga. BI Melalui perluasan underlying ini, perbankan mendapatkan instrumen yang lebih beragam dalam mengelola likuiditasnya. 

        "Di sisi lain, korporasi penerbit surat berharga juga memperoleh dukungan terhadap likuiditas dan aktivitas perdagangan instrumennya di pasar sekunder," kata dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: